2 tahun lalu · 42802 view · 5 menit baca · Agama kisah-inspiratif-islami-suami-istri.jpg

Kisah Wanita Alim Pelanggan Katering Ibu

Anda bisa menganggap kisah ini didasari sebuah kisah nyata, atau hanya sesuatu yang bersifat fiktif. Nama-nama pada kisah ini fiktif, itu saya jamin. Namun kisahnya, itu keputusan Anda. Saya hanya ingin berkisah, tidak lebih dari itu. Karena pada hakikatnya, apa yang akan saya kisahkan mungkin cukup umum di lingkungan kita, tetapi dalam bentuk yang Bhinneka Tunggal Ika; beda kasusnya, sama jenis sifatnya.

Ibu pernah menjalankan bisnis katering. Ibu mulai dengan menyebarkan pesan singkat tentang menu masakannya melalui Whatsapp kenalan-kenalannya yang merupakan orangtua di sekolah adik saya yang masih SMP dan beberapa tetangga yang kami kenal dekat.

Salah satu orang tua adik saya akhirnya mengenalkan Ibu kepada seorang tokoh ibu-ibu pengajian, sebut saja namanya Bu Zaenab, orang blok sebelah yang sedang perlu jasa katering. Tertarik untuk melihat orangnya bagaimana, Ibu melihat profil Whatsapp-nya setelah kontaknya diberikan. Dan betapa Ibu kaget melihat gambar profil Bu Zaenab.

Gambar tersebut adalah hasil screenshot sebuah berita di salah satu media online islami. Judul dari berita tersebut menyatakan keberhasilan seorang muslimah Indonesia mengislamkan belasan warga di sebuah negara benua Eropa.

Ibu langsung menyuruh saya mencari judul berita tersebut di Google, dan hasil yang saya dapatkan menceritakan seorang wanita bernama Zaenab yang tinggal di negara tersebut selama tiga tahun, dan dalam rentang tersebut beliau sudah mengislamkan belasan warganegaranya. Ibu sempat gugup, tapi tetap memberanikan diri untuk mengenalkan diri dan jasanya.

Bu Zaenab adalah orang yang ramah. Beliau menjawab pesan Ibu dengan istilah-istilah berbahasa Arab, dan emoticon bunga-bungaan dan cinta. Beliau rupanya salah satu orang tua murid di sekolah adik saya, dan anaknya hanya satu kelas di bawah adik.

Zaenab memesan menu makan siang untuk keesokan hari yang terdiri dari rendang, tumis kacang panjang, dan bakwan jagung. Singkat cerita, saya pun mengantarkan masakan tersebut ke rumahnya. Yang menyambut saya adalah suaminya. Sama seperti Bu Zaenab, cara berbicaranya sangat ramah dan sejuk.

Malamnya, Bu Zaenab memberi pesan Whatsapp kepada Ibu menyatakan bahwa masakannya sedap sekali. Masakan itu dimakannya untuk beliau dan suaminya, karena selanjutnya Bu Zaenab mengatakan bahwa ketiga anaknya tidak menyukai masakan rumah dan hanya mau makan sosis, nugget, telur mata sapi, atau masakan barat.

Karena kesedapan masakan Ibu, beliau berencana untuk berlangganan katering dengan menu-menu yang sudah ditentukan oleh Ibu. Seiring berjalannya percakapan, rupanya Bu Zaenab cepat merasa dekat dengan Ibu. Beliau pun mulai menceritakan berbagai curhatnya.

Salah satu curhatannya adalah bagaimana beliau merasa tidak puas dengan komite sekolah tempat anaknya—dan adik saya—belajar.

Pasalnya, Bu Zaenab menganggap komite sekolah sebagai salah satu tempat untuk menggojlok keislaman siswa dan orang tua murid, sedangkan beliau tidak melihat adanya tanda-tanda tersebut ada di komite sekolah anaknya. Salah satu tanda tersebut, beliau berpendapat, adalah kacaunya sistem organisasi Rohani Islam (Rohis) sekolah itu. Rohis di bawah bimbingan Pak Abdurrahman—guru agama sekolah—beliau anggap masih kurang islami.

“Maka itu, Bu. Saya usulkan suami saya untuk menjadi pembina baru Rohis di rapat komite sekolah, juga diri saya sebagai pengasuh siswi-siswi muslimah. Tapi Bu, Ya Allah, orang-orang komite itu malah bilang saya hanya mau populer. Astaghfirullahaladzim, semoga kita terlindung dari orang-orang yang su’udzon ya bu,” begitu pesannya di Whatsapp yang sempat saya baca di gawai Ibu.

Beliau lalu melanjutkan bahwa dalam hal keislaman, dirinya dan suaminya sudah kawakan dibanding dengan orang-orang komite yang dianggapnya hanya sekadar main-main. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan besar, dan beliau sekeluarga sudah mengelilingi tujuh negara.

Ibu pun bertanya tentang kebenaran berita dirinya sudah mengislamkan orang Eropa, dan beliau membenarkannya. Dirinya dan suaminya kerap menjadi pembicara dalam hal keislaman di kalangan orang-orang Indonesia di sana, juga muslimin dan muslimat. Atas alasan itulah, beliau merasa dirinya dan suaminya sepatutnya bisa menjadi ikon penggerak keislaman di sekolah anaknya.

Pernah juga suatu kali, beliau merasa kesal dengan sekolah. Masalahnya saat itu adalah sekolah sedang mengadakan seleksi untuk mengikuti sebuah lomba di luar sekolah pada bidang keilmuan.

Anak tertua Bu Zaenab yang satu kelas di bawah adik saya itu, Arifin namanya, didaku beliau sebagai anak yang cerdas baik di bidang ilmu pasti dan bahasa asing (dalam hal ini Inggris). Maka, beliau pun mendaftarkannya untuk ikut olimpiade sains dan lomba bercerita bahasa Inggris. Dan ketika beliau tahu bahwa anaknya tidak lulus seleksi, beliau benar-benar kecewa dengan sekolah.

“Arifin itu anak pandai, Bu! Saya tahu kemampuannya. Lagipula, Ibu tahu siapa yang terpilih? Rafika, anaknya ketua komite sekolah! Padahal kata Arifin, dia tidak melihat Rafika ikut seleksi. Saya sampai bilang ke panitia untuk memasukkan anak saya, dan segala biayanya saya tanggung. Tapi panitia tidak mengizinkan. Subhanallah... semoga Allah menunjukkan kekuasaan-Nya ya Bu,” tulisnya di pesan Whatsapp-nya.

Satu hal lagi adalah Bu Zaenab itu super sibuk. Ibu kerap kewalahan menghadapi pesanannya yang tiba-tiba datang, dan kadang merasa kesal karena jika ada pesan penting yang dikirimkannya melalui Whatsapp, perlu waktu yang lama untuk menunggu jawaban beliau padahal jika dilihat, beliau sedang online. Kadang, pesan Ibu hanya di-seen dan baru di balas beberapa jam setelah itu. Alasannya adalah beliau aktif dalam berbagai kegiatan islami dan kadang menyusui anak bungsunya yang masih bayi.

Pernah suatu kali beliau memesan bekal untuk Arifin. Namun, sorenya adik saya lupa menjemput kotak makanannya. Saat itu hari Jum’at, dan kotak makanan baru diberikan pada Senin pagi karena Sabtu dan Minggu mereka berlibur. Kotak makanan rupanya belum dicuci.

Ibu pun berpesan kepada Bu Zaenab supaya Arifin mengembalikan kotak makanannya sebelum malam jika pada sorenya adik tidak sempat ke rumahnya, dan kalau bisa sudah dicuci. Untuk yang pertama Bu Zaenab menyanggupi, namun untuk yang kedua beliau mengatakan bahwa dirinya tidak tega menyuruh anak mencuci piring atau kotak makanannya sendiri. Tetapi beliau akan menyampaikan hal itu kepada pembantunya.

Beberapa hari setelah itu, adik saya pun pergi mengambil kotak makan ke rumah Arifin agak sebelum maghrib tiba. Tetapi ia kembali dengan wajah kusut dan mengatakan bahwa ia disambut oleh adik Arifin yang berumur tujuh tahun, dan ia bilang bahwa di rumah hanya ada dirinya dan pembantu.

Keduanya tidak tahu kotak makanan yang dimaksud, dan menyarankan untuk langsung bicara ke Arifin. Kontan Ibu saya langsung mengirim pesan ke Bu Zaenab. Malamnya, sekitar pukul 10, Ibu mendapatkan pesan dari beliau.

“Duh Maaf Bu... saya tadi lagi di mall bersilaturahim dengan salah satu ustadzah yang saya kenal di Eropa dan sekalian maghriban bareng. Arifin tadi lagi tidur di rumah, nggak tega saya bangunin... besok pagi Arifin antar kotaknya ya Bu...”

Keesokannya, Arifin datang membawa kotak makanan yang belum dicuci.