Duduk di pesawat menuju Singapura, Keara (Carissa Perusset) bergumam dalam hati. Suara hati dan pikirannya terus berbicara tentang kisah cinta yang suram dan kegagalan wisata idealnya. 

Mimpi pergi bersama laki-laki impiannya, Ruly (Refal Hardy) gagal. Keara berakhir pergi berdua bersama sahabatnya, Harris Risjad (Herjunot Ali).

Adegan pembuka tersebut mengawali kisah cinta segi empat antara Harris, Keara, Ruly, dan Denise (Atikah Suhaime). Keempat sahabat itu terlilit cinta segi empat. 

Harris memendam rasa pada Keara. Keara menyimpan cintanya untuk Rully. Sementara Rully menanti kepekaan Denise untuk menyadari perasaannya selama bertahun-tahun. Denise sendiri sudah menikah.

Ruly tetap meyakini bahwa dialah pria yang lebih tepat untuk Denise dibanding suaminya. Harris sudah melakukan segalanya agar Keara menyadari ketulusan perasaannya. 

Sementara Keara, menuju titik jenuh karena perasaannya terus diabaikan Rully. Hingga “kecelakaan” antara Harris dan Keara terjadi. Kemudian, Denise pun mengalami kecelakaan.

Cukup aman dikatakan inilah kisah cinta bapernya (terbawa perasaan) para pemberi harapan (palsu?). Keara memberi afeksi pada Harris. Ruly memberi atensi pada Keara. Denise memberi harapan (palsu?) pada Ruly.

Premis dasar film ini sebenarnya sangat menarik. Cinta segi empat antarsahabat. Terselip juga cinta dengan perempuan yang terikat tali perkawinan. 

Namun sayang, eksekusi film ini sangat lemah. Narasi pada awal film terasa terlalu panjang hingga melelahkan. Entah mengapa sutradara Rizal Mantovani tidak fokus menyajikan narasi latar belakang dalam bentuk adegan flashback.

Urgensi intervensi Ruly dalam kehidupan rumah tangga Denise tidak jelas. Sangat minimnya penggambaran suami Denise membuat penonton ragu keunggulan sifat Ruly dibanding suami Denise. Ruly pun seolah lancar saja ikut campur rumah tangga orang lain.

Padahal, menjadi orang ketiga dalam perkawinan pihak lain jelas mengundang potensi drama. Karakter Ruly dan Denise pun menjadi sia-sia di bagian akhir. Ujung kisah hubungan mereka tidak diselesaikan dan dijelaskan film ini.

Bila melihat Antologi Rasa sebagai film mandiri terlepas dari novel karya Ika Natassa berjudul sama yang menjadi sumber adaptasi film ini, perspektif yang digunakan kontradiktif dan klise. Kontradiktif karena Keara yang digambarkan sebagai perempuan cantik, cerdas, dan memesona banyak pria seolah hanya menjadi bola pingpong yang terlempar di antara dua pria.

Klise karena deskripsi perempuan yang menunggu dilamar dan takut kesepian akibat tidak punya sahabat adalah penggambaran yang kedaluwarsa. Bila ide dasar karakter Keara adalah perempuan yang sangat cantik, cerdas, dan memesona, maka konsekuensi logisnya, ia punya posisi tawar yang tinggi di antara dua pria.

Menyerahnya Keara pada norma usang “perempuan menunggu dilamar” dan kondisi “takut kesepian ditinggal sahabat” membuat karakter cerdas, tidak terduga, dan berbeda, yang diungkap Ruly dan Harris, menjadi sia-sia. Keara menjadi perempuan yang tidak berani mendobrak norma kuno. Bahkan hingga akhir film.

Kecerdasan Keara hanya dinyatakan lewat narasi singkat. Hal itu berbeda jauh dengan cara  Crazy Rich Asian mendeskripsikan kecerdasan Rachel Chu sebagai perempuan profesor ekonomi. 

Kecerdasan Rachel Chu digambarkan lewat kemampuannya menerapkan game theory. Penonton teryakinkan sekali pada kecerdasan Rachel saat menonton adegan tersebut.

Obsesi Keara pada fotografi pun tidak terjelaskan. Tidak ada dialog yang menggambarkan pemahaman teknis Keara pada dunia fotografi. Keara hanya tampak sebagai pelancong yang suka memotet. Bukan seorang fotografer. Pendeknya, pesona inner beauty Keara tidak tereksplorasi maksimal.

Harris Risjad pun ditampilkan dalam karakter banal. Karakter mansplaining-nya terasa sekali. Saat ia menjelaskan balapan F-1 panjang lebar pada Keara. Padahal Keara sama sekali tidak meminta penjelasan dan tidak tertarik. 

Teknik Haris merayu perempuan pun kedaluwarsa. Premis karakter Ruly sebagai pria tampan yang menawan tidak terlalu meyakinkan.

Carissa Perusset, Herjunot Ali, dan Refal Hardy bermain mengecewakan. Emosi para pemain tidak terkoneksi satu sama lain. Atikah Suhaime seperti hanya lewat saja. Padahal ia memerankan karakter Denise yang katanya punya masalah rumah tangga.

Ide dasar cerita ini mengisyaratkan campuran emosi antara penantian, harapan, kekecewaan, dan bersilang tegangnya perasaan antara persahabatan dengan cinta. Namun, emosi tersebut gagal dipresentasikan para aktor dan aktris.

Naskah yang lemah, durasi, dan intensitas interaksi para pemain sebelum masa pengambilan gambar bisa diduga menjadi sebab lemahnya keterhubungan emosi mereka secara alami. Selain faktor pengalaman berakting pertama kalinya, dalam kasus Carissa Perusset.

Di luar segala kekurangan, sinematografi Antologi Rasa sangat memikat. Teknik pengambilan gambar berhasil menangkap pemandangan-pemandangan indah. Pemilihan lokasi seperti Singapura dan Bali berhasil dimaksimalkan. Terdapat beberapa humor segar yang cukup mengundang senyum.

Lagu-lagu tema film ini pun cukup berkelas. Nidji, Geisha, dan D’Masiv tampak mengaransemen komposisi lagu-lagu tersebut sesuai citra kehidupan Keara, Harris, dan Ruly yang ditampilkan dalam film ini.

Secara umum, Antologi Rasa gagal menjadi sajian yang memikat di Hari Kasih Sayang 14 Februari. Tanggal ketika film tersebut dirilis. Premis cerita berupa cinta segi empat tidak tergarap dengan baik. 

Kompleksitas emosi dalam kelindan hubungan cinta yang melibatkan empat sahabat tidak berhasil memojokkan penonton di antara dua kemungkinan ekstrem, harapan dan kekecewaan.