It must have been love, but it’s over now,” dendang Marie Frederiksson yang baru saja berpulang bulan ini. Meski larik ini adalah old time favourite, hal ini tidak berlaku bagi hubungan penulis dengan kepenulisan. “It must have been love, but it’s (not) over yet” adalah hal yang penulis rasakan. Menulis adalah sebuah kecintaan yang belum usai. Bahkan setelah setengah tahun hiatus.

Setengah tahun ini ke mana saja? Itulah pertanyaan pertama yang penulis tanyakan kepada diri sendiri setelah Ujian Akhir Studi (UAS) terakhir Senin kemarin. Ternyata, berbagai kesibukan kehidupan perkuliahan membuat menulis rutin setiap hari sangat sulit dilakukan. Mengapa? Sebab tugas-tugas kuliah sungguh menyita waktu. Belum lagi, banyak dari tugas-tugas tersebut ya menulis juga.

Sehingga, menulis rutin terpinggirkan selama enam bulan terakhir. Selain tugas-tugas kuliah, penulis hanya mampu menyambi segelintir lomba menulis. Lantas, bagaimana rasanya setengah tahun tidak menulis rutin? Kalau boleh jujur, rasanya tidak enak. Ada ceruk kejiwaan yang tak mampu diisi penuh, bahkan dengan nyambi menulis sekalipun.

Mengapa tidak enak? Ternyata, Faroux (dalam medium.com, 2018) menyatakan bahwa ada lima manfaat utama dari menulis rutin setiap hari. Pertama, menulis rutin memperbaiki swadisiplin (self-discipline). Menulis rutin membantu kita untuk menguatkan swadisiplin dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Kedua, menulis rutin dapat memperbaiki kemampuan persuasi kita. Mengapa demikian?

Tujuan utama menulis adalah untuk meyakinkan (persuading) pembaca dan diri kita sendiri akan kebenaran pemikiran kita. Masalahnya, hanya ada satu alat yang dapat meyakinkan pembaca; Kata-kata yang runtut dan bermakna. Disinilah the art of persuading diperlukan. Akibatnya, peningkatan intensitas menulis dapat mendorong kemampuan persuasi kita.

Ketiga, menulis rutin memperdalam pengenalan kita akan diri sendiri (self-awareness). Waktu kita menulis, kita sebenarnya sedang menyelam. Menceburkan diri ke dalam jiwa kita sendiri. Mengeksplor alam pemikiran kita sendiri yang maha dalam itu. Sehingga, menulis rutin adalah medium yang “memaksa” kita melakukan penyelaman itu setiap hari. Dampaknya, kita akan semakin mengenal diri kita sendiri.

Keempat, menulis rutin membentuk kita menjadi pengambil keputusan yang bijak (wise decision-maker).

Pembentukan ini terjadi dengan dua cara. Pertama, menulis melatih kita untuk berpikir secara runtut. Tanpa cara berpikir runtut, kita pasti tidak mampu memproduksi tulisan yang baik. Kedua, menulis juga membantu kita mengeksplorasi alasan di balik sebuah keputusan. Eksplorasi inilah yang membuat kita sadar akan alasan di balik keputusan yang kita ambil.

Kelima, menulis rutin dapat membuktikan pepatah, “Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.” Dengan kata lain, ada compounding effect yang besar dari menulis rutin. Efek tersebut dapat berupa jumlah tulisan yang bertambah, kemampuan persuasi yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang menguat, dll. Maka, kita pun menjadi manusia yang lebih sempurna dalam jangka panjang.

Meninjau manfaat-manfaat di atas membuat penulis berpikir. “Jangan-jangan, ceruk kosong itu tidak terisi oleh manfaat tersebut?” Ibarat tumbuhan, jiwa penulis mengalami kekurangan nutrisi-nutrisi yang biasanya datang dari menulis rutin. Akhirnya, pertumbuhan diri itu menjadi kurang mantap, meski perkuliahan benar-benar menempa diri penulis.

Selain mengalami “puasa nutrisi”, hiatus menulis juga membuat kepuasan terhadap diri sendiri menurun. “What we all need is the satisfaction of this little uplift, that we get psychologically from finishing something,” tandas Joyce Carol Oates, penulis terkemuka Amerika Serikat. Uplift/perasaan adanya perkembangan inilah yang kurang penulis rasakan selama hiatus.

Kurangnya rasa perkembangan tersebut membuat penulis seperti kekurangan bensin. Untung saja perkuliahan memberikan bahan bakar pengganti berupa interaksi sosial yang sangat dinamis. Penulis menemukan banyak kawan yang bisa dijadikan sumber inspirasi. Tanpa mereka, penulis sudah kehabisan bahan bakar sejak awal perkuliahan.

Meski begitu, tidak ada pengganti yang senikmat aslinya. Bahan bakar yang diperoleh dari menulis lebih moncer. Oleh karena itu, liburan ini akan penulis gunakan untuk melanjutkan kisah cinta yang belum usai itu. Mari mengulang kebiasaan menulis rutin setiap hari.

Mari isi kekosongan dari hiatus satu semester kemarin. Dengan mengisinya, maka semangat untuk menyongsong semester selanjutnya pasti bertumbuh. Ketika pertumbuhan semangat terjadi, self-development pasti mengalir dengan lancar. Akhirnya, liburan ini pun dapat diisi dengan hal yang produktif, berguna, dan memberi kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain.

Disciplining yourself to do what you know is right and important, although difficult, is the highroad to pride, self-esteem, and personal satisfaction,” tandas Margaret Thatcher. Swadisiplin yang tinggi ini harus menjadi dasar dari kepenulisan setiap kita. It is our duty to live up to that standard.

Yuk! Mari menulis rutin setiap hari!