Sepi itu memang menyebalkan.

Namun di lain sisi menyenangkan dan sekaligus mendebarkan.

Keramaian bukanlah obat penyembuh rasa sepi, malah keramaian itu pembunuh.

Bagi mereka-mereka yang mengasihi rasa sepi dengan sungguh-sungguh.

Manusia telah dibiasakan dengan sepi semenjak dalam rahim ibu.

Bahkan tangisan bayi itu sepi yang mendalam.

Di antara penderitaan, tiada ada peran sepi disana.

Berbahagialah yang memiliki sepi yang berbeda dan asyik.

Sepi itu naluri, untuk saling memahami.

Sepi itu kursi yang engkau duduki, namun tiada siapapun yang peduli.

Derap waktu yang berisik, tetapi enggan untuk berbisik.

Konon sepi itu rindu yang penuh spekulasi-spekulasi tanpa esensi.

Ekspektasi yang menderuh sekedar ilusi mimpi.

Cakrawala tanpa drama sandiwara.

Menyongsong segala penjuru tanpa arah.

Mampus tergilas arus.

Hingga waktu berhenti berputar.

Sehingga skenario sepi kini kian misteri.

Sepi itu tentang apa yang terlihat oleh mata.

Lantas terdengar dengan indah oleh telinga.

Sehingga mulut enggan mencaci secara membabi buta.

Hanya ada kata-kata yang bersuara dengan makna.

Menuntut untuk menyimak secara sederhana.

Sekujur tubuhku telah mendidih oleh sepi.

Sepi yang menyelinap di arus nadi.

Sepi yang nakal.

Mencoba menerobos dalam alam pikiran.

Andai kutahu dimana ia sekarang berada.

Aku ingin menemui sepi lalu berterimakasih.

Sepi datang dan pergi tanpa ada yang bersimpati.

Pada setiap malam yang berganti pagi.

Kini dermaga sepi minim pengunjung, kecuali hari libur.

Hari-hari dimana sepi menemui para penyepi yang handal.

Berkunjung lantas menetap sebagai tamu setia.

Tanpa perlu dilayani seperti raja.

Sepi itu memang sederhana.

Dan juga penuh tanda tanya.

Kadangkala panas seperti musim semi, maupun kadangkala dingin seperti hembusan angin di malam hari.

Sepi itu memiliki keajaiban antar dimensi.

Ruang dan waktu ialah kekasih setia yang tabah.

Menerima sepi dengan sempurna.

Tanpa perlu memandang kekurangan maupun kelebihan.

Padang ilalang pun semakin hijau oleh sepi.

Gunung pasir semakin gagah dengan sepi.

Gurun pasir semakin hening terhadap sepi.

Tiada yang fana tanpa pernah menderita sepi.

Sepi dalam kefanaan itu abadi.

Angin dan gemuruh ombak pun cemburu oleh sepi.

Setiap kisah mengukir rasa sepi yang lesuh.

Lapar tanpa makanan.

Haus tanpa minuman.

Perasaan tanpa pasangan.

Hujan tanpa genangan.

Detak jantung yang jarang diperhatikan.

Tetap merangkak di padang kesunyian.

Mencari lembah yang penuh dengan keakraban.

Hakikat sepi.

Berlagak seperti singa bersama para zebra.

Memangsa atau dimangsa?

Pilihan yang sulit untuk memahami sepi.

Hitam maupun sepi, sama-sama sepi.

Langkah-langkah kaki yang menuju arah belenggu rindu.

Jangan sesekali berpikir untuk terbebas dari jeratan kesepian; Mustahil.

Sepi itu kawan setia yang menemani tanpa pamrih dan iri.

Konon gunung itu tempat paling sepi.

Tempat dimana para penyepi yang handal mencari kebjjaksanaan.

Gua-gua pengap tanpa ventilasi udara dan makanan.

Sebaik-baiknya ruang untuk merenung ialah ruang yang penuh dengan rasa sepi.

Tanpa manusia-manusia berisik yang saling mengusik.

Cepat, carilah tempat yang sepi.

Agar engkau paham akan arti perenungan.

Merenungi segala sebab dan akibat penderitaan dan kebahagiaan.

Manusia-manusia masyhur itu enggan melewatkan hari-harinya tanpa sepi.

Hati yang sepi akan penuh  dengan segala kesadaran akan diri sendiri.

Langit pun mencintai sepi, meski beribu kali di ekspansi.

Apalagi gunung yang meronta-ronta kesakitan saat manusia berbondong-bondong mencari kedamaian sepi.

Hanya laut yang tabah menghadapi sepinya nelayan menjala ikan.

Hutan-hutan pun demikian, mencoba bersabar ketika pohon-pohon sepi mulai di cabut sampai ke akar-akar kehidupan.

Entah kapan manusia akan belajar memahami sepi.

Yang pasti sepi akan datang dalam mimpi-mimpi malam.

Mencoba menggetarkan alam bawah sadar akan kemungkinan-kemungkinan yang mustahil terjadi.

Dimana ada rasa sepi, disitu ada kehidupan.

Sudah banyak sejarah yang menyatakan manusia-manusia yang gagal dalam rasa sepinya,namun kadangkala berhasil mengendalikan sepi.

Seperti kisah para filsuf yang lebih memilih gunung sebagai tempat melampiaskan kesepian.

Maupun para raja yang lebih memihak kesepian dalam kekuasaan.

Bahkan para penyair lebih berbahagia menyairkan sebuah kata-kata indah dalam kesepian yang mendalam.

Kini kita paham bahwa sepi itu berfungsi.

Sepi itu bukan hantu, kita tidak perlu mengkhawatirkan ketakutan akan sepi.

Melainkan merasakan kesepian dengan tulus.

Setiap makhluk hidup mempunyai kisah-kisah sepi yang berbeda-beda.

Beberapa diantaranya dicatat, beberapa diantaranya dibiarkan basi.

Lihatlah sekelilingmu.

Panorama sepi.

Memang kadangkala susah membedakan antara esensi sepi dan eksistensi sepi.

Namun jangan pernah melihat perbedaan itu, melainkan bersungguh-sungguh dalam sepi.

Sehingga naluri akan mampu membedakan mana yang bersih dan mana yang kotor.

Maka dari itu, sepi hadir dalam sela-sela kehidupan.

Setidaknya sesekali dan beberapa kali kita berterimakasih terhadap adanya sepi.

Sepi memang bukanlah solusi, namun dengan sepi makhluk hidup lebih mampu memperbaiki diri tanpa malu-malu.