Tak kenal lelah dan rasa bosan dalam menjalani profesinya. Wajah yang sayu mengambarkan betapa lelah ia menjalani kehidupan. Tubuhnya tinggi dan kurus, rambut yang sudah memutih jelas mencerminkan usia senjanya. Di usia senja, ia tetap harus bekerja keras menghidupi keluarga tercinta. 

Namanya Tasrifin, ia merupakan warga Pekanbaru Riau. Nama Tasrifin di daerah tempat tinggalnya lebih dikenal dengan panggilan ayah Tika, karena Tika nama anak pertamanya. Nasib yang beiringan dengan keahlian yang ia punya sejak lajang telah menghantarkan nya kepada profesi yang dikenal 5 waktu dalam agama Islam.

Marbot masjid merupakan salah satu pekerjaan sangat mulia dengan tanggung jawab yang besar sebab menyangkut kemaslahatan umat muslim. Bekerja sebagai marbot telah ia lakoni sejak tahun 1995.  Selama itulah ia selalu bekerja dengan giat, tulus, dan  sabar dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Kegiatan sehari-hari Tasrifin sebagai marbot yaitu menjaga waktu sholat wajib, mengumandangkan adzan iqamah setiap shalat fardhu, menjadi imam, menjaga kebersihan masjid dari menyapu, mengepel lantai, membersihkan pekarangan masjid, ikut kegiatan sosial seperti menjadi tukang gali kubur, dan menjadi pemuka agama.

Selain menjalankan tanggung jawab sebagai marbot, kegiatan sehari-hari Tasrifin juga mengantar jemput anaknya pergi dan pulang sekolah, membantu sang istri tercinta berjualan kue basah di depan rumah, memberi makan ayam beras miliknya yang hanya beberapa ekor saja.

Dari pekerjaan inilah ia dapat menghidupi keluarga meski tak pernah cukup memenuhi standar hidup sederhana. Kini ia telah berusia 60 tahun, memiliki satu orang istri dan empat orang anak. Kegigihan dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaan patut diacungi jempol.

Gaji sebagai marbot tidaklah cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan profesi itu menuntutnya mencari pekerjaan sampingan. Gaji yang ia peroleh sebagai marbot awalnya hanya 40 ribu per bulan, dimana pada saat itu ia masih menyewa rumah bersama sang istri dan buah hati mereka.

Keadaan inilah yang memaksa Tasrifin dan keluarga untuk pindah ke rumah sang mertua. Kehidupan mereka sangat memprihatinkan dan serba kekurangan, sebab mertua Tasrifin bukan orang yang mampu. Tahun berganti tahun, mereka jalani dengan penuh liku hidup yang sesungguhnya tak sanggup mereka tanggung.

“ Ya kalau dulu jadi tukang pacul, jadi kuli bangunan, itu pun terpaksa dilakukan karena kurangnya job didaerah sini, dan gak ada yang mau memperkerjakan saya karena udah tua” kata Tasrifin.

Menurut Tasrifin, kesusahan yang dialaminya selama ini bukan terletak di bidang pemahaman agama, melainkan pada keadaan hidup dan kemampuan ekonomi yang minim. Namun ia tetap bersyukur dan tak berputus asa dalam menjalani kehidupan.

Hari demi hari berlalu, tak terasa ia telah menjalani profesinya selama 26 tahun sebagai marbot masjid. Kini tasrifin bergaji 800 ribu per bulan, sedangkan penghasilan nya dari bekerja kuli bangunan hanya 100 ribu per hari itu pun jika mendapat job saja.

Dari semua pendapatan itu hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan dengan menu makanan yang sederhana setiap harinya, untung saja ke empat buah hati Tasrifin bersama sang istri adalah anak yang patuh dan hormat terhadap kedua orang tua.

Selama menjalani kehidupan yang serba kurang, Tasrifin tak pernah menyerah dan selalu berusaha dengan segala daya upaya demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga tercinta.  Untuk memiliki rumah sendiri tak pernah terbayangkan oleh mereka, sebab tak ada biayanya.

Pada tahun 2018, Tasrifin mendapat program bedah rumah yang dicanangkan Presiden Jokowi. Hal itu membuat Tasrifin dan keluarga sangat bersyukur dan dipenuhi rasa haru bahagia. Setelah mendapat kabar gembira, cobaan hidup kembali menerpa Tasrifin dengan kehilangan satu pekerjaan yang selama ini sangat membantu hidupnya yaitu sebagai kuli bangunan. Kehilangan job menjadi kuli bangunan memang selalu ia rasakan, sebab didaerah tempat tinggalnya memang sepi  job menjadi kuli.

Meski dengan kemampuan keuangan yang sangat minim, Tasrifin alhamdulillah mampu untuk membiayai sekolah empat orang anaknya dengan segala keterbatasan. Saat saya tanya tentang harapan Tasrifin untuk hidupnya kedepan, ia tak mampu membayangkan.

“ Kalau ditanya harapan agak susah juga saya jawab ya, paling berharap kerja saya lancar sebagai marbot dan kuli bangunan meski minim penghasilan” Kata Tasrifin.

Dibalik semua pengalaman dan perjuangan hidup nya, Tasrifin berusaha selalu tegar  dan tak  pernah mundur untuk terus melakukan yang terbaik bagi setiap pekerjaan yang ia lakukan. Meski demikian, menjadi marbot masjid dan kuli bangunan adalah pekerjaan paling ia senangi, entah apa alasannya.

Begitulah adanya pekerjaan dan keadaan hidup Tasrifin hingga saat ini. Dengan perjuangan hidup yang sangat memilukan, apakah suatu saat nanti ia dapat menikmati hidup yang berkecukupan dan bahagia di sisa usia bersama sang istri tercinta dan buah hati mereka?