Kemarin, Sabtu, 08 Mei 2021, bertepatan dengan masuknya 27 Ramadan 1442 hijriah, aku berencana buka puasa bareng (bukber) di rumah keluarga dan salat tarawih di kampung Bukku, lingkungan Copala, kelurahan Banggae, kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Dari rumahku, Polewali Mandar dapat ditempuh sekitar kurang lebihtiga puluh (30) menit untuk sekitar tiga puluh (30) kilometer.

Di hari yang bersamaan, aku akan wawancara dengan Srikandi Lintas Iman, dan Cerita Bineka agar menjadi peserta terpilih untuk menyeruakan toleransi di instagram. Kami akan mendapat beasiswa workshop dan pendampingan untuk mendapatkan materi keberagaman dari mentor-mentor berpengalaman di bidangnya. 

Wawancara denganku sudah terjadwalkan jam 16.00-16.15 WIB artinya di Sulawesi harus menambah satu jam lagi karena kami masuk dalam wilayah waktu Indonesia tengah. Akhirnya, jam lima sore, aku kasak kusuk mencari ruang wawancara onlinenya. Untungnya, seorang teman yang ikut wawancara juga menjelaskan jika menggunakan alamat zoom meeting yang sudah dijapri oleh panitia.

Oh iya, aku sampai lupa karena banyaknya kesibukan. Mulai dari ikut kajian, alias ngaji via zoom, menerima tamu untuk urusan zakat fitrah, sampai aku harus buru-buru mandi wajib di sore hari karena delapan hari kemarin berhalangan, dan aku sudah suci untuk melakukan ibadah.

Aku pun melakukan wawancara tentang apa itu toleransi, apa arti pentingnya literasi, bagaimana menanggapi isu-isu intoleran yang terjadi akhir-akhir ini, dan sebagainya. Alhamdulillah, semuanya bisa kuungkapkan dengan lancar.

Saat jam menunjukkan 17.30 WITA, adikku, Ammos, pun membalap motornya menuju Majene. Temanku, Mila yang mengajak bukber menelpon, menanyakan aku dan adikku sudah dimana, karena jam 18.00 lewat nanti kami akan buka.

Kami tiba tepat pas azan Magrib berkumandang di masjid. Kami segera menyantap es buah, kue bolu, kemudian nasi putih, ikan bakar sambal, telur dadar, sayur pecel, bakwan, dan sebagainya. Enak banget semua.

Mila memang jago masak, ia juga baik sekali. Kami pun salat magrib dengan perut yang penuh, kekenyangan. Akhirnya, kami sempat berbaring dulu. Alhasil, kami tidak langsung ke Bukku untuk salat Isya di sana. Kami ke sana setelah jam delapan lewat.

Aku dan Ammos berboncengan, Mila dengan suaminya. Ketika sampai di sana, kami mendapat tempat di belakang. Walaupun kali ini, jalan raya yang dipakai salat tidak sepenuh tahun-tahun kemarin (apalagi katanya sempat ditiadakan di tahun 2020 karena korona). Namun, Mila dan suami malah pindah tempat alias masjid untuk salat.

Tanpa Sekat-sekat

Aku sudah tiga kali salat di Bukku ini. Salat di sini "Unik". Pertama, jamaah datang dari berbagai penjuru di setiap malam 27 Ramadan, di tahun 2013 lalu, aku berkenalan dengan dua laki-laki yang datang dari Sulawesi Selatan, mereka dari Pangkep. 

Kedua, tidak ada sekat-sekat atau batas antara laki-laki dan perempuan mungkin karena saking banyaknya jamaah. Kecuali memang yang sudah datang duluan dan mendapat tempat di dekat mushalla annangguru Saleh. Namun, yang datang belakangan akan bercampur tetapi tidak bersentuhan. Kami biasanya di jalan yang berbukit-bukit dan agak berbatu karena aspalnya sudah rusak. Ini pengalamanku, di tahun 2019 ketika salat di sana, di sampingku, ada anak muda namun ia memberi jarak agak jauh pada sajadahnya dan sajadahku agar kami tidak bersentuhan.

Ketiga kami akan salat berbagai macam salat. Awalnya, salat Isya, kemudian salat ganti "Kalla" atau salat yang diqada. Maksudnya, jika ada salat wajib (salat lima waktu) yang pernah  kita tidak jalankan, akan diganti dengan salat ganti "Kalla" ini. Jadi, ada salat Duhur sebanyak empat (4) rakaat, Azhar juga sebanyak empat (4) rakaat, Magrib sebanyak tiga (3) rakaat, Isya sebanyak empat (4) rakaat, dan Subuh sebanyak dua (2) rakaat.

Kemudian kami melaksanakan salat sunat Tasbih sebanyak empat (4) rakaat. Di mana di setiap rukun salatnya, kami akan memuji Tuhan Allah SWT, bertasbih dengan mengucap: subhanallah walhamdulillah wala Ilaha illahlahu Wallahu akbar. 

Kemudian salat sunah Taubah, salat ini sebanyak dua (2) rakaat. Di mana bacaan salat pendeknya adalah surah Al Kafirun dan Al Ikhlas.

Lalu kami melaksanakan salat Hajat sebanyak dua (2) rakaat. Tiba-tiba di belakangku ada bunyi anak anjing kecil. Ternyata, ada anjing kampung yang melahirkan di sekitar sini. Kami pun pindah ke depan. Di dekat jamaah laki-laki dan diantara kendaraan, mobil dan motor.

Setelah salat Hajat, kami baru akan melaksanakan salat Tarawih sebanyak dua puluh (20) rakaat dan salat Witir atau salat penutup sebanyak sebelas (11) rakaat. 

Namun, kami pulang setelah Tarawih delapan (8), ceritanya kami lagi berafiliasi dengan organisasi Muhammadiyah dulu yang Tarawih nya delapan (8) rakaat bukan golongan  Nahdlatul Ulama yang melakukan Tarawih dua puluh (20) rakaat. 

Mengapa salat Bukku?

Adalah annangguru Saleh, seorang peletak dasar salat Bukku di Majene walaupun katanya kini jamaahnya kini terbagi di dua tempat, Pambusuang.  Beliau merupakan seorang yang dianggap sebagai wali dan Mursyid tarekat Qadariyah. 

Menurut temanku, Wais, yang kampungnya bertetangga dengan kampung Bukku, ia kurang tahu persis mengapa salat 27 Ramadan yang ramai dilaksanakan di sana. Namun, yang pasti salat di sana itu "dicanangkan" oleh Annangguru Saleh. 

Kalaupun dikatakan salat Bukku karena pelaksanaannya di kampung Bukku, namun, ada juga yang mengatakan kita akan "terbungkuk-bungkuk" ketika salat di sana karena lamanya rujuk.

Wallahu Alam Bishowab...