“Kali ini saya pencipta hoaks terbaik ternyata, menghebohkan semua negeri,” kata Ratna Sarumpaet dalam jumpa pers di kediamannya, setelah sebelumnya mengaku dianiaya oleh sejumlah orang di Bandung. Melalui pencarian sederhana dengan kata kunci “hoaks ratna sarumpaet”, Google menemukan 10.900.000 hasil dalam waktu kurang dari 1 detik.

Ratna adalah pembikin onar yang piawai. Bukan hanya kali ini rekayasanya menghebohkan publik. 3 Mei 2018, Ratna menyebar kabar bahwa PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dijual oleh Presiden Jokowi kepada pemerintah Tiongkok. Kabar itu langsung disanggah PTDI melalui akun Twitter resminya. 

Pada 5 September 2018, melalui akun Twitter pribadi, Ratna menuliskan cuitan bahwa telah resmi beredar uang kertas pecahan Rp200 ribu. Lagi-lagi, kabar bohong itu bisa dibantah. Bank Indonesia (BI) langsung membantah cuitan Ratna yang terlanjur viral di media sosial tersebut.

Kata hoax, dalam Oxford English Dictionaries, dimengerti sebagai tipuan lucu atau jahat. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks diartikan sebagai kabar bohong. 

Robert Nares mendefinisikan hoaks sebagai ‘perbuatan yang bertujuan mengelabui atau membohongi’, berasal dari kata hocus, mengutip dari buku karangan Thomas Ady, A Candle in the Dark, or a Treatise on the Nature of Witches and Witchcraft (1656). Istilah ini kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada legenda atau desas-desus masyarakat urban. 

Akan tetapi, Jan Harold Brunvard, Profesor Emeritus bahasa Inggris di Universitas Utah berpendapat bahwa mereka tidak cukup memiliki bukti kreasi bahasa yang disengaja dan disahkan dalam arti lelucon. Maka dari itu, istilah hoaks harus digunakan kepada mereka yang secara sadar dan sengaja berusaha untuk mengelabui.

Kabar bohong (hoax) sudah lama ada dan tumbuh di masyarakat. Ia semakin menjadi-jadi seiring dengan hadirnya internet dan media sosial. 

Pada mulanya, hoaks disebarkan secara perorangan dari mulut ke mulut. Penemuan mesin cetak pada abad ke-15 mempercepat distribusi hoaks melalui surat kabar yang diproduksi secara massal dan berbiaya rendah. 

Pada abad ke-20, fabrikasi kebohongan ini tampil dalam bentuk tabloid supermarket yang diedar secara cuma-cuma. Selangkah lebih maju, pada abad ke-21, kecepatan edar sebuah hoaks semakin menjadi-jadi dalam bentuk digital: melalui situs web palsu, pesan elektronik berantai, Facebook, Twitter, hingga Whatsapp.

Sejarah mencatat, hoaks pertama kali tampil pada tahun 1661 dalam kisah Drummer of Tedworth yang ditulis oleh Joseph Glanvill dalam bukunya yang bertajuk Saducismus Triumphatus (1681). Alkisah, seorang tuan tanah lokal, John Mompesson, dihantui suara gebukan drum di rumahnya setiap malam. Hal itu terjadi beberapa waktu setelah ia memenangkan perkara dengan William Drury—seorang drummer band gipsy—di pengadilan.

John Mompesson menuduh bahwa Drury telah melakukan sihir terhadap rumahnya karena dendam akibat kekalahannya di meja pengadilan beberapa waktu silam. Singkatnya, Joseph Glanvill yang mendengar kisah tersebut mendatangi rumah itu dan mengaku bahwa ia mendengar suara-suara sebagaimana Mompesson pernah dengar. 

Dua puluh tahun kemudian, Glanvill menceritakan kejadian itu ke dalam tiga jilid Saducismus Triumphatus dan mengaku bahwa kisah tersebut nyata adanya.

Kehebohan cerita horor lokal tersebut berhasil menaikkan pamor penjualan buku Glanvill. Akan tetapi, pada seri ketiga, secara terang-terangan Glanvill mengakui bahwa apa yang ia nyatakan sebelumnya adalah bohong belaka.

Salah satu hoaks terbesar dalam sejarah juga pernah ada pada tahun 1708. Sebuah alamanak berjudul Predictions for the Year 1708 ditulis oleh Jonathan Swift yang menggunakan nama samaran Isaac Bickerstaff dijual di pasaran London. 

Pada waktu itu, alamanak adalah penanggalan populer yang berisi tentang prediksi kejadian masa yang akan datang. Alamanak ini sesungguhnya adalah bagian dari lelucon April Mop yang meramalkan kematian astrolog terkenal, John Partridge. Dalam alamanak itu, Swift mengarang cerita bahwa Partridge akan meninggal akibat demam hebat pada 29 Maret tepat pukul 23.00 di tahun itu juga.

Kebohongan yang direkayasa Swift telah mengganggu kehidupan Partridge. Agar meyakinkan publik, ia membuat wartamerta palsu tentang Partridge pada hari yang diramal sebagai hari kematiannya. 

Motif Swift menulis alamanak palsu ini sesunguhnya karena apa yang ditulis Partridge sebagai astrolog berlawanan dengan dogma gereja pada waktu itu. Swift menyatakan bahwa Partridge akan mati karena demam sebab Partridge sendiri telah meramalkan bahwa wabah demam akan menyapu London pada awal April 1708. Kebohongan Swift berhasil menjatuhkan pamor Partridge dan memaksanya berhenti sebagai astrolog.

Hoaks: Bagaimana Harus Dipahami? 

Februari 2017, Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) melakukan jajak pendapat guna mengerti gambaran tentang persepsi masyarakat terhadap hoaks, penyebarannya, klasifikasi, dan dampaknya kepada kehidupan berbangsa secara nasional. Jejak pendapat yang dilakukan selama 48 jam yang melibatkan 1.116 responden tersebut menunjukkan bahwa 62% responden menerima kabar bohong dalam bentuk teks, disalurkan dalam media sosial, dan 44% responden mengaku menerimanya setiap hari.

Lebih lanjut, 91% responden menerima kabar bohong tentang isu sosial-politik, 88% soal isu SARA, dan 41% tentang kesehatan. Selebihnya, jenis hoaks yang diterima adalah seputar isu makanan dan minuman, penipuan keuangan, iptek, berita duka, candaan, bencana alam, dan lalu lintas. Hampir seluruh responden (84,5%) menyatakan terganggu dengan maraknya berita hoaks.

Hal tersebut diperkuat oleh penelitian mutakhir MIT Initiative on the Digital Economy Research. Ada kekhawatiran masyarakat dunia bahwa bertebarnya hoaks mampu memengaruhi tingkat kesejahteraan ekonomi, politik, dan sosial. 

Dalam riset yang bertajuk The Sphread of True And False News Online, Soroush Vosoughi dkk coba untuk mengalisis benar atau tidaknya sebuah berita yang tampil di Twitter sepanjang tahun 2006-2017. Hasilnya, hoaks menyebar lebih cepat, lebih dalam, lebih jauh, dan lebih luas dari kebenaran itu sendiri. Sebanyak 126.000 berita telah dikicaukan sebanyak lebih dari 4,5 juta kali dari 3 juta pengguna. 

Sebuah berita tentang isu sosial-politik lebih banyak disorot ketimbang isu tentang terorisme, bencana alam, sains, atau informasi keuangan. Sebuah kabar bohong 70% persen mungkin akan segera dikicau-ulang pengguna Twitter daripada memastikan kebenaran berita itu sendiri. Rangkuman sebuah kabar hoaks dapat menjangkau antara 1.000 hingga 10.000 pengguna, sementara berita yang telah terverifikasi kebenarannya hanya mampu menjangkau tidak lebih dari 1.000.

Dalam sebuah artikel yang berjudul Sphread of Hoax in Social Media: A Report on Empirical Case, Hokky Situngkir coba untuk memotret bagaimana kabar bohong kematian saintis Indonesia, Prof. Yohanes Surya beredar selama dua jam dan menjadi pembicaraan nasional dalam linimasa Twitter (Mei, 2011). 

Argumen utama dalam artikel itu ialah bahwa gosip dan rumor menyebar di jejaring sosial dalam interaksi sosial dan komunikasi. Gosip dan rumor dipandang entitas eksploitasi keberadaan informasi-asimetris yang dianggap subjek sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Dalam beberapa kasus, penyebaran gosip dan rumor dipandang sebagai epidemiologi informasi; menyebar seperti penyakit, dari satu orang ke orang lain, dari satu tempat ke tempat lain. Nyatanya, pemahaman terhadap persebaran hoaks telah membuat kita mengerti bagaimana cara “mengggiring massa” dari pengaruh sosial, keyakinan, dan ekstremisme politik tertentu. 

Sebuah rumor tentang seorang tokoh di Indonesia mampu dibaca lebih dari 50.000 pengguna sebagaimana yang telah dikicaukan oleh 59 aktor sosial yang berbeda kota, dua jam sebelum rumor tersebut benar-benar dinyatakan hoaks. Dalam studi tersebut, seorang pengguna yang memiliki pengikut tidak lebih dari seribu, ketika menguggah pertanyaan apakah seorang figur telah mati, dapat mengubah pertanyaan tersebut menjadi pernyataan simpati dan belasungkawa dari ribuan pengguna hanya dalam hitungan menit.

Hoaks dalam komunitas daring menyebar secara masif, spasial, dan kronologis yang sama sekali berbeda sebagaimana persebaran hoaks dari mulut ke mulut. Selain itu, Twitter sesungguhnya telah menjadi media sosial yang secara kolaboratif memungkinkan pengguna menciptakan realitas kolektif dari kebohongan itu sendiri.

Sepadan dengan klaim bahwa hoaks dibuat oleh Ratna, faktanya, kita jugalah yang seharusnya bertanggung jawab atas distribusi kabar bohong di jagat maya.