Laki-laki dan perempuan sudah sejak lama dipisahkan dalam berbagai peran masyarakat. Ukuran dan kekuatan tubuh yang berbeda dianggap menjadi salah satu penyebabnya. 

Secara stereotip, laki-laki yang berfisik lebih kuat mencari nafkah ke luar rumah. Perempuan yang dapat melahirkan anak, di rumah merawat anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa laki-laki dan perempuan dapat memiliki kekuatan dan ukuran tubuh yang berbeda? Benarkah pembagian peran tersebut hanya disebabkan oleh faktor kekuatan fisik? Bagaimanakah keadaan laki-laki dan perempuan di masa depan?

Ukuran dan Kekuatan Fisik

Mayoritas makhluk hidup terbagi atas dua jenis kelamin: jantan dan betina; pada manusia, laki-laki dan perempuan. Laki-laki atau jantan menghasilkan sel sperma, sedangkan perempuan atau betina menghasilkan sel telur.

Tidak seperti manusia, pada sebagian besar makhluk hidup, jantan justru berukuran lebih kecil dibandingkan betina. Sebagian besar ikan, laba-laba, serangga, dan amfibi memiliki jantan yang lebih kecil dari betina. Jantan yang lebih besar dari betina biasanya hanya ditemukan pada mamalia dan burung.

Perbedaan ukuran jantan betina dipengaruhi oleh strategi makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan. Contohnya, ikan betina harus menghasilkan telur sebanyak mungkin untuk mendapatkan keturunan yang dapat bertahan hidup.

Ikan betina menghasilkan banyak telur agar jumlah anak ikan yang berhasil menetas mencukupi. Telur ikan sering kali tidak menetas, rusak, dan hancur oleh gangguan luar. Ikan yang sudah menetas juga belum tentu bisa bertahan hidup.

Betina yang berbadan lebih besar bisa bertelur lebih banyak, dan menghasilkan keturunan lebih banyak, sehingga keturunannya memiliki betina yang berbadan besar juga. Hal ini yang menyebabkan kebanyakan spesies memiliki betina yang lebih besar, contohnya: ikan, kupu-kupu, laba-laba, dan katak.

Kalau begitu, mengapa ada spesies yang jantannya lebih besar? Ukuran jantan yang lebih besar dikarenakan adanya persaingan antarpejantan mendapatkan betina, biasanya melalui perkelahian atau keindahan fisik. Pejantan berbadan lebih besar dan kuat, atau berpenampilan menarik lebih mudah mendapat betina.

Contoh makhluk hidup dengan pejantan yang lebih besar atau indah adalah singa, burung merak, gajah, serta sebagian besar mamalia dan burung lainnya. Manusia (Homo Sapiens) yang termasuk mamalia juga menunjukkan pola tersebut. Laki-laki umumya berbadan lebih besar dan atletis dibandingkan perempuan.

Perbedaan fisik dianggap menjadi faktor utama pembagian peran laki-laki dan perempuan. Namun, hal tersebut menimbulkan pertanyaan bagi Yuval Noah Harari, seorang sejarawan penulis buku Sapiens: A Brief History of Humankind.

Jika faktor kekuatan fisik menjadi faktor utama pemisahan peran laki-laki dan perempuan, seharusnya banyak perempuan sejak lama sudah menjalani profesi yang membutuhkan lebih sedikit tenaga. Contohnya profesi pada bidang hukum dan politik.

Namun, perempuan justru dipisahkan dari profesi tersebut sejak lama. Ironisnya, banyak perempuan menjadi buruh yang membutuhkan kekuatan fisik lebih. Oleh karena itu, kita perlu mempertimbangkan faktor lain yang dapat menjadi penyebabnya.

Otak, Kelahiran, dan Hubungan Sosial

Dibandingkan binatang-binatang lain, manusia dilahirkan prematur, ketika banyak dari sistem vital mereka masih belum berkembang. Bayi kuda jantan langsung bisa berjalan begitu lahir; anak kucing langsung meninggalkan ibunya untuk mencari makan saat usianya baru beberapa pekan.

Bayi manusia tak berdaya, bergantung selama bertahun-tahun kepada orang tua untuk ketahanan, perlindungan, dan pendidikan. – Yuval Noah Harari

Pembagian peran serta kuatnya hubungan sosial pada manusia juga dipengaruhi perkembangan ukuran otak manusia. Otak manusia cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran badannya. Hal ini menjadi salah satu faktor manusia menjadi makhluk paling cerdas di muka bumi.

Manusia paling awal hidup sekitar 2,5 juta tahun yang lalu memiliki otak sebesar 600 cm3. Manusia sekarang memiliki ukuran otak yang lebih besar, yaitu sekitar 1.200 cm3 sampai 1.400 cm3. Membesarnya otak manusia disebabkan oleh meningkatnya konsumsi daging hewan hasil buruan.

Mungkin kita akan berpikir, otak besar dan cerdas langsung menjadikan manusia makhluk paling unggul di alam bebas, melebihi singa sang raja hutan. Namun, menurut Yuval Noah Harari, otak besar justru menyulitkan manusia di alam bebas.

Otak besar menghabiskan banyak energi. Otak manusia menghabiskan 25 persen energi tubuhnya. Lain halnya dengan spesies lain seperti kera, otak kera hanya menghabiskan 8 persen energi tubuhnya.

Manusia harus makan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan energinya. Peralatan, senjata, dan kendaraan untuk berburu dan mengumpulkan bahan makanan belum tersedia seperti sekarang. Manusia harus menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk mencari makan.

Otak bayi manusia yang cukup besar membuat ukuran kepala bayi tersebut juga besar, sehingga mempersulit proses kelahiran. Bayi yang lahir ketika kepalanya masih berukuran lebih kecil dan lebih lunak, lebih mudah keluar dari rahim, sehingga ibu dan bayi selamat setelah proses kelahiran.

Bayi manusia terlahir sangat lemah dan sangat tergantung pada orang tuanya. Berbeda dengan anak kucing yang sudah dapat mencari makan setelah berusia beberapa minggu, atau anak kuda yang dapat berlari beberapa lama setelah lahir. Untuk mampu berjalan saja, bayi manusia memerlukan waktu 1 – 1,5 tahun.

Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, bayi manusia memerlukan bantuan dari ibu, ayah, dan bahkan anggota keluarga lain. Seorang ibu sendiri akan sangat kesulitan mencari makanan ketika bayinya terus memerlukan bantuan ibunya. Seorang ayah dapat membantu berburu makanan yang dibutuhkan.

Membesarkan manusia memerlukan kerja sama antarmanusia. Makin baik ikatan sosial manusia, makin tinggi kemungkinan bayi manusia untuk terus hidup dan tumbuh dewasa.

Pertanian dan Ikatan Antara Dua Manusia

Manusia mulai bercocok tanam dan berternak sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi. Manusia tidak perlu hidup berpindah-pindah untuk terus mendapatkan makanan. Manusia mulai menggarap lahan dan menetap di sana. Perubahan cara hidup manusia ini disebut revolusi pertanian.

Sebelum revolusi pertanian, yaitu pada masa berburu dan meramu, perempuan memiliki peran yang cukup kuat. Perempuan masih mengumpulkan bahan makanan dari tanaman dan hewan kecil sembari merawat anaknya, sementara laki-laki berburu hewan yang lebih besar.

Hal ini yang menciptakan ikatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri, ikatan tersebut dilakukan untuk melindungi dan membesarkan anak-anaknya sampai dewasa.

Namun, ikatan pada masa berburu dan meramu berbeda dengan ikatan pernikahan sekarang. Ikatan pada saat itu hanya bertahan selama 3 sampai 4 tahun. Setelah itu, biasanya mereka berpisah dan membentuk keluarga baru dengan pasangan yang lain.

Pasangan mulai menetap bersama seumur hidup setelah terjadinya revolusi pertanian pertama. Laki-laki yang memiliki fisik lebih kuat, berladang dan beternak. Kegiatan berladang dan beternak dapat menghasilkan hampir semua stok makanan yang dibutuhkan.

Perempuan akhirnya kehilangan perannya sebagai pengumpul bahan makanan. Peran perempuan makin terbatas pada peran domestik (peran rumah tangga) seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengurus anak-anak.

Laki-laki yang terbiasa berladang dan beternak di luar rumah cenderung bekerja di ranah publik, yang kemudian mendominasi kebijakan masyarakat. Dari sinilah terjadi ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan mulai mendapat perannya di ranah publik pada abad ke-18, setelah dimulainya revolusi industri. Pada revolusi industri, perempuan mulai masuk menjadi tenaga kerja. Banyak dari mereka juga melakukan pergerakan agar mendapatkan haknya di ranah publik, salah satunya adalah hak suara.

Pergerakan tersebut berkembang dan mencapai berbagai belahan dunia. Pergerakan tersebut berhasil membuat perempuan memiliki hak yang sama pada hampir  semua sektor. Kebanyakan dari kita mungkin sudah merasa tidak asing lagi dengan adanya perempuan yang menjadi pemimpin pemerintahan.

Masa Depan

Kita sudah melihat perkembangan laki-laki dan perempuan, baik secara biologis maupun sosial. Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah perbedaan laki-laki dan perempuan secara biologis dan sosial di masa depan? 

Sebuah studi yang dilakukan Universitas North Carolina, Amerika Serikat, meneliti lebih dari 200 tengkorak manusia pada abad 16 dan abad 20. Hasil studi menunjukkan, bentuk wajah laki-laki dan perempuan makin mirip pada abad 20.

Perubahan yang paling mencolok terjadi pada tengkorak perempuan. Perempuan abad 20 memiliki struktur wajah yang lebih besar dibandingkan perempuan pada abad 16. Kemungkinan penyebabnya adalah asupan nutrisi makanan yang membaik.

Pola yang mirip juga ditunjukkan pada artikel How Big Were Early Hominids? oleh Henry Malcolm McHenry, profesor di bidang antropologi University of California. Artikel ini menunjukkan, primata sebelumnya memiliki perbedaan antarjenis kelamin yang lebih mencolok.

Contohnya pada spesies Homo Habilis. Homo Habilis memiliki perbedaan tinggi antarjenis kelamin yang sangat mencolok, yakni sebesar 32 cm. Homo Habilis laki-laki memliki tinggi rata-rata 157 cm, sementara Homo Habilis perempuan memiliki tinggi rata-rata hanya 125 cm.

Pada manusia, tinggi rata-rata laki-laki dan perempuan hanya berbeda 14 cm. Tinggi rata-rata laki-laki 175 cm, sementara perempuan 161 cm.

Perbedaan fisik antara dua jenis kelamin ini disebut "dimorfisme seksual". Dimorfisme seksual bisa terjadi karena terbatasnya sumber daya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dimorfisme seksual memungkinkan manusia bertahan hidup pada sumber daya yang terbatas. Dimorfisme seksual dapat berkurang jika sumber daya yang tersedia banyak dan mudah didapatkan.

Kecerdasan dan kerja sama antarmanusia telah membuat sumber daya lebih banyak dan mudah didapatkan. Kita tidak perlu lagi menyusuri hutan sembari membawa tombak hanya untuk mencari makanan. Kita hanya perlu mendatangi warung makan, pasar, ataupun swalayan untuk membeli bahan makanan.

Kita tidak perlu khawatir lagi dengan gangguan hewan buas karena kebanyakan kita tinggal jauh dari habitat hewan buas. Rumah yang kita tinggali bisa menaungi kita dari hujan dan melindungi kita dari gangguan luar.

Ilmu kedokteran juga sudah meningkat pesat. Banyak penyakit mematikan kini dapat disembuhkan.

Kemajuan ini memungkinkan berbagai tipe manusia untuk tetap hidup, sehingga tekanan untuk menjaga dimorfisme seksual berkurang. Perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan kemungkinan akan makin berkurang.

Perubahan secara sosial, kultural, dan hukum memberikan setiap manusia untuk dapat berkontribusi demi kemajuan peradaban manusia. Kita tidak tahu siapa yang akan menemukan penyembuhan penyelamat banyak manusia, menemukan sumber energi alternatif, atau mengarahkan manusia pada perdamaian.

Kesimpulan

Pembagian peran berdasarkan jenis kelamin pada dasarnya adalah usaha manusia untuk merawat dan melindungi anak-anaknya. Peran laki-laki dan perempuan secara umum akan terus berubah seiring kemajuan peradaban manusia.

Kemajuan peradaban, terutama pada bidang sains, teknologi, serta layanan jasa, telah menolong dan mempermudah manusia dalam berbagai aspek, termasuk dalam merawat dan melindungi anak-anaknya. Jadi pertanyaannya adalah, mau sampai kapan membatasi diri sendiri dan orang lain hanya karena jenis kelamin?

Referensi:

Yuval Noah Harari. Sapiens: A Brief History of Humankind. London. Vintage Publishing, 2016.

Big Females Rule in the Animal Kingdom. Huffington Post, diakses 2 Maret 2019, https://www.huffingtonpost.com/daphne-fairbairn/animal-female-size_b_3177995.html.

Lund University. Meat Eating Behind Evolutionary Success of Humankind, Global Population Spread, Study Suggests. Science Daily, diakses 2 Maret 2019, https://www.sciencedaily.com/releases/2012/04/120420105539.htm.

Perkembangan Bayi: Dari Duduk hingga Berjalan. Alodokter, diakses 2 Maret 2019, https://www.alodokter.com/perkembangan-bayi-kapan-si-kecil-mulai-berjalan.

Traditional farming practices and the evolution of gender norms across the globe. Oxford University Press's, diakses 7 Maret 2019, https://blog.oup.com/2013/06/agriculture-gender-roles-norms-society.

Role of Women in the Industrial Revolution. History Crunch, diakses 9 Maret 2019, https://www.historycrunch.com/role-of-women-in-the-industrial-revolution.html#/

Analysis of Early Hominins. Palomar College, diakses 10 Maret 2019, https://www2.palomar.edu/anthro/hominid/australo_2.htm.

Study Finds Facial Structure of Men and Women Has Become More Similar Over Time. Smithsonian Insider, diakses 14 Maret 2019, https://insider.si.edu/2011/04/study-finds-facial-structure-of-men-and-women-has-become-more-similar-over-time.