84213_79705.jpg
Perempuan · 1 menit baca

Kisah Kasih Ayah di Balik Mata Najwa

Quraish Shihab memasuki optik besar di bilangan Blok M, Jakarta Selatan. Tangannya menggandeng Najwa, anak gadisnya yang kini dikenal sebagai presenter Mata Najwa.

“Beri anakku kacamata paling mahal,” katanya kepada penjaga. Penjaga menunjuk merek mahal, Rodenstock, yang sejuta rupiah harganya.

“Tak apa, anakku yang cantik, pantas memakai kacamata mahal,” Quraish berkata.

Harga yang cukup tinggi, untuk tahun 1987, dan buat siswa kelas IV sekolah dasar. Cukup mahal pula, untuk dosen seperti Quraish. Tapi ia ingin membesarkan hati putrinya, Najwa yang sedih karena harus berkacamata. Quraish selalu ingin anak-anaknya feel good about herself.

Bagi Quraish, kepercayaan diri sangat penting, agar anak-anak mampu merespons persoalan dan tantangan hidup. Mereka juga harus dikondisikan untuk nyaman dengan dirinya. Itu syarat penting tumbuhnya kepercayaan diri.

Nana mulai merasa ada yang aneh dengan matanya saat nonton televisi. Padahal itulah salah satu kesukaannya. Dengan saksama ia perhatikan cara presenter menyampaikan berita. Dan diam-diam Nana kecil pun mempraktikkannya di depan cermin.

Yang pertama kali sadar ada masalah pada mata Nana adalah Fatimah, Sang Bunda. Diajaknya sang putri ke dokter spesialis mata. Hasilnya, Nana disarankan berkacamata, agar tak makin parah deritanya.

Nana menolak. Ia kesal dan malu, harus memakai kacamata, di usia anak-anak.
Quraish paham perasaan putrinya. Tapi ia juga sepakat dengan anjuran dokter padanya. Persoalannya, bagaimana agar putri yang semasa kecil dijuluki “Kiting”, karena rambutnya keriting seperti orang Ambon, itu bisa merasa nyaman berkacamata?

Beli kacamata mahal!

Itulah solusinya. Bukan untuk bermewah-mewah, tapi untuk membesarkan hati Nana.
Benar saja, Nana tak lagi menolak. Ia bahkan bangga memakai kacamata itu ke sekolah dan ke mana saja. Ditunjukkannya kacamata itu pada setiap khalayak. Bangga dan gaya. Memasuki SMA, Nana meninggalkan kacamata dan mengandalkan contact lens sebagai gantinya.
Quraish paham betul, mata adalah salah satu kekuatan Najwa. Dulu setiap Rabu malam, Sang Ayah duduk di depan pesawat televisi, mengikuti dengan saksama mata tajam anaknya menguliti nara sumber yang hadir pada program talkshow yang dibawakan: Mata Najwa.
Setelah menjeda sejak Agustus 2017 lalu, kini Mata Najwa kembali hadir setiap Rabu, walau bersama stasiun televisi yang baru. Tapi tak mengapa, yang penting Najwa terus tetap mengalir di jalur yang dicintainya, jurnalistik. Tak mengapa juga sampai saat ini Najwa tetap setia pada anggapannya bahwa Arsenal adalah klub paling apik. Suka-suka dia ajalah. Apa kita layak memaksakan kehendak?