Sabtu malam, atau lebih sering disebut malam minggu. Dimana orang-orang bilang itu adalah waktu untuk meluapkan kegembiraan bersama sang pujaan entah itu berbentuk wujud manusia, benda, atau bentuk absurditas yang berada dinaungan memori. Biasanya akan dihabiskan dengan gurau senda atau malah dengan kesenduan yang tiada tara (yang jomblokah?).. Tepat di malam itu aku menggeber knalpot motorku, inginnya bersuka ria mengelilingi kota. Tapi sayang, hujan deras mengguyur Jalan Ringroad Utara, Yogyakarta. 

Lintas yang sering aku lalui dengan riuh rendah asap kendaraan dan juga klakson teguran untuk mereka yang saling memperingatkan. Di lampu merah perjalanan terhenti sejenak dengan butiran air jatuh bebas tanpa beban, pada persimpangan aku mengarah ke arah utara tempat berteduh yang nyaman seperti perempuan dalam pelukan apalagi kalau bukan kos-kosan. 

Enam puluh Lima detik pemberhentian, dibawah atap langit hujan mulai reda dengan dersik menyeruak ke sekujur badan, dinginpun menyelimuti. Ku kukuhkan raga menahan hembusan sepoi-sepoi angin, dengan kekakuan diri rongga-rongga pikiranku terasa membeku seperti pepatah mengatakan ‘sesak berundur-undur, hendak lari malu, hendak menghambat tak lalu’.

Sesampai di ruang teduh, sejenak ku termenung. Pikirku, Ada yang lebih menjengkelkan dari kekakuan diri karena angin yakni hati yang di bombardir rasa rindu yang menggebu. Rindu adalah makhluk yang menjengkelkan, hadirnya tiba-tiba, mengganggu, dan tentunya tidak tepat waktu, Apalagi dengan seseorang yang untuk menyebut namanya saja kita malu-malu. 

Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan yang sangat kompleks, perasaan bisa dibilang sama halnya dengan sifat-sifat manusia. Ah apa ini bisa menjurus ke definisi rindu itu sendiri kawan?

Sedikit aku berbagi makna rindu, setelah ini kembali kepada mereka yang punya diri mau dijadikan apa, itu pilihan. Entah jadi bingkisan dalam salam manis atau jadi pesan melalui doa-doa yang dihanturkan lebih dari hembusan nafas. Apa ya rindu itu? Secara ilmiah, aku belum menemukan penjelasan yang memuaskan hati dan mengenyangkan logika bak repetisi-repetisi dalam lembaran halaman buku yang dicantumkan. 

Apa barangkali rindu memang sesuatu yang belum diempiriskan atau belum diperoleh penemuannya?! Tapi ia bisa dirasakan, kata aneh mungkin cocok disandingkan dengan kata rindu itu sendiri. Sembari menunggu para cendekiawan mempublikasikan makna rindu tersebut, bolehlah kita memaknai rindu ini dengan kalimat-kalimat kita.

Rindu adalah gumpalan rasa pada perasaan, sehingga membuat ketidakseimbangan pada hati akibat ada bagian yang tidak rata. Seperti timpang maka dari itu dibutuhkannya penyelaras untuk seimbang, tetapi dalam rindu sering kali yang tampak hanyalah yang baik-baik. Menjengkelkan bukan?!. Seolah-olah pikiran menjadi tumpul dengan tidak bisanya membedakan baik dan buruk rasa yang dialami. Kalau itupun kenakalan entah dipikiran atau pada perilaku, pastilah kenakalan yang menyenangkan.

Hidup tidak lepas dari konflik, termasuk konflik batin salah satunya makhluk yang bernama rindu ini. Tentang penyelesaian konflik tergantung bagaimana seorang insan memberi sikap dengan landasan keadilan untuk dirinya dan untuk orang lain, rasa rindu merupakan masalah bila tidak faham secara kaffah mengenai apa makna dan ke mana tujuan dari rasa rindu. 

Tentang rindu, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin meyampaikan bahwa ‘Rindu adalah pengaruh sekaligus hukum cinta yang merupakan perjalanan hati menuju kekasih dalam keadaan bagaimanapun’. Apabila boleh menarik sedikit argumentasi dari diksi-diksi pengertian rindu diatas terdapat kaidah dan pembawaan dari suatu hal yang memunculkan rasa rindu itu sendiri. Untuk lebih lanjut Ibnu Qoyyim menambahkan dalam kitab yang sama bahwa ‘rindu adalah anak turun cinta, sebab rindu muncul dari cinta’. 

Oleh karena itu ketika kita sedang ada perasaan dengan seseorang, kita akan merasa ketimpangan dengan ketiadaannya. Terasa ada yang merongrong kastel yang dibangun kokoh untuk menahan serangan segala bentuk perasaan termasuk rindu.  Itulah dasarnya karena induk dari rindu adalah cinta, semakin besar cinta semakin besar pula rasa rindu yang tumbuh. Bagian siapa yang di cinta saya menekankan pada sesama makhluk untuk tidak boleh lebih rasa cinta itu kecuali kepada Maha cinta kasih Tuhan Semesta Alam.

Berbicara perasaan yang timpang karena ketiadaan seseorang, menimbulkan pertanyaan ‘apakah bertemu bisa menjadi penawarnya ?’, dari saya memberikan jawaban bisa iya, bisa juga tidak. Untuk jawaban iya, saya memakai kutipan dari Genta Kiswara dalam bukunya yang berjudul Nelangsa yakni ‘Dimana lagi engkau mau ku temu,jika tidak didalam rindu’ Begitulah kira-kira bunyi dari kutipan tersebut, bertemulah didalam rindu itu sendiri hingga menemukan dimensi baru untuk meluapkan rasa rindu yang  besar pada palung hati yang paling dalam. 

Dan untuk jawaban tidak, obat rindu adalah berdoa dan menyerahkan pada Ya muqalibal qulub (Maha membolak balikkan hati), karena bila rindu membuat hati kita timpang, biar Tuhan yang datang menyeimbangkan. Jangan sampai rasa rindu yang menggebu ini, mengalihkan ingatan kita kepada Maha Pencipta.

Sekian relung malam dariku, untuk orang-orang baik dengan iman akan bahagia. Orang melakukan sebaik apa yang dipercaya, menjadi sekuat harapan dengan apa yang dirawat, dan tumbuh sebanyak yang diakui atas kemanusiaan dalam semesta.

Sumber Kutipan : Kitab Madarijus Salikin