17 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2000, merupakan kisah kelam yang selalu terbayang di memori saya beserta keluarga. Usia saya yang kala itu belum mencapai setahun, membuat saya belum merasakan penderitaan moril yang dialami oleh keluarga saya.   

Rasa pahit bak empedu telah dirasakan oleh keluarga besar saya. Kehilangan rumah, pekerjaan, dan harta benda berharga lainnya adalah sebuah mimpi buruk yang tidak ingin dialami oleh siapapun. Namun, saya tetap bersyukur dikarenakan tidak ada satupun korban jiwa yang berasal dari keluarga besar saya.

Nasib baik mungkin masih berpihak kepada saya dan keluarga. Tapi tidak untuk sebagian korban lainnya yang menjadi saksi bisu konflik berdarah di tanah kelahiran saya. Mereka harus rela kehilangan sebagian keluarga mereka yang menjadi korban amarah masyarakat.

Berpindah dari satu tempat ke tempat lain adalah kegiatan rutin yang kami lakukan agar dapat terhindar dari perlakuan keji yang tidak lagi menjadi rasa takut pembela masing-masing kaum. Mengungsi adalah cara yang paling tepat agar dapat memastikan diri aman dan selamat dari pertikaian dua agama.

Rasa takut, gelisah, sedih, bercampur aduk, mengiris jiwa keluarga saya dan korban lainnya. Tangisan seakan-akan menjadi hiburan yang dapat menetralisir semuanya.

Memotong serta membakar adalah tindakan yang dilakukan untuk saling melenyapkan satu sama lain, seakan-akan nyawa tak ada harganya. Rumah Warga, Rumah Ibadah, menjadi sasaran empuk yang dijadikan lahan pembalasan.

Pertikaian yang terjadi diatara kedua agama yaitu Islam dan Kristen, bermula ketika pemilihan bupati pada bulan Desember 1998, dimana terjadi kisruh keagamaan pada pemilihan tersebut. Konflik pun terus berkembang hingga bulan April dan menembus puncak pada bulan Mei hingga Juni tahun 2000.

Konflik pada bulan Desember 1998 dan April 2000, merupakan konflik yang dipicu oleh peperangan pemuda antar kampung yang beragama Islam dan Kristen. Hingga muncul konflik yang berkelanjutan pada bulan Mei hingga Juni yang merupakan ajang balas dendam umat Kristen terhadap serangan umat Islam yang mendominasi pada konflik-konflik sebelumnya.

Konflik pada bulan April diawali oleh pemuda Muslim yang mengklaim telah diserang oleh pemuda Kristen dengan menunjukkan bukti luka pada lengannya. Pihak Islam pun bergerak dan membalas serangan, sehingga terjadilah pertarungan antar kelurahan mayoritas Islam dan kelurahan mayoritas Kristen yang menyebabkan kekerasan yang meluas.

Peperangan diantara kedua agama yang sempat mereda, kembali memuncak ketika terjadi pembalasan dendam oleh umat Kristen kepada umat Muslim pada bulan Mei 2000.

Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. 

Sungguh tragis, pemuda yang selalu dibanggakan oleh ‘’Sang Proklamator’’ Ir. Soekarno di kutipan katanya yang begitu inspiratif, seakan ternodai oleh tragedi besar yang merenggut banyak nyawa pada konflik Poso tahun 2000.

Kutipan kata ‘’Berikan 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia’’, benar-benar terjadi dalam praktik yang bernuansa negatif.

Kata ‘’mengguncangkan dunia’’ yang dipakai oleh mantan Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno seharusnya bermakna sebuah perubahan Indonesia yang akan terjadi di masa mendatang lewat perantara pemuda-pemuda Indonesia, berupa perubahan bidang sosial, politik, dan budaya, yang akan membawa Negara Kesatuan Republik Indonesia kearah yang lebih baik.

Pemuda juga dipilih karena dipercaya memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dibandingkan orang tua dalam hal sebuah revolusi Negara kearah yang lebih baik.

Namun sebaliknya, yang terjadi pada konflik berdarah Poso pada tahun 2000. Pemuda yang begitu dibanggakan dengan kekuatannya untuk perubahan yang lebih baik, justru membawa perubahan  kedalam jurang kekacauan.

Bukan hanya pemuda Indonesia yang membawa kisah tragis pada konflik beda agama yang terjadi di Poso. Kisah tragis lainnya saya dapatkan ketika saya beserta keluarga berkunjung ke kampung halaman yang membawa memori kelam kepada saya dan keluarga.

Genap 10 tahun, saya kembali berkunjung ke kota pertumpahan darah tersebut. Ini kedua kalinya saya berkunjung ke tanah kelahiran saya setelah konflik yang terjadi beberapa tahun silam.

Perjalanan panjang yang saya lalui beserta keluarga, seakan terbayar oleh pemandangan Kota Poso yang terlihat di depan mata. Senyum pun terpancar di wajah saya yang kembali melihat serta menghirup udara tanah kelahiran saya.

Namun, senyum lebar saya sedikit demi sedikit mengerucut ketika merasakan suasana intoleransi yang begitu kuat di kota tersebut. Suasana intoleransi mulai saya hirup ketika perjalanan menuju desa tempat keluarga saya tinggal.

Suasana tersebut saya lihat ketika melintasi wilayah ke wilayah yang lain. Dimana, wilayah yang terdapat beberapa Masjid, tidak terdapat satupun Gereja. Begitupun sebaliknya, wilayah yang terdapat beberapa Gereja, tidak terdapat satupun Masjid.

Lain halnya ketika saya berkunjung ke daerah yang lain. Dimana, tak langka didapatkan Masjid dan Gereja yang saling berdampingan. Namun, hal itu tidak saya dapatkan ketika berkunjung ke Kota Poso, kota yang menurut saya begitu indah dan selalu saya banggakan selama ini.

Konflik yang terjadi beberapa tahun silam, seharusnya telah menjadi sejarah dan masa lalu yang kiranya tidak lagi diterapkan dalam intoleransi yang terus berlarut-larut hingga sekarang.

Konflik masa lalu tidak seharusnya dilanjutkan dengan konflik berupa rasa saling benci  dan tidak ingin saling menyatu dalam perbedaan.

Kisah tragis yang saya dapatkan, seakan menyadarkan dan mengingatkan saya arti penting sebuah persatuan dan kesatuan. ‘’Bhineka Tunggal Ika’’, berbeda-beda tetapi tetap satu adalah salah satu semboyan Negara kita.

Negara Indonesia yang dianugerahi berbagai macam agama seharusnya dapat kita lestarikan. Hidup dalam sebuah perbedaan patut kita syukuri karena dari situlah kita dapat belajar tentang arti penting kasih sayang antar sesama dalam sebuah perbedaan.

Perpecahan yang terjadi di Kota Poso adalah salah satu bukti lemahnya persatuan dalam kehidupan beragama di Negara kita.

Janganlah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk tidak bersatu dan jangan pula menjadikan dendam masa lalu sebagai alat untuk berpisah.

Dari kisah ini, patutnya menjadi cambukan bagi kita agar saling menerima perbedaan satu sama lain. Dari kisah ini pula saya berharap, tidak ada lagi Kota Poso yang lain.