...Banyu Urip, yang berarti Air Hidup, bermakna air bagi kehidupan.

Kisaran bulan Juni-Juli 1992 saya dan beberapa teman mendapat lokasi Kuliah Kerja Nyata, KKN, di wilayah Pagak, sekitar 45-an kilometer arah selatan kota Malang. Kami berdua belas orang. Terdiri dari sepuluh pria dan dua wanita.

Saya dan sembilan teman pria tinggal di rumah seorang Ibu pemilik rumah makan, tepat di ujung kanan pengkolan jalan kecamatan Pagak arah ke pantai Ngliyep.

Sementara kami mahasiswa pria menginap di rumah makan, maka dua orang teman mahasiwi tinggal di rumah warga, sekitar 300-an meter dari rumah makan itu.

Tiga mingguan kemudian kami memilih proyek mini perbaikan sebuah penampungan air bagi kebutuhan warga di sebuah dusun yang letaknya sekitar dua kilometer arah barat daya kecamatan Pagak, dengan posisi di bawah bukit.

Pada tempat penampungan air sudah dibangun sejak jaman kolonial Belanda pada tahun 1931 tersebut, terdapat prasasti batu di sisi tembok bagian depan, berukir sebuah tulisan; Banjoe Oerip

Luas bangunan kolam air Banjoe Oerip sekira 40 meter persegi, dengan bangunan utama berbahan batu kali berkualitas kokoh, khas kualitas bangunan era kolonial.

Foto Kondisi Awal Kolam Penampungan Air Banjoe Oerip Sebelum Renovasi. Foto Circa Juni 1992.

Hanya saja waktu itu, kondisi kolam penampung air dan tempat mandi Banjoe Oerip sudah terbengkalai, muram, gelap, terlihat kurang layak menjadi tempat penampungan air penyedia kebutuhan air bersih dan air minum, bagi warga sekitar dusun Banyu Urip.

Sementara, air yang ditampung dalam bak dindingnya, berasal dari sumber air yang diperkirakan tak pernah surut. Karena berasal dari air sungai bawah tanah area perbukitan, dengan posisi kolam air Banjoe Oerip di bawah bukit.

Mungkin, oleh karena sumber air yang abadi, maka kolam penampungan air itu dinamakan Banjoe Oerip, yang dalam ejaan yang disempurnakan terbaca Banyu Urip, yang berarti Air Hidup, bermakna air bagi kehidupan.

Kegiatan Renovasi kolam penampungan Banjoe Oerip oleh Tim Mahasiswa KKN Pagak bersama Masyarakat Dusun Banyu Urip. Foto Circa Juni 1992.

Perlu waktu hampir satu bulan dengan melibatkan warga setempat, perbaikan atas kolam penampungan air Banjoe Oerip dilakukan. Berbekal biaya swasembada masyarakat dan sebagian sumbangan dari beberapa perusahaan, tempat magang beberapa teman.

Melepas Lelah Sejenak Setelah Hampir Seharian Bekerja Bersama Warga Dusun Banyu Urip. Foto Circa Juni 1992.

Hasilnya, tak mengecewakan. 

Kolam penampungan air Banjoe Oerip yang tadinya tak diminati oleh warga sekitar karena kondisinya yang menyeramkan, menjadi cerah, sumringah tampak biru muda dari kejauhan. Airnya pun terlihat mengalir deras dan jernih menuju kolam penampungan.

Derasnya air sangat dimungkinkan karena proses tekanan pompa hidran alami, berkat kontur tanah yang berbukit-bukit di sekitar dusun Banyu Urip.

Hari peresmian pun tiba. 

Kami diundang oleh tokoh masyarakat dusun tersebut, untuk turut mensyukuri kegiatan renovasi kolam penampungan air Banjoe Oerip telah berjalan lancar. 

Warga setempat senang dengan penampilan baru kolam penampungan air Banjoe Oerip yang sejuk dipandang, airnya bening deras mengalir. Prasasti tahun 1931 pun tampak lebih gagah terpandang.

Kondisi Situs Kolam Air Banjoe Oerip Panca Renovasi. Foto Circa Juni 1992.

Acara syukuran pun digelar di samping bangunan penampungan air Banjoe Oerip. Hidangannya tumpeng, urap-urap trancam, ayam panggang, aneka buah segar dan beberapa jajanan pasar.

Puluhan orang menghadiri syukuran tersebut. Satu diantara mereka, saya melihat ada pria tinggi bertubuh kurus kulitnya hitam, rambut sebahu ikal warna hitam kemerahan, tak berpakaian hanya bercelana pendek serupa kain cawat.

Orang itu saya lihat selalu tersenyum riang, memperlihatkan gigi geliginya yang kekuningan. Dia mengambil duduk bersila paling ujung selama acara syukuran tumpengan berlangsung.

Kami sangat menikmati acara tersebut. Beriring doa dan harapan, agar aliran air ke dalam situs kolam air Banjoe Oerip benar-benar abadi.

Selesai syukuran, seperti biasa kami pun pulang menempuh perjalanan menanjak, melalui daerah perbukitan menuju tempat penginapan.

Setiap pergi dan pulang ke dusun Banyu Urip, sejauh tak kurang empat kilometer dari penginapan untuk mengawal proses perbaikan, kami selalu berjalan kaki. 

Ketika pergi, jalannya lebih cepat karena menurun. Sebaliknya saat pulang, jalannya lumayan berat karena menanjak.

Tapi, saya tak pernah mengeluh selama perjalanan. Soalnya ada dua rekan wanita yang selalu ikut dalam rombongan. Mau sambat kok sungkan. Akhirnya ya terbiasa, malah ketagihan melangkahkan kedua kaki, berjalan.

Suasana perjalanan menanjak melewati perbukitan sepulang dari proyek renovasi kolam penampungan air Banjoe Oerip, menuju penginapan. Foto Circa 1992.

Sesampai penginapan, sambil melepas lelah, saya bertanya kepada teman-teman saya, bahwa tadi ada seorang yang tak berpakaian. Hanya bercelana dalam warna kusam, ikut dalam acara peresmian.

Semua teman saya menganggap itu guyonan, karena sama sekali tak ada yang merasa melihat sosok hitam kurus tinggi, berambut ikal panjang hitam kemerahan.

Lalu saya serius bertanya lagi ke mereka, karena saya melihat sosok itu. Sekali lagi jawabannya sama, tak ada teman saya yang melihatnya.

Saya tak melanjutkan topik bahasan. Hanya, tiba-tiba merasa tengkuk saya berasa aneh. Serasa kayak ada hembusan angin dingin lembut berdesir. Sementara, tengkuk masing-masing teman saya dirasakan oleh mereka, biasa-biasa saja.

Hanya saya yang melihat sosok yang lain dari kebanyakan orang, yang hadir dalam syukuran kolam air Banjoe Oerip.

Seminggu kemudian, bertempat di salah satu studio cuci cetak foto di daerah Kepanjen, saya mengambil hasil afdruk film hasil memotret acara syukuran di situs kolam air Banjoe Oerip.

Tambah merinding saya melihat salah satu foto hasil afdruk!

Ternyata, ‘sosok’ yang saya lihat di situs kolam Banjoe Oerip terekam kamera dan tercetak sebagai foto berwarna. Hanya saja, wujudnya berupa bayangan hitam berada paling ujung, agak menjauhi banyak orang.

Saya pun melihat ‘sosok’ itu dalam foto, sedang tersenyum sumringah.

Suasana syukuran selesai renovasi situs kolam air Banjoe Oerip. Foto Circa Juni 1992.


Tampak dalam lingkaran kuning adalah ‘sosok’ yang tertangkap foto tustel. Foto Circa Juni 1992.

Jika memang demikian, maka berarti makhluk dimensi lain pun turut berbahagia, apabila wilayahnya mendapat tebaran kebaikan.

Berperilaku kebaikan dan menebar manfaat, tak hanya bagi sesama manusia saja. Namun juga kepada semua makhluk ciptaan Tuhan.

Lalu, jika saat membaca tulisan ini Anda sedang sendirian, lalu di tengah kesepian tanpa suara tiba-tiba berasa ada yang menjawil pundak Anda, atau tiba-tiba tuas pintu rumah naik turun sendiri tanpa ada orang di sekitar, maka tak usahlah Anda merasa ketakutan. 

Cukup bilang lirih saja, sambil tetap melakukan kegiatan; 

"Ssttt… Sesama makhluk ciptaan, tak perlu saling menakutkan."

Selamat membaca ulang tulisan ini dan membayangkan siapa saja yang tengah berada dalam dimensi lain, di samping Anda.

Tapi tenang, tak usah takut.

Karena, ada dua malaikat Kiraman Katibin, yang dengan setia menjaga, berada di pundak kanan dan kiri Anda.


Penulis yang waktu itu mahasiswa Kimia, berfoto bareng di depan pintu masuk situs kolam air Banjoe Oerip bersama rekan-rekan satu tim KKN Pagak, mahasiswa/mahasiswi Teknik Sipil, Teknik Elektronika, Hukum, Pertanian dan Kedokteran. Foto Circa Juni 1992.