Pamong Sanggar
2 minggu lalu · 159 view · 3 menit baca · Puisi 93318_62829.jpg
Dok. Pribadi

Kisah Perahu tanpa Sauh

Ada sebuah perahu di tengah samudra

Bermuatan gunung dan juga lautan

Tanpa sauh terus saja berlayar

Menjaga lautan tetap bergelora

 

Sang nakhoda memang sungguh tangguh

Dialah Tuan Maha Rsi Gading

Sang pemilik perahu tanpa sauh

Pertapa sakti yang gemar  menyiksa diri

Dengan bertapa dan berkelana ke laut

Dan kini pengembaraannya kembali 

dimulai

Bersama perahu kecilnya di tengah laut

 

Malam itu berlayarlah Tuan Maha Rsi 

Gading di bawah cahaya purnama

Dengan dua gunung di dalam perahu

Melewati selat yang arusnya sangat deras

Menyeberangi lautan dan juga ribuan pulau

Menembus lautan yang di dalamnya masih 

ada lautan

 

Satu purnama telah lewat

Laut dalam lautan pun terselami

Tuan Maha Rsi Gading akhirnya terdampar 

pada dasar

Dan saat deru ombak berseru memanggil

Menantikan seluruh kisah petualangannya

Tiba-tiba lautan menjadi sunyi

Sama sekali tak ada berita apa pun dari 

dasar samudra

 

Ada beberapa retakan tempat lava 

menyambut Tuan Maha Rsi Gading

Demikian juga dengan celah tempat lava 

untuk meresap kembali ke bumi

Setelah arus samudra menghempas perahu 

sang Tuan Maha Rsi

Dengan embusan angin dan pusaran bumi

Barisan pegunungan pun tampak telah 

menantinya di dasar samudra

 

Sang nakhoda memang benar-benar 

tangguh

Meski dasar samudra ternyata lebih ganas 

dari permukaannya

Dan gempa setiap saat dapat 

memusnahkan perahu tanpa sauh itu

Tapi sang nakhoda tetap terus berjuang 

menembus batas dasar samudra

Menghadapi bahaya dan rintangan itu

Sampai ia menemukan sebuah tempat nan 

indah yang tersembunyi di baliknya

 

Di dasar laut ternyata ada sebuah 

kehidupan

Yang tak pernah ditemui Tuan Maha Rsi 

Gading sebelumnya

Di sana kehidupan sungguh indah bak di 

Surga

Siapa pun yang terdampar

Pasti tak ingin lagi kembali ke daratan

 

Pohon kehidupan tampak kokoh berdiri 

tegak

Namun sangat lembut bila tersentuh

Di sana ada Bapa Adam dan juga Ibu Hawa

Menjaga pohon kehidupannya terus 

tumbuh

Dengan menuntun seluruh anak-anaknya

Untuk setia, taat dan juga patuh

Kepada Sang Pencipta alam semesta

 

Tuan Maha Rsi Gading yang sakti pun 

bertekuk lutut

Badannya terkulai tak berdaya tanpa sebab

Berhadapan dengan sang empunya tempat 

indah di dasar laut

Yang telah menanam begitu banyak pohon 

kehidupan

Dengan keikhlasannya yang tanpa pamrih 

apa pun

Yang ternyata dapat meruntuhkan 

kesaktian siapa pun yang datang

 

Bapa Adam memang sungguh mulia

Kisahnya sungguh patut menjadi teladan

Dialah sosok kunci sebuah kehidupan

Dimana pun ia berada

Ia bisa menciptakan tempat indah bak di 

Surga

Dengan keikhlasan dan ketaatannya

Kepada Sang Pencipta

 

Bapa Adam memang teladan kesetiaan

Ia sungguh ksatria menemani Ibu Hawa 

menebus dosa

Turun ke bumi, bahkan sampai ke dasar 

lautan

Dan bersama-sama meniadakan dirinya

Untuk kelak dapat kembali kepada Sang 

Pencipta

Dengan keikhlasan yang sempurna

 

Sang Tuan Maha Rsi pun tak kuasa 

menahan air mata

Mendengar kisah mengharukan dari sang 

empunya

Badannya serasa lunglai tak berdaya

Hatinya yang selama ini keras menjadi 

luluh jua

Jiwa petualangnya pun mendadak sirna

Dan berakhir begitu saja

 

Betapa damai ia di antara anak-anak Bapa 

Adam

Semua saling hormat dan saling 

menghargai

Saling menjaga dan penuh kasih sayang

Dengan keikhlasan yang sungguh 

sempurna

 

Empat puluh hari sudah Tuan Maha Rsi 

Gading dalam kedamaian

Ia pun tak lagi ingin kembali ke daratan

Meski deru ombak terus berseru 

memanggilnya

Menantikan kembali kedatangannya

Agar lautan kembali bergelora

 

Sang Tuan Maha Rsi tetap berkukuh tak 

lagi ingin kembali ke daratan

Meski deru ombak tiada lelah 

memanggilnya

Menunggu kisah petualangannya

Yang selalu memikat seluruh ombak di 

lautan

Pelayarannya memang telah berakhir di 

dasar lautan begitu saja

Tanpa berita pada ombak dan juga lautan

Yang masih setia menantinya

 

Tuan Maha Rsi Gading masih bersimpuh di 

kaki Bapa Adam

Mendengarkan nasihat dengan seksama

Untuk meninggalkan dasar laut dan 

kembali ke daratan

Menjalani hidup sewajarnya

Dengan keikhlasan yang sempurna

Seperti anak-anak Bapa Adam

Yang hidup di dasar lautan bagai di Surga

Dengan senantiasa taat dan patuh kepada 

Sang Pencipta

 

Setiap perkataan Bapa Adam terus 

menyentuh dasar hati sang nakhoda

Dan ia pun tak ada kuasa lagi atas dirinya

Kesaktiannya telah sempurna sirna

Tanpa sedikit pun penyesalan

Ia telah damai menjadi bukan siapa-siapa

Bukan lagi sebagai sang penakluk lautan 

dalam lautan

Yang selalu menjaga lautan tetap bergelora

 

Ada sebuah perahu di tengah samudra

Bermuatan gunung dan juga lautan

Tanpa sauh terus saja berlayar

Menjaga lautan tetap bergelora

 

Sang nakhoda memang sungguh tangguh

Dialah Tuan Maha Rsi Gading

Sang pemilik perahu tanpa sauh

Pertapa sakti yang gemar  menyiksa diri

Dengan bertapa dan berkelana ke laut

Dan kini pelayarannya telah usai

Berakhir dari dasar laut

 

Pelayaran perahu tanpa sauh kini telah 

purna

Laut kembali dalam kesunyian

Dan bergelora saat purnama tiba

Saat sang Tuan Maha Rsi sesekali datang 

menyapa

Tanpa perahu kecilnya

 

Pelayaran perahu tanpa sauh memang telah 

purna

Pengembaraan Tuan Maha Rsi Gading pun 

telah berakhir sudah

Pada dua gunung dan juga ombak di lautan

Sang Tuan Maha Rsi pun sesekali 

mengirimkan gemuruh kerinduannya

Lewat embusan angin malam dan vibrasi 

doanya

Untuk kebahagiaan segenap makhluk dan 

alam semesta

Dari puncak Sakya

Sebuah tempat dimana ia kini berdiam