1 tahun lalu · 507 view · 3 min baca · Budaya 32433_77035.jpg
Voaindonesia

Kisah Para Pemuja Gunung

“Untuk apa kalian hambur-hamburkan ritual mewah bagi Dewa Indra, sementara kalian dihidupi oleh berkah kesuburan gunung Govardan?”. Demikian Krisna mengingatkan penduduk yang hidup di Vrindavan, saat mereka sedang khusuk melakukan ritual memohon hujan kepada Indra.

Lewat perdebatan yang sengit, akhirnya Krisna mampu memenangkan hati penduduk. Mereka berhenti melakukan ritual kepada Indra. Tentu saja, Dewa penguasa hujan itu marah, merasa diabaikan. Dengan kekuatannya, ia menciptakan badai petir di sekitar daerah Vrindavan. Penduduk menjadi panik dan ketakutan. Tapi atas bantuan Krisna, gunung Govardan diangkat dengan satu kelingkingNya, dan penduduk serta binatang bisa aman berlindung di bawahnya.

Kisah yang tersurat dalam Wisnu Purana itu, tentu memiliki pesan moral yang mulia; bahwa gunung musti dipuja, dihormati, serta dirawat dengan penuh rasa bhakti, sebab darinya sungguh banyak berkah dan manfaat yang bisa dinikmati manusia. Kenyataannya, tak terlalu susah dipahami, begitu berderet faedah yang telah dilimpahkan gunung bagi kehidupan. Abu vulkaniknya, membuat tanah sekitarnya sangat subur untuk pertanian. 

Erupsi gunung menghasilkan pasir, bebatuan yang berguna untuk membangun, juga berbagai material tambang. Dan terpenting, gunung itu berfungsi sebagai pengatur iklim, dan  menyimpan air, lalu mengalirinya ke daerah-daerah rendah. Deretan 127 gunung berapi dari Sumatra hingga Papua, sungguh berkah tak ternilai bagi bumi Nusantara yang dijuluki Negeri Cincin Api ini.

Di Bali, dalam catatan geografi ada sekitar 24 gunung/pegunungan yang tersebar di beberapa tempat, yakni Gunung Agung (Karangasem), Abang (Bangli), Adeng (Tabanan), Batukaru (Tabanan), Batur (Bangli), Banyu Wedang (Buleleng), Catur (Tabanan), Klatakan (Jembrana), Kutul (Buleleng), Lempuyang (Karangasem), Lesong (Buleleng), Lok Badung (Buleleng), Merbuk (Jembrana), Mesehe (Jembrana), Musi (Jembrana), Mundi (Klungkung), Ngandang (Jembrana), Patas (Buleleng), Penulisan (Bangli), Pohang (Tabanan), Prapat Agung (Buleleng), Sanghyang (Tabanan), Sangiang (Jembrana), Sidemen (Karangasen), dan Silang Jana (Buleleng).    

Dengan ketinggian 3.142 M di atas permukaan laut, Gunung Agung menjadi yang tertinggi di Bali. Tercatat setidaknya ada 15 kali Gunung yang dijuluki Hyang Tolangir ini erupsi (dari tahun 1005-1963).

Gunung, bagi manusia Bali adalah hulu, “kepala” yang musti dijaga dan dirawat keberadaannya. Ia adalah kiblat suci, tempat bersemayamnya para Dewa, dan tempat huni roh-roh leluhur. Dalam Babad Pasek disebutkan, awalnya ada 4 gunung yang ditempatkan di Bali oleh Hyang Pasupati, yakini di Timur Gunung Lempuyang, di Selatan Gunung Andhakasa di Barat Gunung Watukaru, dan Gunung Bratan menempati sisi utara.

Tapi di tengah tak ada pemancang yang membuat pulau Bali stabil. Oleh karenanya, Hyang Pasupati memotong puncak Mahameru dan menaruhnya di Bali. Puncak inilah yang bernama Tolangkir, Gunung Agung sekarang. Ia sungguh menjadi penyeimbang pulau, agar tak seperti perahu terombang-ambing di lautan.

Di lereng Gunung Agung, berdiri pura terbesar di Bali, Besakih; wilayah suci yang dipercaya sebagai tempat seorang wiku sakti dari tanah Jawa, Markandeya menanam logam-logam penolak bala, yang disebut Panca Datu, sebagaimana yang dikisahkan dalam Markandeya Purana.

Dari Besakih inilah, berpusat segala prosesi dan segala ritual pemujaan untuk para Dewa yang diyakini bersemayam di puncak Tolangkir. Berbagai ragam ritual dan kewajiban menjaga kesucian Gunung Agung dan Besakih, termuat dalam Prasasti Raja Purana Besakih. Prasasti bertahun 929 caka (1007 masehi) menyuratkan “…ini prihal usaha untuk menentramkan pulau Bali supaya selamat dan berpahala. Sepatutnya Anglurah Sidemen mengawasi ketentuan pura-pura seperti dahulu, tempat bersemayamnya para Dewa dan Betara.Pikiran yang tentram dilambangkan dengan padmasana. Padma Nglayang adalah lambang Gunung Agung, Gunung Batur adalah lambang dari Gunung Indrakila…..”

Berbagai jenis upakara ritual dan orang-orang yang wajib melaksanakannya, diatur secara detail dalam prasasti ini. Leluhur Bali paham, betapa penting menjaga kesucian dan merawat secara teratur keberadaan Gunung Agung dan Besakih. Wewanti dan peringatan keras pun dicantumkan, semata agar generasi penerus tidak campah, dan abai dengan kewajiban menjaga kelestarian Gunung. 

Raja Purana Besakih mewanti keras:…hai kamu manusia Mayapada, janganlah engkau durhaka padaKu. Jika engkau tak memelihara pura-pura di Besakih persemayaman Dewa masing-masing, dan kalau ada yang rusak tidak kau perbaiki, tidak bhakti…semoga kamu bertikam-tikaman dengan keluargamu, dan semoga engkau binasa, martabatmu akan surut dan menderita, serta jauh dari keselamatan…

Memuja dan merawat gunung, adalah sebentuk perilaku purba yang memiliki nilai mulia, meski kini ia mulai kehilangan tuahnya. Hari ini, ia tak lebih dari seonggok simbol yang berbentuk “tumpengan” berbagai rupa, atau hanya terselip dalam ritual nyegara-gunung. Ia telah kehilangan spirit dan maknanya yang luhur.

Gunung tak lagi menjadi “hulu”, kepala yang musti dijaga dengan takzim. Ia tak lagi dikeramatkan sebagai “lingga”, istana Dewa Siwa. Sama seperti laut, gunung juga sudah dieksploitasi dengan rakus; bebatuan dan pasirnya dikeruk, pohon-pohon dan hutannya ditebangi, danaunya dicemari dengan berbagai limbah. Atas nama kepentingan ekonomi, para pemuja Gunung mulai lalai, dengan segala piteket dan nasehat leluhurnya.

Pertengahan September 2017 ini, Sang Tolangkir tiba-tiba terbangun dari tidur lamanya. Meski belum dinyatakan meletus, kepanikan sudah terjadi; ratusan ribu penduduk di sekitar gunung mengungsi, hingga kini. Meski tanda-tanda sudah tercatat, namun tak ada yang tahu pasti, kapan erupsi akan terjadi.

Demikianlah, ketika sang gunung mulai bergemuruh , dalam ketakutan kita mulai khusuk memanjatkan doa-doa. Para pemuja gunung, mulai menggurat kisah-kisah pilu.

Artikel Terkait