-POLOS-

Terbangun dengan muka merah padam dan mata bengkak adalah pengalaman mengejutkan.

"Kenapa aku?"

Kurasa sebelum tidur aku tak memikirkan apa-apa tentang kelamnya masa lalu. Berbeda dengan entah kapan ketika "banjir" air mata. Hiks.

Semalam aku tak menangis. Malah aku dipenuhi doa-doa kebaikan dan harapan baru. Tapi kenapa mataku berat sekali?

Ah, aku ingat sesuatu. Kejadian itu.

Kosongnya ruangan, sunyi mencekam. Dinding bercat putih kusam. Lantai putih polos. Nanar seperti wajah anak kecil di pojok. Ya, satu-satunya orang sebelum aku masuk.

Kengerian menyergap ulu hati manakala wajahnya berpaling menatapku.

"Tidaaak!"

Wajahnya benar-benar polos tanpa rupa.

"Tolooong! Tolong aku." Jeritku meronta.

Bocah itu mendekat. Dia mengenakan celana merah panjang sampai mata kaki, meskipun kakinya entah berpijak di lantai atau melayang. Kupikir dia belum sempat mengganti seragam sekolahnya.

Aku lupa. Sekarang pandemi, anak sekolah dari rumah masing-masing.

"Siapa pun, tolong aku!"

Kutarik gagang pintu di depanku sekuat tenaga. Nyaliku hampir kosong tak bersisa. Bocah itu makin dekat. Kakiku ringan. Dan, kurasa darah tak mengalir lagi ke wajahku. Pasi.

Dia mencengkeram pundakku. Aku melayang.

*

-BISA-

Perjalanan terasa menjenuhkan. Sepanjang tempat ini hanya kutelusuri seorang diri. Tanpa teman bicara atau sekadar teman membuang rasa takut.

Aku penakut. Kadang berjalan beberapa langkah. Kadang menoleh samping kiri. Kadang menoleh samping kanan. Kadang menoleh belakang. Kuulangi sampai langkah terhenti.

Di ujung sana ada "kehidupan". Pandangan terhenti sebagaimana kaki diam.

Aku bertemu sebuah benda. Bukan benda mati rupanya. Dia mulai bergerak. Ya, merayap ke arahku perlahan. Lambat, makin cepat, hingga sangat cepat.

"Tidaaak!"

Justru kuputar langkahku kembali ke belakang. Kehidupan baru itu mengancamku.

"Benda hidup" yang terus mengejarku. Bukan bocah berwajah polos tadi, kali ini lebih membahayakan nyawaku.

Sejauh ini aku percaya bahwa diriku tak tawar bisa. Juga, tak pernah menyangka lari akan sekilat ini. Katanya, adrenalin akan terpacu lebih dahsyat saat terdesak.

Kau tahu, siapa pun tidak akan suka dikejar ular kobra besar. Kecuali pawang ular.

*

-KUNCI-

Arakan orang menghiasi pinggiran jalan. Beberapa dari mereka ialah teman lelakiku. Satu memberi senyuman, satu memberi sapaan, dan satu lagi memberi nasihat supaya hati-hati di jalan.

Kurasa mereka sedang pawai tujuh belasan. Eh, tapi ini bulan puasa. Jadi, entah apa yang mereka lakukan. Aku tak tahu. Pun tak ingin mencari tahu.

Hah, akhirnya sampai ke tujuan. Di mana? Di warung pinggir jalan. Ada dua teman perempuanku masa SMA. Mereka hendak ke pasar untuk membeli baju lebaran.

"Lalu, aku hendak ke mana?" Batinku.

Kita berbincang sebentar. Melepas rasa kangen lama tak jumpa. Tertawa sebentar. Kemudian keduanya pamit pergi.

Aku melongo. Ternyata dalam hidup ini semuanya hanya sebentar. Tiada yang benar-benar bertahan.

Pergi adalah pilihanku.

"Hendak ke mana kita?" Tanya diriku yang lain.

"Ke mana saja. Bukankah pergi tak selalu harus punya tujuan?" Balasku.

Sayangnya, kunci motorku patah jadi dua.

*

-BOLA-

Sweet moment di masa putih abu-abu. Penuh suka dan cita. Bisa main sepuas hati. Merasakan cinta monyet dan sakit hati lalu nangis-nangis sendiri.

Konyol. Lucu. Tapi menyenangkan.

Banyak makanan favorit di kantin. Hanya saja lebih banyak bawa bekal. Aduh, jadi rindu setengah mampus.

Buuukkk.

Pipiku terkena lemparan bola nyasar.

"Gile sakit juga. Awas aja ketemu yang ngelempar nih." Umpatku diam-diam sambil memegangi bekas gesekan itu.

"Maaf."

Satu detik dalam hidupku tak bergerak. Astaga. Setan apa yang merasukinya hingga datang ke hadapanku.

Cowok populer nan diidolakan kini tepat di hadapanku. Ha, jadi dia tersangka pelempar bola itu.

Aku berdiri, mengambil bola di depanku dan melemparkan ke pipinya. Lalu pergi.

*

-MERAH-

Pasti menyenangkan ketika melintasi persawahan. Kenapa? Karena akan disuguhi pemandangan hijau sepanjang mata memandang. Tapi, kali ini kondisinya berbeda.

Sawah berbanding terbalik dengan pemandangan apik yang biasanya dilukis anak-anak sekolahan. Sawah ini gelap, banjir, dan ramai orang.

Orang-orang melintas di depanku. Aku terpatung melihatnya. Sebuah mobil diikuti oleh "rombongan semut" tersebut.

Firasatku mulai berbunyi aneh. Pasti ada ketidakberesan. Daaan, benar saja. Sesuatu berwarna merah terlihat.

Sosok berwarna merah itu keluar dari dalam mobil.

Mayat merah digotong dari dalam ambulans dan aku pingsan.

*

Estafet bunga tidur yang tampak nyata banget. Menegangkan pun menguras energi.

Setelah bangun tidur, wajah memerah dan mata bengkak. Kaki terasa lemas seperti tak dialiri darah semalaman. Bisa jadi ini efek sebagian cakra yang mulai terbuka.

Pengalaman seperti ini memang tak terlihat buktinya. Tapi, setelah dirasakan sendiri baru merinding. Aku yakin ini lebih dari mimpi belaka.

Oh, jadi seperti ini gambaran "negeri lain". Seraaam minta ampun!