Ada seorang perempuan penikmat musik yang kerap berjalan sendirian. Ke mana-mana sendiri, hanya ditemani kicau burung di awal pagi. Bukankah kicau burung adalah musik alami?

Orang bilang dia kesepian dan erat dengan keheningan. Sebaliknya, "orang bilang" itu tak lebih tahu apa-apa tentang dia.

Perempuan itu berwujud aku. Aku ke mana-mana seorang diri. Oh, bukan sendiri. Banyak musik alam yang menemaniku dalam perjalanan. Juga, bising dan bel kendaraan yang terkadang menyentakkan tubuhku.

Apakah ini sebuah pertanda bahwa aku seorang introver? Barangkali begitu.

Suara khas alam perdesaan sangat candu untukku. Di antara malam-malam yang kurindukan adalah suara hujan turun dipadu sahut-sahutan kodok menari menyambut hujan. Atau, dering jangkrik pengantar tidur. Menyedihkan keadaan di kota, tak lagi kudengar semua itu.

Jangankan suara kodok dan jangkrik, kokok ayam jago di pagi hari saja tak kudengar lagi sekarang. Maka dari itu, aku selalu merindukan kampung halamanku dan berharap "badai" kecil ini segera berlalu.

Momen langka yang ternyata benar-benar kujumpai adalah situasi seperti sekarang. Dulu, aku hanya mendengar dan membaca dari banyak sumber jika kota-kota mustahil ada suara kodok, jangkrik, dan kokok ayam. Sekarang, aku mengalaminya sendiri. Oh, begini rasanya merindukan suasana kampung.

Sebab tak kutemukan musik alami, kusubstitusikan berbagai musik karya manusia untuk kudengarkan. Dengan begitu, tak ada yang namanya kesepian meski ke mana-mana sendiri.

Aku diperkenalkan dengan musik sejak kecil oleh abang tercinta. Dulu, grub band Radja sedang naik daun. Si abang sering mengoleksi dan mendengarkan lagu-lagu karya Radja. Sejak itu, aku sangat menyukai lagu-lagu yang terkenal pada zamannya.

Hingga beberapa saat kemudian, perhatianku dialihkan oleh Dewa 19. Dengan lagu-lagu yang sampai saat ini masih menjadi favoritku. Dan, Once dan Ari Lasso yang kemudian solo karier.

Ada juga, Peterpan yang sekarang menjadi Noah. Kupikir, lagu-lagu mereka masih menempati ruang tersendiri di hatiku.

Sekarang, daftar pemutar musikku sedang dipenuhi oleh lagu-lagu latar belakang TikTok, yang iramanya agak sedikit "menantang" untuk bergoyang. Ternyata, aku juga penikmat lagu-lagu yang cocok untuk menggerakkan badan ala disk jockey. Nah, perempuan kok menyukai musik seperti itu? Pasti perempuan "tidak benar"?

Waduh, muncul lagi stigma tentang perempuan. Kenapa memangnya jika aku menyukai lagu seperti itu?

Ini hanyalah sebuah lagu. Ya, memang ala-ala "klub malam" gitu. Tapi, bukan berarti sebuah kesalahan ketika perempuan suka mendengarkan lagu itu, kan? Terkadang komentar orang ada-ada saja.

Rasanya, tiada habisnya perihal gender yang dikait-kaitkan dengan apa pun. Masa sampai perempuan dianggap "tabu" mendengarkan karya disk jockey? Bukankah ini sangat keterlaluan?

Agak sedikit geram dengan stigma yang selalu berusaha menyudutkan. Ini tidak ada kaitannya dengan "perempuan". Anggap saja tiada gender di dunia ini, jika sedikit-sedikit, "Perempuan masa begini, begitu."

Lagi pula, ini adalah suatu kegiatan positif bagiku. Dengan mendengarkan berbagai musik, akan menambah semangatku. Dan, yang terpenting adalah insomniaku lumayan teratasi dengan mendengarkan musik sebelum tidur.

Menurutku, mendengarkan musik termasuk salah satu hobi. Seperti halnya membaca, menulis, atau travelling, termasuk mendengarkan berbagai genre musik.

Apakah melanggar norma jika mendengarkan musik yang iramanya agak berdentum-dentum bagi perempuan? Ah, bukankah jenis-jenis irama sama halnya seperti jenis-jenis rasa masakan? Ada pedas, asin, asam, dan sejenisnya.

Lalu, kenapa aku menyukai musik ala-ala "hiburan malam" tersebut?

Kujelaskan kembali, ini hanya sebatas mendengarkan melalui gawai. Bukan datang ke klub malam. Jadi, di mana dosanya?

Aku suka irama seperti ini karena asyik dan menghilangkan kesan sepi di perantauan. Ketika mendengarkan, secara tidak sengaja badan bergoyang-goyang sendiri. Nah, itu pertanda respons tubuh yang menyukai kegiatan tersebut, bukan?

Ya ya ya, tidak semua pandangan harus disamakan. Mungkin yang berpendapat, perempuan harus mendengarkan musik berirama lembut supaya sikapnya juga terpengaruh lembut, ya tidak salah.

Tapi, jangan sampai memaksa perempuan yang tidak satu pendapat harus sepakat dengan dia, dong. Tiap orang (tanpa harus mempermasalahkan gender) memiliki hak masing-masing atas dirinya. Orang lain tak boleh mencampuri masalah tersebut.

Dan, sebenarnya tak boleh memakai pendapat subjektivitas dengan mengatasnamakan sesuatu. Misalnya, aku tak suka makan kacang panjang. Maka, aku tidak boleh memengaruhi orang lain untuk tidak mengonsumsi kacang panjang dengan alasan aku pernah menemukan ulat di dalam kacang panjang itu.

Sama halnya dengan yang tidak suka mendengarkan musik ala-ala disk jockey, tidak seharusnya melarang orang lain juga. Apalagi sampai menyeret masalah gender yang cukup sensitif.

Dengan demikian, mendengarkan musik berirama "hiburan malam" bukan tabu. Ini sebatas mendengarkan, lho. Bukan pergi ke hiburan malam. Jangan pula menduga, perempuan seperti aku yang kerap mendengarkan lagu DJ adalah perempuan yang sering mengunjungi hiburan malam.

Janganlah terlalu sering membuat praduga negatif. Apalagi sampai berujung pernyataan "perempuan yang mendengarkan lagu DJ adalah perempuan tidak benar". Lho kok, malah tambah seram saja pernyataannya?

Belajarlah "diam" jika tak bisa berkomentar positif. Jangan mencari kesalahan-kesalahan orang lain terus.

Mau gender apa pun, mendengarkan segala genre musik adalah hal wajar. Hanya anggapan atau selera pribadi yang terkadang mengharuskan orang lain seperti pendapatnya.

Jangan lupa, dunia tempatnya perbedaan. Dan, jangan lupa (lagi) untuk menghargai perbedaan.

Ah, mungkin saja aku bukan "perempuan".