Aku ora pingin kowe lungo, aku ora pingin kowe muleh, aku mung pengen kowe ono.

Cukup banyak alasan untuk tergiur menonton Istirahatlah Kata-Kata (IKK). Pertama, film ini dipuji bagus oleh beberapa media ternama. Sebutlah artikel Kompas dan Rolling Stone.  Kedua, IKK telah tayang di berbagai festival film Internasional.

Istirahatlah Kata-Kata sudah tayang di The Pacific Meridian International Film Festival Vladivostok Rusia, Festival del Film Locarno Swiss, Festival Des 3 Contines Prancis, International Film Festival Rotterdam, Belanda dan Filmfest Hamburg, Jerman. IKK tayang di festival-festival tersebut sebelum naik layar di Indonesia.

Ketiga, latar belakang hidup Wiji Thukul sebenarnya sangat menarik difilmkan. Penyair, aktivis dan buronan rezim otoriter Orde Baru. Tentu akan muncul ekspektasi adanya drama perlawanan yang penuh semangat dan drama yang mencekam.

Dibuka adegan gadis kecil yang diinterogasi polisi tentang keberadaan ayahnya, menerbitkan imajinasi adegan-adegan teror menakutkan pada babak-babak berikutnya. Gadis kecil itu adalah Fitri, putri Wiji Thukul. Bersama itu muncul pula karakter Sipon (Marissa Anita) dengan kesunyiannya.

Scene lalu berpindah ke seorang kumal dalam pelarian. Orang itu adalah Wiji Thukul (WT diperankan Gunawan Maryanto). Penyair, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dikejar-kejar rezim otoriter Orde Baru. Wiji Thukul menjadi buron setelah PRD berdiri dan Peristiwa 27 Juli 1996.

Wiji Thukul bersembunyi di rumah beberapa kawan di Pontianak. Di sana WT sempat mengisolasi diri di dalam kamar. Ia juga takut bepergian sendiri. Sampai WT memutuskan membuat KTP atas nama Paul. Ia mulai pergi mencukur rambut, membuat pas foto. WT pun dapat menikmati hidup.

WT pergi minum tuak bersama kawan-kawannya. Ia menelepon Sipon dan membeli oleh-oleh untuk Sipon di pasar. WT akhirnya memutuskan pulang ke Solo. Melepaskan kerinduan pada Sipon dan anak-anaknya.

Alur cerita IKK relatif lambat dengan suasana gelap, sunyi dan senyap. IKK membangun suasana kesunyian, kesendirian dan kesepian seorang buron. Narasi rekam jejak perjuangan WT pada suatu adegan ditampilkan cukup menarik. Sayang hanya itu.

Sosok WT dalam IKK terasa berjarak dengan penonton awam. Bagi penonton yang sudah kenal dekat dengan WT, film ini akan jadi nostalgia sempurna. Namun bagi penonton yang tidak akrab dengan WT, film ini gagal mendekatkan sosoknya dengan penonton umum.

WT bukanlah Soekarno atau Soedirman. Narasi figur WT tidak dinarasikan berulang-ulang di sekolah seperti sosok Soekarno atau Soedirman. Film ini sebenarnya berkesempatan mengenalkan karakter WT ke penonton awam. Sekalipun tidak mengambil fokus pada figurnya. Namun sepertinya film ini bercerita sendiri tentang sosok Wiji Thukul yang sangat personal.

Karakter WT bisa saja ditampilkan seperti Gie (2005). Soe Hok Gie juga bukan “pahlawan” yang dikenal seperti Soekarno dan Soedirman. Namun Gie berhasil memperkenalkan dan mendekatkan sosok aktivis mahasiswa 1966 itu ke penonton.

Gie ditampilkan dalam figur yang relatif lengkap. Ada semangat pemberontakan, semangat intelektual, cinta, kesepian dan kemarahan. Terdapat beberapa adegan dramatis, menggugah dan mencekam dalam Gie. Seperti adegan demo Tritura, intel yang mengikuti Gie dan beberapa adegan lain.

IKK tidak menyajikan itu semua. Hidup WT dalam pelarian terkesan biasa-biasa saja. Memang ekspresi ketakutan terbaca dalam raut wajah WT. Namun semua hanya berhenti di situ. Sebagai film sejarah, sutradara sebenarnya bisa mendramatisir teror dan ancaman ke dalam adegan menarik.

Penindasan yang dilakukan rezim Orde Baru tak tergambarkan kecuali terhadap keluarga WT. padahal adegan-adegan tindakan represif rezim Orde Baru bisa menjelaskan alasan kuat WT melawan rezim sampai harus menjadi buron.

Perjuangan WT juga tak terdeskripsi jelas dan menggugah. Penonton jadi tidak mendapatkan kesan membekas alasan WT menjadi buron. Bagi penonton yang tidak berminat menggali sejarah lebih dalam malah bisa timbul kesan, WT menjadi buron karena aktivitasnya yang tak terlalu penting.

Skenario film ini terkesan dikonstruksi hanya untuk kenangan pribadi Wiji Thukul, teman-teman dan keluarganya. IKK tidak menampilkan momen-momen penting lapuknya rezim Orde Baru dan bangkitnya demokrasi Indonesia. IKK gagal membuat penonton terkesan pada pengorbanan WT beserta keluarganya demi kebebasan yang kita nikmati sekarang.

Padahal IKK sebenarnya bisa menjadi media untuk “menolak lupa”. Mengingatkan kembali pada mahalnya demokrasi yang kita nikmati sekarang. Mengingatkan bahwa kita masih punya beban masalah Hak Asasi Manusia di masa lalu yang belum selesai. Nasib orang-orang hilang yang nasibnya belum jelas sampai kini.

Namun buruknya skenario masih bisa ditutupi oleh beberapa puisi dan kutipan kalimat Wiji Thukul yang menggugah. Seperti kutipan yang kurang lebihnya:

Rumahku digeledah, buku-bukuku dirampas tapi aku berterima kasih karena kalian mengajarkan anak-anakku kewaspadaan dan makna penindasan sejak kecil

Jika kita kecewa dengan skenario, departemen akting IKK benar-benar mengesankan. Gunawan Maryanto sukses menampilkan sosok pria cadel dan sikap tubuh WT. penulis dan sutradara teater itu berhasil memukau penonton dengan wajah cemas, berani campur takut dan kesepian seorang aktivis yang sedang buron.

Marissa Anita bermain luar biasa sebagai Sipon. Aktingnya, menyebabkan kita lupa pada sosok Marissa Anita yang cerdas, ceria dan cantik sebagai pembaca berita.

Ia betul-betul berhasil menjadi perempuan lugu, setia dengan tatapan nanar menanggung kerinduan pada suaminya. Kemarahan, kesedihan, keceriaan yang ditampilkan Marissa sangat alami sebagaimana perempuan lugu yang mengalaminya.

Dibandingkan peran dalam Selamat Pagi, Malam (2014) dan 3 Nafas Likas (2014), inilah akting terbaik Marissa. Naomi dalam  Selamat Pagi, Malam dan Hilda pada 3 Nafas Likas tidak terlalu jauh berbeda dengan keseharian Marissa.

Naomi adalah perempuan metropolis berkarir. Sedangkan Hilda adalah penulis biografi yang melakukan wawancara dengan Likas Tarigan. Keduanya sangat dekat dengan hidup Marissa. Pembaca berita cerdas yang hidup di ibukota.

Namun Sipon adalah karakter yang berbeda 180 derajat dengan keseharian Marissa dan ia sukses memerankannya. Aktingnya betul-betul melunasi alur cerita yang lambat dan, dalam beberapa bagian, membosankan.

Secara keseluruhan, alur cerita IKK sangat mengecewakan jika diukur dari ekspektasi setelah melihat riuhnya tanggapan positif terhadap film ini. Namun akting mengesankan Gunawan Maryanto dan Marissa Anita sangat layak ditonton dan dipuji.