Mahasiswa
1 minggu lalu · 393 view · 38 menit baca · Cerpen 52980_55407.jpg

Kisah Cinta Kelinci Abu-Abu dan Ulat Bulu

Pertama Kali

Rizky, begitu namaku biasa dipanggil. Aku kuliah di salah satu kampus ternama di Riau. Sekarang aku memasuki semester sembilan.

Ya, bukan berarti aku tidak ingin cepat lulus. Tetapi sekarang kampus ini berada pada masa transisi, masa di mana semua pimpinan berganti. Rektor, dekan, dan ketua jurusan, sehingga semua administrasi kampus terganggu.

Sebenarnya bukan saja faktor transisi yang membuat fokus kuliahku terganggu. Organisasi juga mempengaruhiku. Dengan terlibatnya aku sebagai pengurus di salah satu organisasi kampus, amanah inilah yang membuat aku harus bertanggung jawab pada satu tahun kepengurusan.

Aku dipandang sebagai sosok yang pemalu. Terkhusus saat bertemu atau berjumpa dengan sosok wanita. Tak tau kenapa, perasaan itu sudah tumbuh sejak aku belajar di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahkan sampai sekarangpun perasaan itu masih menghantui diri ini.

Banyak hal yang menarik yang ingin ku ceritakan disini. Tentang kenangan selama perkuliahan berlangsung. Hari di mana hidupku terasa berubah menjadi tidak seperti biasanya. Disebabkan karena suatu rasa yang masuk ke dalam hati. Cinta, begitu biasanya ia disebut.  

Semua itu berawal pada bulan Mei 2016, ketika aku masih belajar pada semester empat. Saat itu aku mengambil semester pendek untuk memperbaiki nilai dan mengambil mata kuliah atas untuk mempercepat kelulusanku.

Ada beberapa mata kuliah yang ku ambil. Salah satunya Pengantar Sistem Informasi. Mata kuliah yang wajib untuk satu fakultas, tentunya tidak asing lagi jika banyak mahasiswa dari jurusan lain yang mengambil mata kuliah ini.

Kelaspun dimulai, saat itu aku duduk di deretan kursi paling depan. Bersama dengan tiga teman satu jurusanku di sisi kiri. Dosen mulai menjelaskan pelajarannya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan. selain terpaku kedepan serta berusaha untuk fokus mendengarkan pelajaran yang diberikan.

Namun seketika fokus itu hilang. Saat teman sebelahku mencoba membuat aku menoleh ke arah seorang wanita yang berada di beberapa deret dari kursi yang aku duduki.

“Ky, coba lihat wanita itu,” begitu temanku berbisik sambil menunjuk ke arah wanita tersebut. Sontak saja mata ini bergerak menoleh ke sosok yang dituju. Yaitu sosok seorang wanita yang menggunakan baju berwarna merah muda dengan jilbab yang senada dengan warna bajunya.

Parasnya indah tanpa balutan make up yang menempel di wajahnya. Alis matanya  tebal dan penampilannya menggambarkan bahwa ia adalah wanita yang sholehah. Seketika itu pula hatiku langsung terpikat padanya.  

“Cantik,” sontak aku menjawab. “Aku bilang ke dia ya, kalau kau bilang dia cantik,” temanku berucap. “Silahkan,” jawabku menantang. Tanpa pikir panjang lagi dia melancarkan aksinya. Begitu semangatnya temanku saat itu. Dia tau kalau aku pemalu jika dihadapkan dengan seorang wanita.

Percakapan pun terjadi antara temanku dan wanita itu. Selama mereka bicara, mata ini tak berani menoleh sedikitpun dan berpura-pura fokus pada dosen yang menjelaskan.

Usai temanku selesai berbicara. Diri ini selalu bertanya-tanya dengan apa yang mereka bincangkan. Hingga akhirnya aku diberitahu bahwa nama wanita itu adalah Aisyah. Mahasiswa jurusan lain dan satu angkatan denganku.

Tidak hanya informasi nama dan jurusan yang diberikan oleh temanku. Tetapi dia juga memberikanku secarik kertas yang berisikan kontak Handphone (Hp) Aisyah. Dengan hati yang senang kusimpan kertas itu di dalam tas dengan rapi.

Beberapa hari berlalu, ketika itu aku mencoba mengeluarkan barang-barang dari dalam tas. Ada beberapa kertas yang tak terpakai dan usang.  Membuat aku berniat membuangnya. Sebelum aku buang, aku mencari mana kertas yang masih penting dan mana yang tidak.

Tiba-tiba, aku melihat secarik kertas yang tak asing bagiku. Ya, kertas yang berisikan kontak Hp Aisyah yang aku jumpai di kampus kemarin. Lama aku memandang kertas itu. Dan terniat dalam otakku untuk mencoba berkomunikasi.

Saat itu menunjukkan jam delapan malam. Hatiku tergerak untuk mencoba berkomunikasi dengannya. Aku memberanikan diri untuk menyapanya. “Assalamualaikum”, kata pertama yang muncul dari ketikan Hpku.

Centang dua, berarti pesanku telah sampai kepadanya. Tatapanku tak bisa lari dari Hp. Dari aplikasi Whatsapp (WA) aku mengirim pesan untuknya, berharap dia akan membalas sapaanku dengan ramah. Dan akhirnya saat yang ditunggu pun tiba. Centang yang awalnya hitam berubah menjadi biru. Tanda pesanku sudah dibaca.

“Waalaikumsalam” inilah kata pertama Aisyah kepadaku. Seketika jantung ini berdegup kencang, seolah-olah baru saja di beri dorongan tenaga yang kuat. Sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Betapa bahagianya aku saat itu.

Kata demi kata pun aku kirimkan. Guna untuk mencoba berkenalan lebih dekat dengannya. Setiap pesanku dibalas dengan baik. Orangnya ramah, begitu penilaianku pertama kali terhadap dia.

Malam itu aku tak bisa tidur. Tak tau kenapa mata ini tak bisa terpejam. Mungkin disebabkan karena hatiku sedang gembira. Atau karena memang aku sedang jatuh cinta. Entahlah.

Hari itu akan selalu menjadi kenangan indah sampai kapanpun. Bahkan hingga detik ini. Hari dimana aku berkenalan dengan dia. Sosok seorang wanita yang menjadi impian. Hari dimana benih cinta mulai tumbuh. Ya, cinta yang benar-benar tulus dari hati.

Waktu terus berlalu. Kini tepat pada tanggal 16 Oktober 2016. Hari ulang tahunku yang ke 19. Teman dekat dan saudariku datang untuk merayakannya. Mereka ke rumah sambil membawakan kue untuk ku.

Ternyata tidak hanya kue yang mereka bawa. Aisyah pun ikut serta dalam perayaan itu. Tak tau bagaimana cara temanku membawanya. Rupanya Aisyah sudah lebih dekat duluan dengan mereka. Mereka bersekongkol untuk membuat kejutan padaku.

Pucat seketika mukaku saat itu. Tubuhku dingin seperti tak ada lagi darah yang mengalir diurat nadi ini. Perasaan bercampur aduk antara senang dan gelisah. Gelisah karena hari itu ialah pertama kali aku berbicara langsung dengannya.

Aku mencoba untuk memberanikan diri. Menunjukkan kepada temanku bahwa aku tidak takut lagi terhadap wanita. Ku antar dia pulang dengan sepeda motor. Di sepanjang jalan aku berpikir. Mencari pembahasan untuk memulai bercerita dengannya. Aku tak tau harus mulai dari mana.

Akhirnya kata dari mulutku keluar. “Aisyah aslinya darimana?” pertanyaan pertama yang muncul. “Payakumbuh, Sumatra Barat”, sebuah jawaban yang ringkas namun sudah bisa membuat aku gemetar. Haha, aku memang tak berpengalaman akan hal ini.

Pandanganku terhadap dia saat itu adalah seorang yang pandai bergaul. Cara berbicaranya sopan dan santun. Suaranya yang lemah lembut membuat hati ini menjadi luluh. Hati kecilku berpendapat bahwa aku harus memperjuangkan wanita ini.

Setiap hari aku tak berhenti untuk mengabarinya setelah itu. Aisyah selalu membalas dengan kata yang bersahabat, hingga aku mengenal banyak tentang dirinya. Terkadang dia yang memulai berkomunikasi duluan. “Alhamdulillah, Aisyah yang dulu tidak mengenalku sekarang sudah bisa begitu dekat denganku” tuturku dalam hati.

Begitulah awal perkenalanku dengan Aisyah. Perkenalan yang begitu berharga  bagi hidupku. Namun, terkadang perkenalan tak selamanya berakhir dengan kebahagian. Perkenalan juga bisa memberikan pelajaran dan menimbulkan kekecewaan bahwa kita menyesal pernah mengenalinya.

Dalam hal ini aku akan berusaha agar perkenalan ini berakhir dengan bahagia. Ibarat seperti aku menabur benih sebuah bunga. Aku akan menjaganya, terus menyiraminya, dan senantiasa memberikan ia pupuk agar bunga tersebut bisa tumbuh dan menghasilkan bunga yang indah untuk dipandang.

Tetapi jika bunga tersebut lebih dahulu dipetik orang lain. Aku juga tak berkecil hati. Karna sejatinya aku sudah berpihak kepada Pencipta, sebab telah memberikan manfaat kepada orang lain dan berharap Pencipta memberikan bunga yang lebih indah dari yang kutanam. Aamiin.

Hari-haripun berlalu, perkuliahan baru telah dimulai. Kesibukan kuliah semakin bertambah. Tugas-tugas yang beranak-pinak semakin banyak setiap harinya. Namun hal ini tidak mematahkan semangatku. Karena ada satu alasan yang menggerakkan ku untuk selalu bersemangat ke kampus.

Karena di kampus aku mendapatkan kesempatan untuk berjumpa dengan Aisyah. Baik berjumpa tatap muka, atau hanya melihat dari jauh. Bahkan hanya sebatas melihat ruangan kelasnya saja itu sudah cukup bagiku. Aku masih terlalu takut untuk bertatap muka dengannya.

Tetapi, aku tak pernah berhenti untuk berkomunikasi melalui Hp. Malam hari atau waktu luang aku selalu manfaatkan untuk mengabarinya. Sebatas menanyakan apa kegiatan hari ini sudah cukup bagiku. Aisyah selalu membalas dengan ramah. Tak pernah sekali pun pesan cuek diberikan untukku.

Sampai tiba saatnya, aku mendapat kesempatan untuk bertatap muka dengannya. Saat itu aku sedang sibuk untuk membuat proposal magang. Tugas yang harus diselesaikan dalam semester ini.

Waktu itu aku bingung harus memulai dari mana. Kuhadapkan laptop di depanku, namun tak tau apa yang mau dikerjakan. Kupandang terus layarnya. Berharap ada hidayah yang masuk untuk mengerjakan tugas ini.

Bosan memandang laptop. Aku ambil Hp yang tergeletak di sebelahnya. Kubaca beberapa WA yang masuk. Tiba-tiba terbesit di benakku. Bagaimana jika aku meminta Aisyah untuk menolongku membuat proposal magang ini. Siapa tau dia mau menolongku.

Aku mencoba mengirimnya pesan. Tetapi aku tidak berharap banyak akan hal ini. Karena aku tidak yakin Aisyah mau berjumpa dan menolongku.

Namun, semua di luar dugaanku. Aisyah menerima dengan ikhlas untuk menolongku. Betapa gembiranya hatiku saat itu. Ya, sebab dapat menyelesaikan tugas sekaligus mendapatkan bonus untuk bertatap muka dengannya, hehe.

Aku pun berangkat menuju kampus. Sepanjang perjalanan aku terus berfikir. Tentang apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengan Aisyah nantinya. Ketakutan yang hakiki. Bahkan untuk bertemu saja sudah membuat tanganku gemetaran.

Tidak berapa lama, aku pun sampai di kampus, aku melihat dia sudah tiba lebih awal dan menunggu di kursi taman dengan tatapan fokus melihat layar laptop.

Aku masih ingat baju yang ia kenakan saat itu. Baju biru berbunga-bunga berpadu dengan rok yang senada dengan warna bajunya. Jilbab yang dilipat biasa  meneduhkan pandangan. “Sungguh indah ciptaan Allah SWT,” aku berkata di dalam hati.

“Assalamualaikum Aisyah,” ucapku.

 “Waalaikumsalam Rizky,” jawabnya dengan lemah lembut.

Kami pun mulai mengerjakan tugas dan saling bertukar pertanyaan setelah itu. Terkadang beberapa candaan aku lontarkan untuk mencoba mengakrapkan diri dengannya. Setelah sekian lama bercerita, akhirnya waktu salat ashar telah tiba.

Aku dan Aisyah beranjak dari tempat duduk untuk pergi ke Musala terdekat. Selama di perjalanan, aku melemparkan beberapa pertanyaan kepadanya. Percakapan pun terjadi.

“Aisyah, malu nggak kalau dekat dengan ki,” tanyaku

“Kenapa ngomong seperti itu? Kan kita teman,” jawabnya.

“Secara yang Ki tau Aisyah nggak pernah dekat dan berduaan seperti ini dengan cowok lain.”

“Iya sih, Aisyah juga takut jika dilihat teman satu jurusan Aisyah. Takut jadi bahan fitnah dan ejekan sama mereka. Orang tu suka jail sama Aisyah.”

“Ooh, iya Aisyah. Teman Ki juga seperti itu, mereka pasti mengejek jika Ki ada dekat dengan wanita. Mulai sekarang kita jangan terlalu nampakkan kalau kita dekat ya Aisyah.”

“Iya Ki, Aisyah setuju,” Kata Aisyah.

Percakapan inilah yang membuat kami jarang terlihat berduaan di kampus. Perasaan saling menjaga agar kedekatan kami tidak terekspos oleh temanku dan temannya.

Akhirnya, aku dan Aisyah sampai ke musala untuk melaksanakan salat ashar. Selesai salat kami pun pulang ke kos masing-masing. Aku berpamitan dengannya, dan dia membalasnya dengan senyuman yang yang menawan dan selalu aku rindukan hingga kini.

Hari demi hari aku lalui bersamanya. Keakraban kami sudah dibilang sangat dekat. Rasa malu pun tidak muncul lagi. Terkadang kami berdua saling ejek. Dia menjulukiku Kelinci Jelek Abu-Abu. Aku pun menjulukinya Ulat Bulu.

Tak tau kenapa aku memanggilnya seperti itu. Akan Tetapi, sapaan yang paling melekat sampai sekarang yaitu Awak. Panggilan ramah orang melayu kepada teman atau orang yang sangat dekat.

Pertikaian yang Berujung Kepastian

Kini aku dan Aisyah sudah menjadi teman baik. Banyak kenangan indah yang kami lalui berdua. Kenangan yang hanya kami berdua saja yang tahu. Tetapi, tidak semua kenangan itu bercerita tentang bahagia, namun kesedihan pun turut menyapa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kami juga pernah berselisih paham. Walaupun hanya tentang permasalahan kecil. Kami tetap dengan keegoisan masing-masing.

Satu hal yang membuat kesempurnaan sosok seorang Aisyah berkurang ialah karena keegoisannya. Namun, aku selalu membimbingnya agar bisa mengurangi keegoisan yang ia miliki. Akan tetapi aku juga menyadari bahwa aku juga seperti itu. Egois.

Pernah suatu ketika, pada malam itu. Aku mencoba menghubunginya via telpon. Aku lupa pembahasan apa yang kami bicarakan berdua. Yang pasti itu pembahasan yang berat hingga membuat air mata Aisyah membasahi pipi.

Tangisan dari seorang wanita yang ku sayang. Perasaanku menjadi tidak tenang. Karena ini merupakan kali pertama air matanya keluar saat berada di dekatku.

Ingin sekali aku berada di sampingnya saat itu. Tapi waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Hari sudah larut, Aku tak berani lagi mengganggunya. Kusuruh Aisyah beristirahat saat itu juga.

Aku merasa kasihan padanya, ingin rasanya hati ini mengungkapkan bahwa aku sangat menyayanginya. Namun apalah daya mulut ini belum mampu untuk berkata seperti itu. Perasaan seperti ini yang selalu membayang di fikiranku sepanjang malam. Membuat mata ini tak bisa tertutup.

Keesokan harinya, aku berangkat ke kampus. Tanpa disengaja aku melihatnya berselisih jalan denganku. Mukanya tidak lagi ceria seperti Aisyah yang aku kenal. Senyuman yang selalu dirindukan kini tak nampak lagi singgah di wajah Aisyah.

Pandangannya pun tidak seperti biasa kepadaku. Mungkin karena pembahasan tadi malam. Perasaanku jadi tak menentu. Aku menjadi serba salah karena itu.

Lalu, kukirimkan pesan kepadanya. “Assalamualaikum, Awak ada apa? kenapa mukanya murung, nggak seperti biasanya,” tuturku.

Lama kutunggu balasan pesan itu, namun tak kunjung dibalasnya. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Aisyah. Cukup lama aku menunggu hingga akhirnya Aisyah membalas pesanku. “Waalaikumsalam Awak, saya tidak apa-apa” Pesan singkat yang mengandung seribu arti di dalamnya bagiku.

Tiga hari berlalu, aku tak mendapatkan sedikit kabarpun tentang Aisyah. Hati ini terlalu takut untuk memulai berkomunikasi. Aku takut dia marah dan tak ingin lagi berteman denganku.

Di tengah-tengah kerisauanku terhadap Aisyah saat itu. Tiba-tiba saja telponku berdering. Ku lihat ada panggilan masuk dari temanku. Saat itu aku sedang berada di rumah. Percakapan pun terjadi.

“Assalamualaikum Ky, lagi dimana sekarang?” tanya temanku.

“Waalaikumsalam, aku dirumah. Ada apa tu?” jawabku.

“Bisa kamu ke kampus sebentar? ada yang mau aku tanya nih.”

“Tentang apa tu? penting gak?”

“Kesini aja dulu, penting kali ni. Aku tunggu di taman digital dekat kampus ya.”

“Iyalah aku siap-siap dulu.”

Tanpa fikir panjang lagi aku berangkat ke lokasi yang ditunjukkan kepadaku. Sesampainya di sana aku terkejut. Ada seseorang wanita yang duduk di sisi kanan temanku. Wanita yang tak asing lagi bagiku.

Ya, Aisyah ada di sana saat itu. Aku heran, kenapa dia bisa ada di sana. Bukan berarti karena aku cemburu melihat mereka. Karena aku yakin temanku tak akan pernah mengecewakanku. Hanya saja menjadi pertanyaan besar dalam fikiran ini kenapa Aisyah bisa berada di sana.    

Aku tidak berani mendekati mereka. Karena aku melihat wajah Aisyah yang kurang bersahabat. Wajah yang tampak murung seperti sedang bersedih. Hingga temanku memanggilku untuk mendekat. Dengan kaki yang berat aku pun menuju ke arah mereka.

“Ada apa memanggilku?” tanyaku.

“Duduklah sini sebentar, ada yang mau aku bahas.”

“Kapan-kapan ajalah ya teman, aku ada urusan penting juga sekarang.”

“Ehh janganlah begitu Ky, sebentar saja.”  

“Maaf teman aku tak bisa sekarang, masih ada urusan yang harus aku selesaikan, Assalamualaikum.”

Aku bergerak cepat meninggalkan mereka berdua. Sengaja aku berbohong memiliki kesibukan kepada temanku. Karena aku takut yang akan ia bahas adalah permasalahanku dengan Aisyah.

Bukannya aku lepas tangan akan permasalahan ini. Hanya saja aku tidak mau masalah ini sampai ke teman-temanku. Biarlah masalah ini menjadi pelajaran antara aku dan Aisyah saja.

Hal ini terlihat selama aku bicara dengan temanku. Aisyah terlihat tunduk tak berani melihat ke arahku. Seolah-olah ada perkataan yang tak bisa ia keluarkan sendiri dari mulutnya. Sehingga ia ingin seseorang menyampaikannya kepadaku.

Aku pun pulang dengan pikiran yang tidak tenang. Ku rebahkan tubuh ke atas kasur dan ku mainkan Hp untuk menghibur diri. Tiba-tiba notifikasi WA-ku muncul pesan dari Aisyah. Isi pesannya tak begitu panjang. Aku dan Aisyah pun saling bertukar pesan.

“Awak kenapa diam2 saja tadi. Jangan ingat2 lagi masalah yang kemarin, kemarin saya yang salah Awak. Awak jangan buat saya sedih selalu. Saya suka Awak yang seperti sebelumnya. Maafkan saya yang buat Awak sedih juga,” tulis Aisyah.

“Awak jangan seperti itu. Saya diam sebab saya lihat Awak bahagia di dekat teman saya. Awak bisa curhat banyak sama dia. Nanti kalau saya bicara sama Awak, saya takut Awak sedih lagi, Awak jangan merasa saya tidak bicara sama Awak sebab saya marah. Saya hanya memberi Awak kebahagiaan meski saat tak bersama saya. Awak ingat tentang janji Awak dengan saya dan saya akan ingat janji saya dengan Awak. Saya mohon jangan diingkari itu,” balasku

“Saya sebenarnya sudah lama menyimpan rasa ini sampai waktu yang tepat untuk saya sampaikan dengan Awak. Saya suka dengan Awak. Saya jaga hati ini buat Awak. Tapi sekarang saya harus bilang dengan Awak. Saya berdo’a buat Awak,” tulis Aisyah lagi.

“Astagfirullah Awak. Jangan bicara seperti itu. Awak sudah salat? Ingat Allah Awak. Awak tak pantas bicara seperti itu. Saya yang mesti bicara seperti itu. Cukup dido’akan setiap habis salat saja Awak, untuk selalu jaga hati kita. Awak banyak-banyak istigfar. Ingat, setan suka menghasut orang-orang yang sedang bersedih. Ingat, Awak juga pernah bilang bahwa jodoh itu di tangan Allah. Kita hanya bisa berdoa agar kita bisa disatukan. Saya juga masih belum pantas buat Awak. Saya masih banyak belajar tentang agama. Sampai waktunya tiba, kalau saya sudah siap semuanya, saya akan lamar Awak, saya mau jadikan Awak istri saya. Kita berjalan di jalan yang allah ridhoi saja Awak. Sekarang kita sama-sama jaga hati saja ya Awak. Maaf jika saya salah dalam berkata,” tutupku.

Begitulah beberapa pesan yang aku dan Aisyah bicarakan. Tak disangka dia mempunyai rasa yang sama. Rasa seperti yang selama ini aku rasakan. Tetapi, aku tak mau jika kami masuk ke dalam jerat setan.

Aku harus menjaga dia dengan sepenuh hati. Aku akan mempertahankan kesucian dirinya. Tidak akan pernah kusentuh sedikit pun dirinya. Itulah janjiku pada diri sendiri.

Permasalahan aku dan Aisyah pun selesai setelah itu. Kami lalui hari-hari seperti biasanya. Seakan-akan permasalahan kami hilang begitu saja. Senyuman yang selalu aku rindukan dari wajah Aisyah kini telah kembali. Alhamdulillah, aku sudah bisa tersenyum sekarang.

Dari hal ini aku belajar bahwa permasalahan selalu datang dengan jawaban. Hingga terkadang ketika kita ingin mencari suatu jawaban, sejatinya kita harus memulai dengan satu permasalahan.

Surat Pertama

23 Maret 2017, Tibalah masa aku pergi untuk melaksanakan praktek magang. Ke Pulau Redang, Terengganu, Malaysia. Di kampus Universiti Malaysia Terengganu tujuanku. Perjalanan yang sangat jauh hingga membutuhkan waktu dua hari menuju ke sana, menggunakan bus kemudian pesawat.

Sendiri aku di negeri orang. Tanpa seorangpun teman berada di sampingku. Akupun hanya bermodalkan keberanian untuk mencoba mengasah kemampuan yang telah aku pelajari selama ini di kampus.

Allah melindungiku, alhamdulillah aku dipertemukan dengan orang-orang baik di sana. Dua minggu waktu yang harus aku lalui di pulau terpencil dan tanpa jaringan internet sedikit pun.

Konservasi penyu hijau yang menjadi judul praktek magangku. Oleh sebab itu setiap  hari aku akan bermain di pasir pantai. Ombak dan semilir angin yang berhembus yang menjadi irama musik di dalam kesendirianku, ikan-ikan, kepiting, penyu dan hewan lain sudah menjadi teman dekatku di sana.

Setiap malamnya di pantai itu aku dan para penjaga pantai serta tim relawan menunggu penyu yang naik untuk bertelur di pantai. Kami menjaga penyu di sini dengan penuh kasih sayang. Untuk membuat reptil laut terbesar ini akan selalu ada hingga dapat dilihat oleh anak cucu kelak.

Karena kelelahan menjaga penyu setiap malamnya, terkadang aku dan teman-teman hanya tidur dengan beralaskan pasir pantai dan beratapkan jutaan bintang-bintang malam.

Pemandangan yang membuat jiwa ini senantiasa selalu bersyukur kepada sang pencipta dan berterimakasih, karna telah menciptakan seluruh isinya dengan penuh keindahan dan keajaiban.

Ada satu keajaiban alam yang tak pernah aku lihat di pulau manapun tetapi ada di pulau ini. Yaitu, setiap malamnya aku selalu ditemani oleh bintik cahaya biru kecil terang yang menghiasi di sepanjang pasir pantai. Orang di sini biasanya memanggil dengan nama Blue Sand.

Yaitu mikroorganisme laut yang dapat mengeluarkan cahaya berwarna biru yang hidup di antara pasir pantai dan air laut. Mikroorganisme ini biasanya akan mengeluarkan cahaya sendiri ketika gelombang air laut bergerak menyentuhnya.

Sungguh pengalaman praktik magang yang sangat sulit untuk dilupakan. Bertemu dengan teman-teman dari negara lain. Momen yang sangat berharga bagi hidupku. Karna aku bisa bertukar pengalaman dengan mereka.

Tentang apa saja keajaiban yang pencipta anugerahkan di negara mereka. Akupun tak mau kalah, kuceritakan sedikit banyaknya keajaiban yang berada di negaraku Indonesia. Menjadi kebanggaan sendiri bagi diriku ketika teman-temanku kagum mendengarnya.

Kini tibalah saatnya aku keluar dari pulau. Setelah dua minggu lamanya aku kehilangan komunikasi dengan dunia luar.

Aku mencoba mengabari orang tuaku terlebih dahulu. Menanyakan kabar dari mereka. Sungguh lega hati orang tua ku karena aku sudah bisa dihubungi. Ratusan pesan WA dari teman-teman pun turut berkunjung di notifikasi Hp ini. Membuat Hp ini menjadi lelet.

Dari ratusan pesan yang masuk, pesan pertama yang aku buka yaitu pesan dari Aisyah. Puluhan pesan yang dikirimnya tak pernah terbalas. Dia sangat khawatir. Aku pun tersenyum melihat beberapa pesan yang ia kirimkan. Ku balas pesan tersebut dengan berkata bahwa aku tidak apa-apa Aisyah. Aku akan pulang secepatnya ke Indonesia. Tunggu aku.

Tak berapa lama aku membalas pesan yang ia berikan. Tiba-tiba muncul di notifikasi Hp-ku bahwa Aisyah mengirimkan email kepadaku. Tidak ku buka email itu. Karena aku sedang sibuk memesan tiket bus untuk berangkat ke Kuala Lumpur.

Perjalanan ke Kuala Lumpur memakan waktu sembilan jam. Aku tertidur karna kelelahan di dalam bus. Hingga tibalah aku di bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Saat itu waktu menunjukkan pukul lima subuh. Aku mencari musala terdekat untuk melaksanakan kewajiban salat Subuh.

Setelah salat subuh aku beristirahat sejenak. Sambil memainkan Hpku, barulah aku teringat ada email yang Aisyah kirim untukku. Ternyata dia mengirimkan aku surat. Surat yang berisi harapan dan keinginan untuk kami berdua kedepannya.

Surat yang sangat menyentuh hatiku paling dalam. Masihku simpan surat itu dengan rapi hingga saat ini. Agar tak hilang bersama kenangan yang lain bersamanya. Beginilah isi surat tersebut.

Assalamualaikum…

Awak banyak hal yang saya tulis dalam surat ini, di baca ya Awak. Ini Aisyah tulis buat kita Awak, apapun isinya semoga Awak paham dan terima ya Awak.

Awak berapa lama sudah simpan perasaan Awak ke saya itu cobaan Awak, akhirnya Allah mempertemukan Awak dengan saya yang memang tanpa Awak duga, Allah menguji kita dengan pertemuan kita, kita berjumpa sehingga hati kita merasa dekat Awak. Ini adalah ujian untuk kita Awak. Awak, Aisyah sebenarnya tahu bahwa kita tidak boleh seperti ini terus. Karena banyak hal yang akan setan desirkan dalam hati dan pikiran kita Awak.

Awak jangan sering-sering pandang saya. Awak bukan tidak boleh pandang saya, tapi takut dosa Awak. Karena setanlah yang membisikkan ke kita sehingga kita berdosa Awak. Saya tuliskan surat ini untuk kebaikan kita Awak. Saya mau bilang ke Awak, beberapa hal ini bukan berarti saya mau menghindar dari Awak, atau anggapan yang membuat Awak kecewa. Tetapi ini sesuatu yang baik untuk kita Awak. Agar kita menjadi hamba Allah yang baik.

Semoga Awak paham dan bertabah hati membaca surat ini. Awak paham dengan perasaan saya ke Awak dan saya juga paham perasaan Awak ke saya. Untuk sampai kita di pertemukan dalam ikatan yang halal, kita sebaiknya jaga jarak. Karena kalau terlalu sering kita berjumpa banyak bisikan setan ke kita Awak.

Awak, kenapa saya menolak pulang sama Awak karena kita takut kepada Allah Awak. Aisyah berjilbab ‘dalam’, dan pandangan orang lain ke kita juga tidak bagus Awak. Awak yakin dengan doa-doa yang kita pinta? 

Kalau memang Allah katakan Awak baik untuk saya dan saya baik untuk Awak. Maka kita akan Allah Pertemukan kembali. Anggaplah jarak ini cobaan bagi kita Awak, kita dekat dekatpun juga  cobaan bagi kita. 

Bagaimana kalau kita sama-sama memperbaiki diri untuk dekat dengan Allah Awak. Aisyah akan memperbaiki diri untuk senantiasa dekat dengan Allah. Karena Aisyah merasa masih jauh dengan Allah. Dulu sebelum kuliah, jarang sekali tinggal salat malam, selalu mengaji, dhuha, puasa sunah lainnya, dan saya yakin ada niat dan usaha Awak pasti bisa.

Awak, saya akan jaga hati ini untuk Awak, saya yakin Awak juga akan jaga hati Awak. Ketahuilah Awak, Aisyah tidak menuntut Awak berpangkat tinggi, orang kaya raya, tapi  saya hanya minta kemantapan agama Awak nantinya jika bersama saya. Awak, apa harapan-harapan yang tertulis lakukanlah dengan ikhlas. Meskipun  nanti kita tidak pasti bersama. 

Namun insyaallah Awak akan bahagia dengan jodoh yang Allah beri ke Awak selama agama Awak kokoh. Untuk beberapa masa kita jaga jarak ya Awak. Kita harus bersabar Awak, ini ujian berat untuk muda mudi. Tapi dengan iman yang kokoh maka bisa kita jalani.

Awak, apabila sudah tamat dari perikanan lanjutkan ke S2 ya. Karena Awak berkewajiban untuk bantu adek dan orang tua Awak. Meskipun Awak telah berkeluarga. Kalau Awak jodoh saya, saya akan suruh Awak bantu ibu dan adek Awak. Kalau Aisyah ada rejeki, Aisyah juga lanjut s2, tapi kalau belum ada rezeki, Aisyah kerja dan membantu pendidikan keponaan Aisyah.

Awak kalau suatu saat nanti memang hati Awak tetap pilih saya menjadi istri Awak, saya ada beberapa pesan untuk Awak. Jikalau Awak hendak meminang saya, saya minta hafalkan salah satu surah ini. Surah Al-Kahfi, Al-Waqiah, dan Ar-Rahman. Salah satu surat itu adalah mahar yang saya minta dari Awak. 

Dan jika komunikasi kita terputus, ataupun saya tukar no Hp dan segala macam. Awak hubungi saya via e-mail ataupun media sosial lainnya yang bisa kita berkomunikasi. Tapi saya yakin kalau jodoh kita akan dipermudahkan untuk berjumpa.

Tapi sekarang Awak semangatlah kuliah. Pikirkan juga kuliah, dan saya juga seperti itu. Masalah yang di atas ada saatnya nanti sama-sama kita bahas. Sekarang kita pikirkan kuliah dan semangat untuk belajar.

Awak seandainya tak ada orang yang mau bantu saya ketika saya butuh bantuan, saya bolehkan untuk minta bantu dengan Awak?. Juga begitu dengan saya, saya akan bantu Awak dalam masalah kuliah, skripsi Awak juga proposal magang. 

Saya bukan tidak membolehkan Awak berjumpa dengan saya. Tapi kita saling menjaga. Itulah maksud dari surat ini. Berjumpa tidak sesering biasanya. Nelpon juga tidak sesering biasanya. Untuk kuliah saya akan bantu dan jumpa dengan Awak. Oke Awak.

Saya berdoa untuk di jodohkan dengan Awak.    

Usai membaca surat dari Aisyah, aku langsung tersandar di dinding musala tempat aku beristirahat dan berdo’a. “Ya Allah, jika dia memang jodohku maka dekatkanlah hatiku dengan hatinya. Namun, jika dia bukan jodohku, maka damaikan lah hatiku dengan ketentuan-Mu.” Do’a inilah yang terus melekat dan selalu ku baca setiap habis salat waktu  itu.

Surat yang dituliskannya membuat hati ini menjadi bersemangat. Harapan yang menjadi alasan bahwa aku harus berjuang untuk menjadikannya sebagai istriku.

Berjuang untuk melantunkan surah Ar-Rahman sebagai mahar kepadanya saat ijab Kabul nanti. Berjuang untuk cepat menyelesaikan kuliah dan bekerja. Ini tekadku di dalam hati. Namun apalah daya. Manusia hanya bisa berjuang, Tetapi Allah lah yang menentukan.

Sengaja tak ku balas surat ini. Agar aku bisa memberikannya kejutan di masa mendatang. Aku tidak mau hanya memberikannya janji yang belum tentu aku penuhi. Biarlah semua itu menjadi dorongan tersendiri bagi diriku. “Semangat Rizky, Allah di sisimu” tuturku di dalam hati.

Tak berapa lama, aku pun mendengar panggilan untuk segera memasuki pesawat. Berangkat untuk pulang ke Indonesia. Mencoba memulai lagi aktivitas seperti biasanya, tapi yang pasti aku rindu dengan Aisyah.

Tak sabar rasanya hati ini ingin berjumpa dengannya. Dengan kerinduan yang selalu membayangi hati ini. Aku Berharap senyuman yang selalu aku rindukan akan menjemput kepulanganku saat itu.

Aku milikmu

Sekarang, aku dan Aisyah melakukan aktivitas seperti biasa. Terkadang aku mengajaknya untuk makan bersama. Hampir tak pernah dia menolak ajakanku. Mungkin dia tau bahwa aku memang betul-betul menjaganya. Sehingga dia percaya padaku.

Nama Aisyah selaluku kenalkan pada keluarga dan teman-teman dekatku. Bukan hanya itu saja. Surat yang Aisyah kirimkan untukku, aku perlihatkan kepada Ibuku. Menangis dia melihat keseriusan Aisyah padaku. Banyak nasehat dan motivasi yang aku dapatkan dari ibu.

Aku selalu meluangkan waktu sehabis salat untuk mencoba menghafal surah Ar-Rahman. Beberapa minggu menghafal, aku sudah berada di pertengahan surah. Setelah beberapa lama menghafal, alhamdulillah kini surah Ar-Rahman telah bersarang di fikiran ini.

Kini aku sudah memasuki semester 6. Semester dimana aku diharuskan untuk menepati Tri Satya perguruan tinggi yang ketiga. Yaitu belajar untuk turun bermasyarakat. Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di sini aku akan dipertemukan dan berbaur dengan teman dari fakultas lainnya.

Saat itu Aisyah ingin memilih desa yang sama denganku. Bukan berarti dia manja denganku, tetapi dia memiliki sifat yang kurang pandai bergaul, Sehingga dia takut untuk pergi sendiri. Sebab itulah dia bersikeras ingin ikut denganku.

Namun permintaannya aku tolak, karena aku takut tinggal serumah dengannya. Masih banyak sifat burukku yang belum di ketahui Aisyah. Hingga aku takut akan hal itu.

Akan tetapi, aku merasa salah besar karna tidak menuruti permintaannya. Pernah suatu ketika Aisyah menelponku saat KKN, aku mendengarnya menangis. Dia berjumpa dengan rekan yang tak sesuai dengannya. Aku merasa bersalah, karena dulu aku tak membiarkannya bersamaku. “Maafkan aku Aisyah, semoga engkau belajar untuk bergaul dan tetap semangat,” Pikirku dalam hati.

Aisyah juga sangat cemburu padaku. Kecemburuannya dia tuangkan dengan kata-kata bahwa aku telah berubah. Menurutnya aku terlalu sibuk sehingga tak ada waktu lagi untuknya. “Saya jengkel dan kesal lihat Awak,” ungkapnya. Kata-kata itu membuat aku sedih. Tapi aku tak pernah menampakkan kesedihanku padanya.

Akupun berpikir, mungkin dia tidak tahu bahwa aku juga menjaga hati untuknya. Dia tak mengetahui bahwa aku sangat menyayanginya. Tak ada wanita lain selain dia. Bahkan, teman KKN ku pun tahu akan hal itu. Tapi tak mengapa. Yang penting aku tidak berbuat apa yang selama ini dia curigai.

Aku juga tak merasa selalu benar. Tepat pada Juli 2017 Aisyah berulang tahun yang ke 23. Aku lupa pada hari itu. Padahal aku sudah mempersiapkan kata-kata terbaik yang ingin ku kirimkan untuknya.

Dia menelponku satu hari setelahnya, dan aku tanggapi dengan kata-kata cuek. Dia mencoba menyindirku dengan kata-kata bahwa dia baru siap dikerjai dan diberi kue. Saat itulah aku tersadar bahwa kemarin adalah hari ulang tahunnya.

Aku merasa bersalah dan meminta maaf padanya. Terkadang hal yang sepele sekalipun aku sering lupa. Sedangkan dia tak pernah sedikit pun lupa tentang aku. Maafkan aku Aisyah.

September 2017 KKN pun selesai. Semester 6 berganti dengan semester 7. Semester yang mengharuskanku melaksanakan penelitian. Aku mengerjakan proposalku sendiri tanpa bantuan Aisyah. Tak begitu sulit, karena proposalku tak jauh berbeda dengan proposal yang aku buat saat magang kemarin. Tujuan nya pun sama, yaitu kembali lagi ke Malaysia tempat dimana aku magang dulu.

Di penghujung bulan Maret, berangkatlah aku untuk melakukan penelitian. Ya, masih dengan kesendirian. Tapi untuk sekarang aku sudah tidak risau lagi. karena aku sudah mempunyai banyak teman di sana. Dosen pembimbingku pun siap bersedia untuk menjemput ke bandara ketika aku tiba.

Akan tetapi, sesampainya di sana aku mendapat kabar bahwa aku tidak bisa langsung segera masuk ke pulau karena gelombang tinggi dan tidak ada ferry untuk menyeberang pada hari itu. Aku menginap di asrama kampus selama tiga hari. Menunggu gelombang sedikit mereda sehingga bisa berlayar menyeberangi pulau.

Tiga hari yang begitu cepat bagiku. Karena aku berjumpa dengan teman lama di sana. Teman saat aku praktek magang kemarin. Aku diajak berjalan keliling kota untuk menghilangkan rasa bosanku. Tak hanya itu saja, dia meminjamkan sepedanya agar aku bisa berkeliling kampus.

Hari terakhir di asrama. Waktu itu menunjukkan pukul tiga sore. Tiba-tiba Hp ku berdering, ku angkat dan ku lihat namanya. Ternyata panggilan dari Aisyah. Tanpa fikir panjang lagi kuangkat telpon darinya. Beberapa percakapan masih aku kenang hingga saat ini.      

Intinya dia bercerita bahwa dia mau dilamar oleh seseorang. Remuk rasanya hati ini mendengar kalimat itu. Aku tak tau mau menjawab apa lagi. Aisyah bercerita sambil menangis, dan dia meminta kepastian padaku saat itu.

Aku bingung mau bicara apa kepadanya. Secara, pada saat itu aku tak ada persiapan untuk melamarnya. Bahkan, untuk berjanji kepadanya pun aku takut. Aku takut mengecewakannya kelak.

Perasaan tak menentu pun aku rasakan ketika itu. kata demi kata aku lontarkan untuknya. “Awak, saya tak bisa memastikan kalau saya siap melamar Awak sekarang. Saya masih belajar. 

Masih ada tanggung jawab yang harus saya kerjakan. Maaf Awak, bukan berarti saya tidak punya kepastian terhadap semua ini. Hanya saja sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas itu” tuturku.

Ku dengar tangisannya semakin menguat. Aku pun tak sanggup mendengarnya menangis. “Sudahlah Awak, jangan menangis lagi. Ijinkan saya penelitian di sini ya. 

Pembahasan itu nanti kita bahas setelah saya pulang ke Indonesia. Besok saya akan masuk pulau. Dua minggu saya tak akan bisa menghubungi Awak. Jadi saya tak mau mendengar Awak menangis lagi. Awak senyum ya.” Kataku untuk menghibur.

Dia pun secara perlahan mengusap air mata. Tangisan pun sudah semakin mereda. “Iya Awak, maafkan saya sudah mengatakan ini pada Awak. Saya tidak mendesak Awak. Saya hanya butuh kepastian saja dari Awak. Maafkan saya ya Awak. Semangat masuk pulaunya. Saya akan rindukan Awak.”

Aisyah pun menyudahi telponnya saat itu. Pikiranku masih terbayang-bayang dengan kata-kata yang Aisyah lontarkan untuk ku tadi. Bahkan, selama dua minggu di pulau pun aku tetap memikirkannya. Tapi aku percaya, bahwa jodoh berada di tangan Allah. Bagaimana pun caranya, baik atau burukpun, kalau sudah jodoh kita maka Allah akan beri untuk kita.

Kini tiba masanya aku pulang ke Indonesia. Aku mulai mengejar laporan hasilku. Banyak sekali permasalahanku untuk membuat laporan hasil. Mulai dari data yang kurang, data yang hilang, dan data yang harus dianalisis berkali-kali. Sungguh banyak cobaan yang ku tanggung saat itu.

Permasalahannya tak juga datang dari bidang akademis. Organisasiku pun memerlukan ku saat itu. Aku masih punya tanggung jawab di sana. Sekarang pikiranku terbelah dua. Memikirkan laporan hasil yang selalu bermasalah, dan memikirkan tanggung jawabku yang besar sebagai pengurus inti di organisasi.

Ini berdampak buruk pada bidang akademisku. Tetapi bagiku akademis saja tidak cukup untuk mendapatkan gelar sarjana. Aku juga harus mencari pengalaman untuk belajar berorganisasi. Supaya aku cukup bekal untuk turun ke masyarakat nantinya.

Dibalik kesibukan ku, Aisyah saat itu sudah menyelesaikan laporan hasilnya. Tinggal satu tahap lagi yang harus di selesaikannya yaitu ujian akhir atau kompre. Beberapa minggu setelahnya Aisyah pun sudah menyelesaikan kompre. Dia sudah sah bukan lagi menjadi mahasiswa S1. Namanya pun bertambah tiga huruf, S.Pi.

Aku tidak berada di dekatnya pada saat itu. Padahal aku sudah berjanji padanya untuk datang. Hal ini karena aku ditugaskan dosenku untuk menjadi pengawas ujian para juniorku. Aku merasa bersalah sekali. Karena aku selalu tidak ada di saat-saat penting bagi dirinya. Maafkan aku Aisyah.

Dia “Aisyah”ku.

11 Oktober 2018 merupakan  waktu wisuda Aisyah. Aku bertekad, kali ini aku harus ada di momen paling berharga baginya. Tak ku hiraukan lagi apapun yang menghadangku pada hari itu, maka berangkatlah aku. Aku melihat wajahnya sangat bahagia saat itu. Di balik cadar yang dia kenakan aku merasakan aura positif terpancar dari tubuhnya.

Keluarganya ramai berdatangan untuk melihat momen indah tersebut. Aku menjadi sedikit segan pada saat itu. Tetapi, harusku memperlihatkan keseriusanku pada keluarga ini. Kusalami satu persatu keluarga Aisyah dengan senyuman. “semoga keluarga ini akan menjadi keluargaku juga secepatnya,” pikirku dalam hati.    

Hari itu ialah pertemuan terakhirku dengannya. Aisyah memutuskan untuk pulang ke kampung kakaknya dan seterusnya langsung pulang ke Payakumbuh untuk mempersiapkan persyaratan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, kontak via telpon dan WA tak pernah berhenti.

Aku selalu menanyakan kabarnya, kegiatannya setiap hari, dan mengingatkannya waktu untuk makan. Aisyah selalu membalas pesanku dengan baik dan balik bertanya.

Terkadang kami bicara via telpon untuk sekedar melepas rindu. Ya, aku sangat merindukan sosok seorang Aisyah saat itu. Aku harap bisa lulus secepatnya dan mencoba untuk melamar Aisyah.

11 November 2018 terakhir kali aku menanyakan kabar kepadanya. Saat itu aku sibuk untuk mempersiapkan persyaratan ujian akhir dan organisasi. Aku terlalu fokus sampai tak ada sedikitpun waktu untuk mengabarinya. Namun, rinduku selalu ada untuknya. Rindu yang tak di dapatkan lagi oleh wanita manapun dalam fikiranku.

Sebulan berlalu, barulah aku mencoba mengabari Aisyah. Aku kirimkan pesan dan mencoba menelponnya, namun tak ada balasan. Nomer Hpnya selalu tidak aktif saat kutelpon. “Di mana Aisyahku? Apa kabarnya? Apakah dia masih merindukanku?,” pertanyaan ini selalu timbul dalam benakku.

Aku tak tau harus berbuat apalagi. Saat itu hanya do'a yang bisa aku sampaikan. Berharap dia baik-baik saja. Tanpa kenal lelah aku terus menerus mengirimkan pesan kepadanya. WA, email, Instagram sudah ku coba. Namun hasilnya tetap Nihil.

Satu minggu sudah aku berusaha untuk mengabarinya. Namun hal tak terdugapun terjadi. Tiba-tiba saja ada pesan collect  masuk di nomerku. Nomer yang tidak asing bagiku, nomer yang kuhafal dan selalu kuingat. Ya, Aisyah mencoba mengabariku, namun pesan singkatnya tidak dapat di baca karena aku kehabisan pulsa.

Berlari  aku menuju warung terdekat. Rasa tak sabar ingin melihat apa pesan yang Aisyah coba kirimkan padaku. Setelah pulsa terisi, aku lihat pesan yang dia kirimkan untukku. Tetapi aku heran. Isi pesannya abstrak tidak beraturan. Yang dapat ku baca saat itu iyalah kata-kata ‘Serius, saat itu saya memutuskan untuk menikah.’

Aku semakin penasaran. Kubalas pesannya dengan penuh kegelisahan. Aisyahpun membalas dan terjadilah pembicaraan antara kami berdua.

“Apa yang Awak tulis? Saya tak dapat membacanya. Cuma satu pesan yang dapat dibaca. Awak dimana? dan apa kabar? Sudah lama saya coba kabari Awak, tapi tak aktif terus nomer Hp Awak. Saya rindu Awak,” tulisku

“Sudah Wak, sudah terlambat. Saya sudah berusaha, dua surat yang saya tulis gak ada Awak respon. Sudah Wak, saya sudah berusaha, sudah sekian banyak orang yang saya tolak. Saya menunggu Awak, namun Allah tak gerakkan hati Awak untuk saya,” Aisyah membalas.

Saat itu aku masih belum faham apa yang mau Aisyah sampaikan kepadaku. Tanpa pikir panjang lagi aku coba untuk menelponnya. Kali pertama telponku tak diangkat. Kali kedua pun seperti itu. Aku terus menerus mencoba. Namun hasilnya tetap sama. Perasaanku sangat tidak menentu.

Lima menit kemudian, Aisyah menelponku. Aku mendengarnya menangis. Isak tangisnya membuat suara yang ia keluarkan menjadi tidak jelas. Aku pun memulai pembicaraan. “Awak kenapa? Apa yang Awak tangisi? Apa kabar Awak? Di mana Awak sekarang? Saya rindu Awak di sini.”

Pertanyaanku hanya dibalas dengan tangisan yang semakin kuat. Ingin sekali rasanya aku berada di sampingnya dan memeluknya erat-erat saat itu. Apalah daya tangan tak sampai. Semua hanya angan-anganku yang terlalu jauh.

Begitu tangisannya sedikit reda, dia pun bercerita bahwa orang yang ingin melamarnya dahulu saat aku sedang penelitian datang kerumah untuk serius. Dia juga mendesak aku untuk meminta kepastian. Setelah panjang lebar dia bercerita dan tangisannya pun semakin kuat kembali. Aku rasa percuma saja dia menelponku saat dia menangis seperti itu.

Maka aku matikan telpon dengan sepengetahuannya. Bagiku ketika mulut tak lagi bisa berbicara, maka tulisanlah yang akan mewakili semua rasa di dalam hati ini.  Akupun mencoba mengirimkan pesan untuknya.

“Awak jangan menangis, Awak kalau mau tahu semua tentang saya, telpon ibu. Semua tentang Awak saya ceritakan sama ibu. Surat yang Awak kirim pun saya beri ibu untuk melihat. Awak jangan berpikir menikah itu seperti membalikkan telapak tangan saja, ada hal yang lebih besar daripada itu semua. 

Menikah itu bukan hanya menggabungkan dua insan yang saling mencintau. Tetapi menggabungkan dua keluarga besar yang tidak pernah saling mengenal. Sehingga lebih besar pula tanggung jawabnya. Saya harap Awak dapat mengabari ibu dan menceritakan semua keluh kesah Awak. Ibu saya pasti mau mendengarkannya. 

Saya tahu ibu saya, dan ibu saya lebih tahu saya daripada orang lain. Saya berharap Awak dapat beri saya kesempatan untuk mencari jati diri dan mental saya untuk melamar Awak. Telpon ibu jika Awak masih memperjuangkan ini dan beri saya waktu untuk mempersiapkannya. Saya sayang Awak…”

Aisyah membalas pesanku dan mengungkapkan kegelisahan hatinya. “Saya dari lama sudah memperjuangkan Awak, namun sedikit saja tak ada Allah gerakkan hati Awak ke saya. Awak tak ngerti perasaan saya saat ini. Awak, saya sudah kurus disini. 

Mungkin cuma saya yang terlalu berharap ke Awak, sehingga saya seperti ini. Saya tau, saya mendesak Awak, Cuma saya mau beritahu Awak itu saja. saya juga sudah bilang ke Awak, 100 tahun pun saya disuruh tunggu InsyaAllah saya tunggu. Saya bukan mendesak Awak, Cuma saya mau Awak jelaskan itu saja. Mau berapa tahun pun Insyaallah akan saya perjuangkan Awak.”

“Awak banyak beristigfar, Sholat Awak. Jangan terlalu berharap pada manusia. Mungkin Allah cemburu akan hal itu. Percayalah, kalau misalnya kita berjodoh pasti akan Allah berikan jalan yang terbaik”. Saya minta satu hal, kirim alamat lengkap rumah Awak kalau boleh. Kalau ada rezeki saya akan coba berkunjung. Awak jangan sedih lagi. Saya suka melihat Awak tersenyum.

“Mungkin Allah marah dengan saya yang terlalu berharap. Sudahlah Awak, selesaikan kuliah Awak. Walaupun kita tidak berjodoh, Awak bagi saya tetap selalu ada. Selamat berjuang, semoga cita-cita Awak tercapai. Ingat Awak, surga itu lebih indah dari pada dunia dan isinya.”

Itulah isi percakapanku padanya. Sesaat setelah percakapan itu, aku mendapat kiriman WA dari Aisyah. Isi pesan yang membuat aku tertunduk lemas. Aisyah mengirimku alamat lengkap rumahnya. Alamat tersebut dilampirkan di belakang surat undangan.

Ya, surat undangan yang menyatakan bahwa Aisyah akan menikah empat hari lagi dengan orang yang kemarin melamarnya.

Ku balas pesannya dengan hati yang terluka. “Ohh, selamat ya Awak (. Kisah ini akan saya kenang sepanjang hidup saya. Saya harap Awak bisa bahagia dan tak menangis lagi. Awak jaga kesehatan, banyak makan, titip salam sama ibu Awak. Sampaikan maaf saya ke dia karena tidak bisa menjadi anaknya. 

Mungkin Allah memang tidak menakdirkan kita untuk berjodoh. Mungkin Allah tidak mendengarkan do’a saya selama ini atau Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untuk saya, saya tak tahu. Selamat Awak. Awaklah wanita pertama yang membuat saya menjadi cengeng dan menangis seperti ini. Tapi tak mengapa, kehilangan Awak memang berhak untuk ditangisi dan menjadi motivasi bagi saya untuk bersemangat lagi.”

Tak lama kemudian, Aisyah membalas pesanku dengan ucapan salam perpisahan yang tersirat. “Iya Awak terimakasih atas do’anya. Awak jangan buat hati Awak sedih. Tak usah air mata Awak jatuh, cukup saya yang membuat hati saya sendiri menanggung semua ini, cukup air mata saya yang jatuh. Awak tetap dan harus bahagia. 

Pernikahan itu ibadah. Senyum saya adalah air mata berkepanjangan. Hati saya yang tak bisa saya jelaskan. Hanya di rumah Allah hati saya menjadi tenang. Jangan pernah Awak putuskan tali persaudaraan. InsyaAllah Awak akan dapat yang terbaik. Saya minta tolong cukup air mata dan hati saya saja yang menanggung. Saya sudah berusaha menolak lamaran ini, namun Allah berkehendak lain.”

Tak sanggup lagi aku membalasnya. Hancur seketika harapanku saat itu. Aisyah yang kusayang kini berada di sisi orang lain. Lama aku menangis melihat undangan itu. Membayangkan bahwa semua keinginanku untuk mempersuntingnya menjadi istriku pupus begitu saja.    

Tak berapa lama, undangan itu ku kirim kembali ke ibuku, selang beberapa menit saja ibuku langsung menelpon. “Kamu tak apa-apakan nak?” Ibuku berusaha menguatkan ku. Akupun berusaha tegar dan mengatakan aku tidak apa-apa ibu. Namun, perasaan orang tua yang tahu bahwa anaknya sedang bersedih tidak dapat di bohongi.

Pikiranku menjadi gelap saat itu. Semua orang yang berada didekatku tak ku sapa sama sekali. Yang aku pikirkan dalam otak ini adalah mengapa Aisyah begitu tega padaku. Keceriaan di wajahku sudah tertutupi oleh kesedihan. Aku berharap semua ini hanya mimpi buruk yang aku alami. Namun apalah daya, inilah kenyataan pahit yang harus aku terima.

Waktu menunjukkan pukul 11 malam, aku duduk termenung di depan teras rumah. Tiba-tiba, ada mobil berhenti di depan rumah. Ternyata ibu dan ayah ku datang dari kampung. Tujuan mereka datangpun hanya untuk menghiburku.

Menangis aku di pelukannya. Aku meminta maaf karena telah menyusahkannya. Tak hanya itu, aku juga meminta maaf karena aku tidak menepati janji untuk membawa Aisyah menjadi menantunya. Aku menceritakan semua tentang Aisyah dengan ibu. Tangisan pun mengalir di wajahnya. Maafkan aku ibu telah membuatmu khawatir.

Malam itu aku tak bisa tidur karena memikirkan Aisyah. Begitu banyak nasehat yang ibu berikan padaku. Saat itu juga aku mencoba meminta ijin kepada ibu untuk memenuhi undangan yang Aisyah berikan padaku. Tetapi, ibu melarangku untuk memenuhi undangan Aisyah.

“Janganlah nak, jangan menghancurkan kebahagian Aisyah pada hari itu. lebih banyak mudarat yang didapatkan nantinya ketika engkau datang di sana. Bukan hanya Aisyah yang akan menerimanya. Tetapi engkau akan menghancurkan keluarga Aisyah dan keluarga pihak laki-laki nantinya,” begitu pesan ibuku.

Air mataku pun tak henti keluar. Jika saja bukan ibu yang melarangku, pasti tidak aku pedulikan larangan itu dan bersikeras untuk pergi. Pergi untuk melihat terakhir kali Aisyahku walaupun hanya sekedar mengingatkannya untuk makan. Mengingatkannya jangan egois terus nanti setelah menjadi istri orang.

Tapi semua itu hanya harapan kosong semata. Aku tak kan pernah lagi berjumpa dengannya. Aisyahku telah berada di sisi orang lain. Tak ada lagi yang bisa ku perbuat. Aku merasa perjuanganku selama ini sia-sia. Tak semangat lagi aku beraktifitas seperti biasanya.

Hati kecilku terus bertanya-tanya. Mengapa engkau setega ini padaku Aisyah. Apa salahku sehingga engkau memperlakukanku seperti ini. Dengan mudahnya kau renggut kebahagianku. Kau hapus harapanku, dan kau sia-siakan semua perjuanganku untuk mempersuntingmu.

Percuma janji-janji yang engkau berikan padaku. Percuma engkau berikan aku semangat untuk kuliah dan belajar. Sia-sia hafalan Ar-Rahman yang engkau ingin aku lantunkan saat ijab Kabul kita nanti. Bahkan belum aku selesai di kampus ini engkau sudah mengingkarinya. Jadi apa maksudmu berjanji untuk selalu menunggu dan memperjuangkanku?.

Itulah pikiran negatif yang selalu terbayang di benak ini. Aku tahu engkau pasti sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolak lamaran itu. Hanya saja aku yang salah. Aku belum siap untuk melamarmu sekarang. Atau karena aku banyak melakukan perbuatan dosa. Sehingga Allah pisahkan kita untuk menjagamu dari jodoh yang salah. Aku mohon maafkan aku ya Allah.

Sekarang aku berfikir bahwa, engkau telah berhasil mengalahkan ego mu. Dengan menerima lamaran laki-laki itu engkau sudah tidak memikirkan kepentingan sendiri. Engkau telah membahagiakan orang tua dan seluruh sanak saudaramu. Bahkan juga laki-laki itu beserta keluarga besarnya. Meskipun aku yang menjadi tumbal untuk menghapus ke egoisanmu itu.

Empat hari berlalu, kini tibalah hari pernikahanmu di sana. Saat di mana hari-hariku berubah menjadi redup tak bercahaya. Aku hanya berharap engkau akan selalu tersenyum setelah drama ini selesai.

Hingga senyummu dapat melupakan kenangan antara kita. Kini doaku tidak lagi berharap untuk di dekatkan denganmu. Tetapi berharap untuk bisa melupakan semua kenangan tentangmu.

Drama dunia tak mesti selamanya bahagia. Tetapi ada suka dan duka yang harus diperankan. Aku beruntung mempunyai keluarga yang telah menyemangatiku di saat aku berada dalam keterpurukan. Orang-orang yang tahu seberapa besarnya perjuanganku terhadap Aisyahpun berduka saat itu juga.

Teman-temanku juga ikut menenangkanku. Walaupun tidak aku layani sama sekali, kalian tetap menyemangatiku. Maafkan aku teman, pikiranku gelap saat itu. Aku tak bisa memahami semua kata-kata semangat yang kalian lontarkan terus menerus untukku. Sekali lagi maafkan aku.

Kisah ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku. Di sini aku belajar bahwa jatuh cinta sebelum menikah itu adalah ujian. Ujian yang sangat berat. Namun aku harus tetap dan terus semangat. Perjuanganku masih belum selesai. Sebuah perahu tidak akan berlabuh bila dayungnya tak terkayuh.

Sekarang aku sadar bahwa aku telah jauh dari Allah, aku harus mendekatkan diri pada-Nya. Semangat dari keluarga dan teman-temanku pun sudah dapat ku fahami semuanya. Tak ada alasan lagi aku untuk mengurung diri di dalam rumah. Aku harus bangkit, masih banyak lagi orang-orang yang membutuhkanku.

Aku bertekad bahwa tidak akan wanita lain lagi di sisi ku sebelum aku berhasil. Tidak akan ada lagi Aisyah yang lain di hati ini setelah aku mempersiapkan semuanya.

Fokus ku sekarang menyelesaikan kuliah ini, mencari jalan untuk melanjutkan S2, dan bekerja sesuai bidang yang aku tekuni hingga sukses pada waktunya. Semangat ini aku persembahkan untuk kedua orang tua dan teman-temanku yang telah membangkitkanku dari keterpurukan.

Akhirnya, aku bisa melepaskan kepergian Aisyah dengan senyuman. Tiada kata yang lebih baik daripada mengucapkan selamat tinggal padamu Aisyah. "Semoga engkau selalu mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat", itu do'a yang aku hadiahkan untukmu terakhir kalinya.

Terimakasih…