Langkah demi langkah kutapaki jalan ini, menyusuri lorong sepi di pinggiran kota yang kumuh lagi tercemari. Malam masih panjang di kotaku, karena di kota ini, manusia menempa raga dalam waktu, demi sebutir beras untuk menahan lapar dalam sendu. Menitikkan keringat demi selembar kebahagiaan ( palsu ).

Semua yang kau jumpa di kota ini hanyalah fana, yang tak pernah punya wujud nyata, kecuali dalam artian sebenarnya. Manusia bermuka dua. Itulah yang selalu kutemui dalam setiap waktuku yang hampa. Mengitariku dengan senyuman penuh dusta.

Cinta adalah hal yang tabu di kota ini, karena kebusukan kota ini yang sudah menghapusnya perlahan dari muka bumi. Terhempas dan dilupakan oleh hati. Cinta bagai kisah dongeng masa lalu yang dianggap sebagai pemanis mimpi.

Aku pun adalah korban dari cinta palsu itu, yang kini sudah amat hina dan ternodai dalam parau. Tersiksa setengah mampus di sukmaku. Tangisan air mata sekalipun tak mampu redamkan pahit dalam kalbu. Aku hanya bisa pasrah seperti serpihan debu.

Ingin kusalahkan takdir hidupku ini, yang membawaku menjadi makhluk yang amat hina dan tak pantas mendapatkan hak manusiawi. Membuatku terhempas dan terombang-ambing dalam samudra luas tanpa bisa berbuat sesuatu yang berarti.

Perahu mana lagi yang bisa kutumpangi? Sedangkan, aku ini adalah penumpang yang berpenyakit kusta yang bahkan kalian pun jijik untuk menyentuhku. Jangankan menyentuhku, memandang pun kalian tak sudi. Sepertinya hanya ajal yang sudi merangkul diriku dalam sendiri.

Ke mana lagi aku harus bersandar? Jika aku sendiri tidak pernah berkenan di hati kalian, yang mana selalu membuatku mengelus dada dengan sabar. Kalian makhluk suci yang berhati besar. Setidaknya, pernahkah kalian mengecap barang sedikit apa yang selalu kurasa dalam hidupku yang hambar.

Bersandar kepada sang Maha pencipta saja sudah tak diperbolehkan! Jangankan bersandar, mengucap namanya saja sudah dikutuk aku oleh bermacam-macam hujatan yang bahkan kotoran anjing pun masih lebih baik. Hina dina. Namun, setidaknya Dia masih bisa mendengar suara hati ini. Semoga.

Orang sepertiku tak akan pernah lekang oleh waktu, karena orang macam diriku inilah yang akan menjadi pelampiasan kalian, dan akan selalu saja begitu tanpa pernah habis di makan zaman.

Setidaknya satu hari saja dalam seumur hidupku, aku merasakan apa yang kalian rasakan dalam sepanjang umurku yang semu, yang harapan pun telah pupus menjadi debu.

Aku ingin kebahagiaan yang dulu pernah menaungi ku dengan teduh, membuat ku nyaman saat diriku rapuh. Tenang. Membuat ku bahagia walau hanya terasa dalam bayangan semu.

***

“Jika kau mati, apa permintaan terakhirmu?” setitik cahaya itu tiba-tiba bertanya seperti itu, yang entah darimana asalnya, antah berantahnya. Aku hanya sedikit terperangah, mungkin karena pandanganku yang mulai kabur dan tak mulai jelas, tapi sekilas kulihat sepasang sayap nan elok terpasang di bahunya.

Apa ini yang mereka katakan “Malaikat?” Entahlah, aku pun tak pernah tau. Angin mulai berhembus kencang dam menyelimuti malam. Mataku bertambah kabur dalam pandangan, kecuali makhluk bersayap itu, yang tetap saja jelas dalam pandanganku yang terbatas.

“Jika kau mati, apa permintaan terakhirmu?” ia mulai bertanya lagi.

“Aku hanya ingin Dia menerimaku, tanpa memandang apapun status ku” ucapku begitu saja keluar dari bibir ini, yang secara tak sadar semuanya keluar begitu saja.

“Jika kau mati, apa permintaan terakhirmu?” ia ulang lagi untuk ke tiga kalinya.

“Cukup, itu saja yang kupinta” aku ucapkan dengan amat tertatih. Perlahan demi perlahan, “Makhluk” bercahaya itu mulai menghilang dalam kegelapan, dan pandanganku mulai mengadah kebawah dan melihat sesosok anjing. Iya, itu benar anjing.

Anjing itu nampak kehausan, terlihat dari raut muka dan lidahnya yang menjulur meneteskan liur perlahan. Aku pun tak tega melihat anjing itu nampak tersiksa. Walau hanya anjing, dia juga makhluk hidup yang bisa merasakan rasa seperti kita.

Aku pun juga sangat kehausan, tapi saat ku tengok tas ku, hanya tersisa botol air untuk beberapa tegukan.

“Anjing, minumlah walau seteguk” aku ulurkan kepada si anjing botol ku, “kau lebih membutuhkan” kutegukkan semua air hingga tak tersisa dan hampa. Lahap sekali anjing itu meneguknya, seperti musafir yang telah lama tertahan di gurun penyiksaan.

Aku pandangi lamat-lamat, air habis dalam satu teguk yang khidmat. Makin kering nya isi botol ku, begitu pula dengan pandanganku yang mulai sendu. Kabur dengan pemandangan.

Cahaya itu muncul kembali, tetapi kini lebih terang dari yang tadi, dan sekarang dia julurkan tangannya kepadaku. Meraih ku pelan. Membawa ku pergi ke atas dengan genggaman penuh kesejukan.

Semoga memang harap ku.

***

Esoknya, seorang wanita muda ditemukan terbaring kaku di tengah jalan. Ia mati. Mati dengan seekor anjing yang tidur dalam pelukanya. Mirisnya, warga sekitar mengenalinya sebagai seorang pelacur. Pelacur kelas kakap. Namun, hanya satu yang mereka tak ketahui.

Setidaknya, ada kisah yang menyatakan bahwa wanita itu bahagia saat ajalnya, dan dirangkul oleh “sebuah” cahaya.

Apakah ia masuk surga? Entahlah, aku bukan Tuhan kawan. Hahaha.