Mengikuti perkembangan kasus Novel Baswedan­—Penyidik KPK yang mengalami kekerasan, ingatan kita mungkin tak akan jauh beranjak dari film Parasite karya Sutradara masyhur asal negeri Ginseng: Bong Joon-ho. Film ini memboyong 4 Piala Oscar pada 2020 sebagai film terbaik, sutradara terbaik, naskah asli terbaik, dan film berbahasa asing terbaik.

Kasus Novel Baswedan dan Parasite memiliki jalan cerita yang mirip jika dilihat dari perspektif kemampuan organisme mempertahankan hidup.

Kemampuan parasit dalam bertahan hidup, yaitu mengandalkan keahliannya untuk ‘menumpang’ pada organisme lain. Syarat organisme yang ditumpangi mestilah makhluk yang hidup dan memiliki sumber daya yang bisa dimakan bersama.

Parasit mendapat keuntungan yang sangat banyak dari hubungan ini, sehingga dia dapat menyambung hidup dalam waktu cukup lama untuk bertahan hidup. Sementara itu, organisme yang ditumpanginya mengalami kejadian nahas.

Sebuah kerugian yang mungkin saja tidak disadari organisme yang ditumpanginya, atau boleh jadi organisme yang ditumpangi sebenarnya menyadari hanya saja tidak memiliki kemampuan untuk melepaskan hubungannya yang telanjur lekat. Saat sumber daya yang dimakan bersama telah habis, maka organisme yang ditumpangi akan dicampakkan layaknya sepah tebu.

Satu hal yang penting dipelajari dari hubungan ini adalah si parasit menjadi sangat berkuasa terhadap inangnya. Dia tinggal mengambil apa saja yang dibutuhkannya. Semua nutrisi yang diperlukannya telah tersedia.

Si parasit akan melakukan berbagai upaya agar aktivitas yang dilakukannya tidak diketahui sang inang. Apabila inangnya sampai tahu atau ada pihak-pihak tertentu yang akan mengancam keberlangsungan hidupnya, maka si parasit akan menabuh genderang perang kepada siapa pun yang akan mengancam kehidupannya. Mempertahankan diri adalah insting dasar dari semua makhluk hidup, tidak terkecuali seekor parasit.

Para koruptor yang menggerogoti uang negara layaknya parasit, dia hidup menumpang dengan mengambil uang yang sebenarnya bukan haknya. Mereka akan berusaha sekuat mungkin supaya perangainya tidak diketahui negara atau pihak tertentu yang kontra dengannya. Jikapun ketahuan, maka tentu dengan segenap usahanya dia akan menghilangkan jejaknya agar tak tampak.

Negara memiliki sistem yang sehat jika semua bagian berjalan sebagaimana mestinya. Sistem ini saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Jika ada satu saja bagian pada negara yang mengalami masalah, maka akan berdampak terhadap bagian yang lainnya.

Hanya saja, masalah yang ditimbulkan kadang samar atau memang ada upaya untuk ditutup-tutupi. Karena koruptor memang sama lihainya dengan parasit perihal menutupi kebusukan dirinya sendiri.

Negara melindungi dirinya dari ancaman parasit yang laten. Secara cermat sistem perlindungan ini akan selalu membuatnya dalam kondisi prima dari parasit-parasit yang mengancam keberlangsungan negara. Dia menjadi pertahanan garda terdepan dalam upaya pemberantasan korupsi, di Indonesia kita menyebutnya sebagai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dia menyerang parasit-parasit kelas kakap yang berniat menumpang hidup kepada negara dengan mengambil sumber daya yang bukan haknya untuk kepentingan pribadinya. Parasit tidak pernah peduli dengan inangnya yang akan mati menggelepar, kemiskinan dan kelaparan yang telah diperbuatnya. Telah hilang rasa kasih mengasihi dari jiwanya.

Koruptor adalah parasit yang menjadi penyakit bangsa yang sesungguhnya. Dia akan merusak sendi-sendi perekonomian, menurunkan produktivitas, membuat rendahnya kualitas barang dan jasa bagi publik, menurunkan pendapatan negara dari sektor pajak, membuat lesu pertumbuhan ekonomi dan investasi.

Abai pada penyakit ini sama halnya dengan memberi restu terhadap mahalnya harga jasa dan pelayanan publik, sulitnya pengentasan kemiskinan, terbatasnya akses bagi masyarakat miskin hidup berkualitas, meningkatnya angka kriminalitas, makin langkanya solidaritas sosial dan demoralisasi. Pada fase yang lebih besar, dampaknya yaitu melemahkan dan mematikan etika sosial, sehingga peraturan dan perundang-undangan juga birokrasi negara menjadi tidak efektif.

Novel Baswedan adalah satu dari sekian bagian sistem pertahanan negara yang membuka tabir-tabir kejahatan gerombolan parasit. Tidak ada parasit yang senang kebobrokannya dipertontonkan.

Merasa jengkel karena sepak terjangnya, gerombolan parasit tentu tidak akan tepekur dalam kursi empuknya. Bagaimanapun aroma kebusukan yang terendus adalah malapetaka mahadahsyat yang mengancam keberlangsungan kehidupan mereka para kawanan parasit.

Parasit kemudian menyerang sistem pertahanan dari bagian tubuh inang. Dia menebar racun pada organ vital berupa penglihatan. Sebuah teknik dasar dari peperangan yang licik: jika sulit menang menghadapi musuhmu, maka rusak saja musuhmu di titik lemah lainnya.

Bukankah inang akan sulit melawan jika dia buta? Bagaimana mungkin inang dapat berperang dengan keadaan penglihatan yang tidak dapat menerawang? Si inang bukan si Buta dari Goa Hantu yang pandai menumpas musuhnya, kendati organ penglihatannya tiada.

Para gerombolan parasit tidak akan rela melepas sari-sari kenikmatan yang selama ini telah diisapnya dari inang. Saat dirinya ketahuan oleh inangnya, masih ada jalan lain untuk menggoda sang juru adil dengan iming-iming sari-sari kenikmatan. Kenikmatan yang boleh jadi belum pernah dirasakannya sebelumnya. 

Benar-benar sangat menggoda sehingga tidak sedikit dari mereka para juru adil terjerembab dalam kubangan lumpur kenistaan. Sebuah aib memalukan yang kita kenal sebagai suap.

Parasit kelas kakap tentu tidak akan buang-buang tenaga untuk melakukannya langsung, menyerang pihak-pihak yang mengganggu aksinya. Lagi pula itu tindakan yang amat berisiko. Dia dapat mengirimkan tangan kanan agar kejahatannya sulit untuk dipecahkan.

Parasit-parasit yang sudah memiliki kedudukan memang pandai memutar-balikkan fakta, buah dari hasil pendidikan tinggi yang salah jalan. Saat upaya berhasil, tentu akan melakukan selebrasi sujud seraya berucap syukur. Beberapa dari mereka melakukan standing ovation terhadap karya mereka sendiri, karena mereka telah menjadi sutradara terbaik, cerita naskah terbaik, dan pertunjukan terbaik bagi sandiwara yang mereka buat sendiri alur ceritanya.

Kisah parasit di negeri ini memang tidak pernah lekang oleh waktu, tidak pernah sehari saja para kulit tinta berhenti menuliskan aib-aibnya. Bahkan ada kisah parasit yang tersaji setelah belasan tahun buron dan baru kembali setelah 17 tahun seperti kasus pembobolan Bank BNI atas nama Maria Paulina Lumowa senilai 1,7 triliun lewat Letter of Credit fiktif.

Kadang parasit memanfaatkan celah agar hilang dari keramaian. Dia mengunjungi tempat-tempat di mana pihak berwajib tidak dapat berbuat banyak di sana. Salah satu tempat favorit mereka adalah negara mungil yang menjadi jiran kita, Singapura.

Indonesia dan Singapura belum melakukan perjanjian ekstradisi yang diratifikasi. Karenanya, Pemerintah Indonesia kerap mengalami kesulitan saat parasit melarikan diri ke Singapura.

Berdasarkan Undang-Undang RI No. 1 tahun 1979, ekstradisi merupakan penyerahan oleh suatu negara yang meminta penyerahan seorang yang disangka atau dipidana karena melakukan suatu kejahatan di luar wilayah negara yang menyerahkan dan di dalam yurisdiksi wilayah negara yang meminta penyerahan tersebut, karena berwenang untuk mengadili dan menghukumnya. Beberapa parasit yang melanggang ke Singapura agar selamat dari pihak berwajib di antaranya Maria Paulin, Muhammad Nazarudin, Djoko S Tjandara, dan masih banyak lagi.

Selama penegakan hukum masih amburadul, selama itu pula kisah parasit yang merongrong kas negara akan terus berlanjut. Mereka akan kembali menyerang pihak yang membuat keberadaannya terancam dengan cara brutal, menyuap sang juru adil di meja hijau, atau pergi ke negara-negara yang belum melakukan ekstradisi dengan negara tempatnya berasal.

Parasit selalu pandai mengambil kesempatan membuat aksinya tidak diketahui inang. Parasit tidak pernah kenyang. Dia bertahan bahkan dalam kondisi ekstrem sekalipun.