Mahasiswa
7 bulan lalu · 499 view · 4 min baca · Politik 18936_30642.jpg

Kiri Nurhadi Aldo

Saya mulai mengikuti IG Nurhadi Aldo beberapa hari lalu. Sesuatu yang tampaknya belum diulas selain humor dan upaya mencairkan ketegangan politik adalah sisi kiri dari Nurhadi Aldo. Saya menyukainya sebagai kiri yang lucu dan mengembirakan.

Sisi kiri dalam pemikiran dalam benak beberapa orang akan dinggap sebagai kiri yang mendekati komunis. Lagi-lagi term komunisme akan dilekatkan dengan PKI. 

Malam Kamis lalu, Mata Najwa mengulas tentang PKI dan Hantu Politik. Kiri dan PKI adalah dua kelamin yang berusaha dianggap sama. Hantu PKI akan terus bergentanyagan dalam dunia politik menjelang pemilu. Luka sejarah benturan PKI dengan elemen bangsa kita yang lain selalu dijadikan amunisi politik untuk menjatuhkan rival.

Kita tidak sedang berusaha menyembuhkan luka sejarah, tetapi malah menggaraminya untuk kepentingan kekuasaan. Tampaknya di negeri kita terdapat dua jenis manusia yang karena dituduhkan kepadanya kita tidak layak lagi sebagai manusia Indonesia, yakni tuduhan sebagai komunis dan kafir.


Akibatnya, tanpa sadar, sebagian kita menjadi alergi terhadap kiri. Buku-buku yang dianggap kiri disita. Terdapat suatu penyesalan dalam diri bahwa saat di ruang media sosial tingkat komentar yang tinggi dengan tingkat membaca yang rendah. Akhirnya menjadi ngawurlah media sosial oleh orang yang sok tahu.

Bahwa saat kita masih terpuruk sebagai suatu bangsa yang rendah dalam baca buku, saat itulah masih terjadi pelarangan buku. Ini sungguh ironi. Padahal yang menyita buku belum tahu isi sesungguhnya. Kiri semakin terpojok.

Sementara di sisi lain, negara juga tidak mau terhadap kelompok kanan. Alasan yang mencolok dan gampang disebarkan adalah radikalisme. Tuduhan sebagai teroris adalah tuduhan yang menjadi alasan pembenar untuk menindak pelaku tanpa dengan bukti yang kuat.

Jika kanan dan kiri saja tidak mau, jangan-jangan kita telah menjadi ekstrem tengah. Saat kita tanpa sadar telah menjadi opurtunis tanpa pembelaan, di situlah saya kadang merasa sedih. Padahal tampaknya kita perlu lebih ke kiri sekali lagi.

Nurhadi dalam leluconnya menyebut kiri tidak hanya buat cebok semata. Bagi saya, kiri adalah pembelaan atas kaum pinggiran. Kiri adalah simbol perlawanan atas korporasi yang sewenang-wenang.

Dalam IG dari Nurhadi, tampak beberapa kali status IG tentang berbagai kasus perampasan tanah dan kedaulatan sumber daya alam di berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari kasus di Papua, Kalimantan, Jember, Jogja, dan lain-lainnya. 

Isunya tentang kemanusiaan dan lingkungan alam. Sebut saja di antaranya adalah tentang tolak penurunan status hutan. Hingga yang terakhir tentang HAM yang belum juga diselesaikan oleh dua paslon dalam debat. Salah satunya punya dosa sejarah sebagai pelaku, yang lain sebagai pihak yang membiarkan pelanggaran HAM tidak ditindak.


Pada derajat yang akut, tampaknya basis pemikiran dan ide ide tentang pembangunisme telah membuat kita lupa bahwa terdapat sisi kemanusiaan dan lingkungan yang tersudut dan dikalahkan oleh hasrat kemajuan berlebihan. Maju memang harus. Tetapi sisi kemanusiaan adalah lebih penting. Menjadi lingkungan juga tidak boleh dipinggirkan.

Kiri Nurhadi Aldo adalah semangat perlawanan dan mewakili generasi mahasiswa yang masih tersimpan di hatinya idealisme. Suara-suara perlawanan mahasiswa menjadi senyap dalam beberapa waktu ini. Apalagi kini momentumnya adalah dunia politik.

Gerakan mahasiswa diakui atau tidak telah berlabuh sebagiannya pada mesin politik dan menjadi salah satu pendukung presiden atau caleg yang berkompetisi. Memang hal ini tidak sepenuhnya salah. Bisa jadi hal ini adalah bagian dari ritme perjuangan.

Namun suara-suara pembebasan dan kiri dari kaum intelektual juga perlu amunisi dan mesin baru untuk hangat dan terus menyala. Saya mengapresiasi Qureta sebagai salah satu web yang memiliki semangat progresif dan menampung kegelisahan dan ide-ide dari penulis muda dan mahasiswa. Kiri harus menyala. Jangan sekali-kali redup dan ditutup oleh pemilu.

Nurhadi Aldo telah membangkitkan semangat kiri. Setidaknya di tengah kelucuan dan juga warna baru yang telah diberikan, Nurhadi Aldo mengingatkan akan kaum marginal yang perlu dibela. 

Spirit Nurhadi Aldo memiliki kesamaan dan kedekatan dengan Gus Dur. Sama-sama menggunakan humor, pembelaan terhadap kemanusiaan. Bedanya, humor Nurhadi lebih menjurus terhadap kelamin dan selangkangan.

Memang patutlah saya berterima kasih terhadap kreatornya. Kabar yang beredar memiliki nama Edwin. Kelucuan yang alamiah dan dimiliki oleh Nurhadi dapat dieksplorasi dan dibumbui semangat kiri. Dengan sarkastis, seakan berteriak dan menyuarakan suatu optimisme baru: panjang umur perjuangan.

Tentu terdapat harapan penting bahwa akun-akun seperti Nurhadi akan berumur panjang. Tidak hanya selesai dalam momentum politik. Walau memang terdapat kelucuan, tetapi substansinya adalah perjuangan kelas pinggiran. Inilah yang membuat akun Nurhadi cocok dengan semangat yang dimiliki mahasiswa.


Akhirnya, ingin saya katakan bahwa kiri adalah pembebasan dari ketertindasan. Tidak menyerah pada kemunafikan. Apalagi hanya oleh fanatisme buta dalam politik. Semua muara perjuangan adalah membela kezaliman dan perjuangan masih terus harus dilanjutkan.

Walaupun saya mulai mengagumi Nurhadi Aldo, bukan berarti saya akan memilihnya di pipres nanti. Argumen yang menganggap bahwa akun ini sebagai ajakan golput adalah akibat karena keringnya selera humor dan fanatisme buta. Ternyata Nurhadi yang bisa bikin tegang alat vital/pribadi juga mampu bikin cair ketegangan di publik. Salut dan selamat menjadi kiri.

Artikel Terkait