Sewaktu jomblo, ibu saya selalu memberi nasehat bahwa jodoh itu tak perlu dicari. Jodoh, kata ibu saya, sama dengan kematian. Kalau sudah waktunya, kita tidak akan bisa menolak. Itu pandangan yang seringkali ibu saya sampaikan ketika berbicara soal cinta dan upaya mencari pasangan.

Sebagai orang yang menekuni dunia teologi, saya tidak setuju dengan pandangan itu. Menurut saya, ketika itu, jodoh adalah sesuatu yang bisa diupayakan (amrun muktasab). Kendati segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan, tapi kita, sebagai manusia, bisa berperan sebagai sosok yang mengupayakan (muktasib) dan menentukan pilihan.

Kalau Anda mau menikah, maka Anda harus mencari jodoh Anda sendiri. Kalau Anda mau jodoh yang baik, maka Anda harus belajar memperbaiki diri Anda sendiri. Alhasil, jodoh Anda ditentukan oleh upaya Anda sendiri. Jodoh Anda adalah cerminan dari diri Anda. Itulah pandangan yang saya anut ketika saya masih berstatus jomblo.

Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan saya mulai mengoreksi lagi pandangan itu. Setelah direnungkan dengan seksama, pandangan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak seutuhnya salah.

Pada akhirnya, setelah menikah, saya “dipaksa” untuk mengamini kebenaran pandangan ibu saya. Bahwa jodoh itu sama dengan kematian. Ya, secara lahiriah Anda bisa memilih, tapi pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan pilihan. Perjumpaan saya dengan isteri adalah bukti yang terang benderang untuk meneguhkan pandangan itu.

Saya tidak pernah mengenal isteri saya. Baik melalui dunia nyata maupun melalui dunia maya. Namun, di kemudian hari, saya dikenalkan oleh adiknya. Adiknya adalah adik kelas saya sewaktu di Kairo.

Dengan adiknya pun, saya tidak kenal begitu dekat. Hanya pernah bertemu sekitar dua sampai tiga kali. Singkat cerita, adiknya mengirim pesan pribadi via whatsApp. Saya tidak begitu ingat persis pesan panjang yang pernah dia kirim itu. Yang jelas, inti pesannya ialah mengenalkan kakaknya kepada saya.

Dia bilang, kalau dia punya pesantren, dan dia diminta oleh ayahnya untuk mencarikan pasangan yang pas untuk putri kesayangannya. Waktu itu saya masih di kampung nenek saya, di Sukabumi. Kurang lebih 40 hari saya bermukim di sana. Pesan darinya saya terima persis satu hari sebelum saya balik ke Tangerang.

Berangkat jam 9 malam, sampai jam 4 subuh. Setelah salat, saya istirahat. Bangun tidur saya sudah menerima pesan dari ayahnya. Melalui pesan itu, saya diajak untuk bersilaturrahim. Tanpa banyak pikir, setelah salat istikharah sebanyak dua rakaat, siangnya saya langsung meluncur ke tempat tujuan. Dengan diantar oleh salah seorang teman dekat saya waktu mondok di Babus Salam.

Sampai di rumah saya disambut dengan hangat. Ayahnya sangat ramah, asyik dan nyaman diajak bicara. Saya sangat merasa nyaman ketika berbicara dengan orang tua berusia 58 tahun itu. Begitu juga dengan ibunya. Keduanya benar-benar membuat saya tertarik.

Beberapa saat setelah itu saya diajak makan bersama keluarganya ke Tanjung Kait. Sebelum berangkat, ayahnya sempat bilang: “Ini Faizah.” Perempuan yang sempat saya lihat di foto itu akhirnya keluar. Sambil berdiri dari tempat duduk, saya cuma menimpal, “oh, namanya Faizah pak ya?” “Iya”. Kata ayahnya.

Kebetulan memang waktu itu saya belum tahu nama perempuan yang dikenalkan oleh adik kelas saya itu. Tidak ada pembicaraan khusus antara saya dengan Faizah di rumah makan itu. Hanya ada satu pertanyaan yang saya sampaikan, “loh, si mbanya nggak makan?”. Selebihnya saya hanya bicara panjang lebar dengan kakaknya, yang lulusan Madinah.

Selepas dari rumah makan, kita pulang kerumah. Dan di tengah perjalanan itulah terjadi obrolan serius antara saya dengan keluarga Faizah. Sampai di rumah kita ngobrol lagi, sampai sekitar jam 9 malam. Setelah itu pulang. Keesokan harinya, saya mendapatkan pesan dari adik kelas saya, kalau ayah dan ibunya sudah jatuh hati sama saya.

Entah benar atau tidak, yang jelas saya cukup heran dengan apa yang dia utarakan itu. Mana mungkin, pikir saya, orang baru kenal satu hari langsung jatuh hati.

Tapi, memang, pada akhirnya, dari pertemuan singkat itu, kedua orang tuanya sudah mengutarakan kata setuju. Saya, ketika itu, belum sepenuhnya yakin, kalau putrinya itu adalah jodoh saya. Saya masih meraba-raba takdir saya sendiri. Di keesokan harinya saya berkenalan langsung dengan putrinya, dengan perkenalan yang sangat terbatas.

Perkenalan kami, sampai resmi menikah, tidak sampai empat bulan. Hanya tiga bulan lebih beberapa hari. Pertama kali bertemu tanggal 17 November 2019. Menikah pada tanggal 7 Maret 2020. Tapi, uniknya, di tengah perkenalan yang singkat itu, tiba-tiba saya menjadi yakin. Yakni bahwa Faizah adalah sosok yang tepat untuk mendampingi hidup saya.

Dari mana asal muasal keyakinan itu mendarat? Setiap kali saya melewati masa-masa penting dalam perkenalan, saya selalu salat istikharah. Dalam salat saya minta, ya Allah, kalau memang dia jodoh saya, dekatkan dan mudahkan. Tapi kalau bukan, mohon jauhkan. Karena ketika itu saya masih bimbang, antara menerima dan tidak melanjutkan.

Dan, uniknya lagi, hampir dalam setiap tahapan yang saya lewati, dari mulai perkenalan saya dengan orang tuanya, perkenalan keluarga dengan keluarga, perkenalan Faizah dengan ibu saya, perkenalan Faizah dengan keluarga saya di kampung, dan tahapan-tahapan lainnya, hampir semuanya diberikan kemudahan seolah-olah jalan menuju pernikahan semakin terbuka lebar.

Ibu saya, yang biasanya menolak untuk menikahkan saya, dan lebih menganjurkan untuk melanjutkan sekolah, tiba-tiba setuju. Padahal, ibu saya sendiri baru bertemu dengan Faizah satu kali. Hanya dengan bertemu satu kali, ibu saya sudah langsung setuju. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat saya yakin dan mantap untuk mengambil pilihan itu.

Mungkin, pikir saya, inilah yang namanya jodoh. Tidak direncanakan tapi datang dalam waktu yang sudah ditentukan. Dengan perkenalan yang singkat, saya dan Faizah (di rumah biasa dipanggil Lia) akhirnya berikrar untuk hidup berdua sepanjang hayat. Saya merasa, Faizah adalah pemberian terbaik. Kedatangannya di luar dugaan, dan saya berjodoh dengannya setelah berkali-kali meminta petunjuk kepada Tuhan.

Setiap kemudahan yang saya terima, saya anggap sebagai “restu” dari Tuhan yang Mahakuasa. Kalau Anda bingung untuk menentukan apakah sosok yang Anda cintai itu jodoh Anda atau bukan, pesan saya, mintalah petunjuk kepada Tuhan. Kalau jalan kemudahan terbuka lebar, berarti dia jodoh Anda. Kalau tidak, lebih baik Anda cari jodoh yang lain. Tidak perlu memaksakan kehendak.

Meskipun terajut dari perkenalan yang singkat, sampai sekarang saya tidak menyesal menikah dengan Faizah. Tidak ada hal-hal “mengagetkan” yang saya lihat dari kepribadiannya. Faizah adalah berlian yang terjatuh di tengah lamunan. Dia adalah wanita yang selama ini menari-nari di dalam impian.

Kalau Anda menjejerkan seluruh wanita Asia Tenggara, Eropa dan Timur Tengah di pinggiran jalan, lalu kemudian di tengah barisan itu berdiri seorang Faizah, niscaya pilihan saya hanya akan terjatuh pada orang itu. Selamat ulang tahun, Faizah, semoga kelak kita bisa menyongsong kehidupan yang jauh lebih cerah!