Mahasiswa
1 bulan lalu · 263 view · 3 min baca menit baca · Perempuan 82515_52616.jpg
CNBC Indonesia

Kisah Dilematis Emak-Emak Pekerja

Cerita ini sudah lama ingin diceritakan, tapi selalu punya cara berhenti dengan alasan-alasan tugas kuliah, paper, dan cucian piring atau baju kotor yang menumpuk. Namun meningkatnya obrolan kaum emak-emak di media sosial mengenai sosok Perdana Menteri (PM) New Zealand, Jacinda Ardern, akhir-akhir ini mengingatkan saya untuk menuntaskan cerita yang barangkali mewakili sisi lain emak-emak pejuang lainnya.

Nama Jacinda Arden tidak baru saja populer atas sikap simpatik dan empatiknya terhadap korban muslim yang dibantai ekstremis kanan di New Zealand beberapa waktu lalu. Sebelumnya, sosoknya sudah lebih dulu populer atas keputusannya membawa serta bayi 3 bulannya dalam pertemuan dunia di forum UN General Assembly. 

Menjalankan tugas negara sekaligus menjalankan peran sebagai ibu!

Bersamaan dengan beban pekerjaannya, perempuan sering dibebani dua isu sosial budaya yang seolah-olah harus dipilih salah satu namun tidak bisa keduanya. Pertama, berkarier tanpa anak atau beranak tanpa karier. Kedua, berkarier tinggi dengan mengorbankan anak atau berkarier biasa-biasa saja dengan alasan mengutamakan pendidikan anak.

Yang terjadi kemudian adalah sedikitnya kontribusi perempuan dalam ruang publik. Dalam skala nasional, beberapa negara seperti Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan mulai dirisaukan atas rendahnya jumlah penduduk usia produktif untuk menggerakkan perekonomian, sebagai akibat dari rendahnya minat beranak dan berumah tangga bersamaan dengan kebangkitan emansipasi perempuan di ruang publik.

Cerita Jacinda Ardern dan banyak emak-emak pejuang lainnya yang serupa namun tak tersorot kamera adalah gambaran yang membantah anggapan bahwa perempuan berkarier tidak dapat sekaligus menjadi ibu. Membantah keyakinan yang mulai berkembang bahwa memiliki anak adalah sandungan bagi karier seorang perempuan. Sehingga pilihan untuk tak beranak dan tak berkeluarga dapat dibenarkan demi karier.


Jacinda Ardern menunjukkan bahwa kehadiran anak tidak membuat kariernya sebagai PM tamat. Bukan pula posisinya sebagai PM membuatnya tak dapat menjadi ibu. Keteguhannya menjalani peran ganda sebagai PM sekaligus ibu berhasil dia jalani sebagaimana terlihat di ruang publik, UN Assembly.

Ada sebab yang menjadi musabab berkembangnya paham yang keliru mengenai pilihan beranak dan berkarier.

Menurut pengalaman saya pribadi, sumbernya ada dua, yaitu pertama faktor internal perempuan, anak dianggap sebagai beban. Beberapa teman perempuan yang saya kenal memutuskan menunda menikah atau punya anak membawa asumsi bahwa anak adalah hambatan dalam kemajuan karier. Sehingga perempuan modern memilih tak beranak, tak menikah, atau menunda kehadirannya.

Kedua, faktor eksternal, ruang-ruang publik yang tidak welcome atau tidak terbiasa menerima emak-emak sepaket dengan anak-anaknya memberikan pandangan sinisme dan tuduhan tidak profesional. Tak jarang pandangan sinis itu datang dari sesama rekan perempuan sendiri.

Saya sendiri memiliki tumpukan pengalaman-pengalaman yang serupa. Sebagai mahasiswa PhD sekaligus ibu yang memegang prinsip ummu madrosatul ulla, anak dan saya adalah satu paket yang saya bawa serta ke sana-kemari dalam aktivitas saya.

Di tengah waktu libur sekolah TK-nya, saya sertakan dia dalam aktivitas mengajar dan belajar, tentu dengan dengan pengondisian sebaik mungkin sebagai tanggung jawab saya.

Dengan demikian, saya tidak kehilangan kesempatan bekerja dan belajar di tengah waktu yang terbatas sekaligus membentuk mentalnya sedini mungkin bahwa hidup itu kumpulan perjuangan demi perjuangan.

Sayangnya, kegigihan mempertahankan konsentrasi tersebut diusik oleh beban perasaan. Sesama rekan kerja perempuan menatap sinis ketika saya membawa serta anak ke kampus. 

Petugas perpus yang keempatnya perempuan menolak saya yang sekadar mengembalikan buku bersama anak saya. Peserta international conference yang menatap aneh ketika saya menggandeng serta anak saya ke ruang conference. Atau teman kuliah yang protes kedatangan saya bersama si kecil yang hampir tak bersuara dalam sebuah ruang study room.

Pada tahap ini, perempuan yang berjuang menjalankan dua perannya dihadapkan pada tiga pilihan; ngeyel dengan sanksi sosial, menyerah mundur, atau mengurangi prestasinya karena berdamai dengan waktu dan lingkungan yang terbatas.

Tak sedikit yang akhirnya menyerah terhadap tekanan batin tersebut dengan memilih salah satu peran, yaitu berkarier dan meninggalkan anak di belakang atau membersamai anak secara penuh dengan meninggalkan karier. Di saat itulah masalah sosial baru muncul, yaitu generasi penerus yang lemah atau hilangnya kontribusi perempuan di ruang publik.


Singkatnya, ketika masyarakat menginginkan peningkatan kontribusi perempuan di ruang publik, maka kondisi alamiahnya sebagai perempuan juga mesti diterima. Potensi perempuan di ruang publik hanya dapat diciptakan ketika kehadirannya diterima satu paket dengan anak-anaknya. 

Penerimaan atas kehadiran anak di ruang kerja akan menenteramkan batin perempuan sehingga lebih produktif dalam berkarya.

Sebaliknya, penolakan terhadap anak akan melahirkan perasaan penolakan terhadap eksistensi dirinya sebagai ibu dan melahirkan perasaan tidak tenang karena meninggalkan anak-anaknya di belakang. Akibatnya, kontribusi perempuan bagi masyarakat tidak dapat dimaksimalkan.

Ruang publik yang ramah terhadap kehadiran emak-beranak tidak akan mencerabut perempuan dari keluarga dan masyarakatnya.

Note: tulisan ini tidak banyak membahas cerita perempuan yang sejak semula memutuskan untuk menjadi full-mother. Namun demikian, tak mengurangi apresiasi saya yang tinggi atas keputusan tersebut. 2 jempol dan ke-takdziman saya kepada saudari-saudari yang memilih jalan istimewa tersebut.

Artikel Terkait