5 hari lalu · 175 view · 3 min baca menit baca · Politik 54860_87633.jpg
Foto: Twitter

Kini Jokowi dan Prabowo Satu Gerbong

Keluhan panjang tentang kericuhan politik itu akhirnya mulai mereda lewat keteladanan. Setelah berbulan-bulan lamanya masyarakat terdikotomi oleh perbedaan pilihan pasangan calon presiden 01 Jokowi-Maruf atau pasangan calon presiden 02 Prabowo-Sandi.

Harus diakui, banyak orang meratapi bahwa diksi cebong (pendukung 01) dan kampret (pendukung 02) adalah sesuatu yang tidak pantas menghiasi politik kita. Tapi apa boleh buat, perbedaan pandangan politik telah menjelma menjadi sesuatu yang beringas dan banal. 

Tak hanya itu, kebencian antara satu dengan lainnya yang berbeda pilihan kadung mengena secara psikologi di antara para pendukung. Hingga kita sempat kehilangan impresi yang bisa menggugah nurani sebagai bagian dari sebuah bangsa yang besar dan beradab.

Suatu usaha kini dilakukan oleh dua sosok yang terlibat langsung dalam perbedaan ini, yaitu Jokowi dan Prabowo, lewat pertemuan mereka di atas Kereta MRT Jakarta (13/1). Tujuannya tentu saja adalah dalam upaya menggugah kesadaran publik yang kini sudah menjadi tantangan mendesak.

Tak terlalu lama, pasca putusan Mahkamah Konsititusi pula, Jokowi dan Prabowo akhirnya bertemu di stasiun kereta. Terlepas dari apa yang mereka bicarakan secara individu, namun gestur akrab keduanya menjadi kabar baik bagi rakyat karena secara tersirat memperteguh karakter masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang mendahulukan persatuan dan kesatuan.

Soal apakah ada oknum yang kecewa dengan pertemuan itu, tentu sesuatu hal yang berbeda dan menjadi sebuah kewajaran. Sebab, sembuhnya luka membutuhkan waktu dalam proses pengobatannya.


Satu kepastian politik yang harus dipahami saat ini adalah rakyat mengetahui bahwa kini Jokowi dan Prabowo berada pada gerbong kereta yang sama. Apa yang bisa kita lihat dari pertemuan tadi pagi di kereta adalah kebersamaan, sama-sama fokus pada tujuan bergandengan dalam rel yang sama pula.

Sebab, jika kita ibaratkan perjalanan sebuah bangsa dalam wujud kereta api harus ditentukan oleh kefokusan melaju di rel demi keselamatan seluruh penumpang. Kita dituntut untuk selalu sabar dan tepat waktu dalam mengambil tindakan.

Pun hal ini disadari betul oleh Prabowo kala Jokowi sejak 2014 mulai running untuk Pilpres dan ikut melintasi kontestasi rel pencalonan presiden yang sebenarnya sudah dirintis Prabowo sejak tahun 2004.

Pada bagian ini, setelah dua kali kalah melawan Jokowi, Prabowo dengan jiwa besar mengakui kemenangan lawannya itu. Ibarat kereta yang berhenti sejenak dan membiarkan kereta lainnya lewat lalu saling sapa sembari melambaikan tangan, demi keselamatan penumpang masing-masing. Prabowo melakukannya dengan keiklasan sebagai salah satu panutan dalam kelompok politik.

Sesuatu yang menarik adalah Jokowi dan Prabowo mengambil posisi sama di kereta. Duduk berdampingan pada gerbong yang sama membuat pemandangan sawah, wilayah kumuh, sungai hingga gedung-gedung menjadi sama.

Ini bentuk lain yang harus dipahami pula, sebenarnya saat ini Jokowi dan Prabowo mulai kembali menyamakan pandangan akan Indonesia ke depan, khususnya 5 tahun mendatang sebagai titik penting perjalanan bangsa sebelum menghadapi bonus demografi Indonesia 2025-2035. Pun tahun 2024 adalah waktu untuk Jokowi tiba di masa akhir jabatannya pada periode kedua dan selanjutnya kita akan memiliki presiden baru.

Persamaan persepsi ini memperteguh suri keteladanan Jokowi dan Prabowo dalam komitmen memajukan Indonesia. Bahwa jalan politik yang mereka pikirkan tentang ke-Indonesia-an memiliki persamaan yang sangat mendasar. 

Meski tak jarang perbedaan politik kerap menyelinap di antaranya. Khususnya dalam rangka kemuliaan politik hanya tidak sekadar dipertaruhkan karena rasa egois dan individualis, tapi dijalankan secara bersama, sama-sama bangun bangsa.

Tentu dalam konteks kenegaraan, khususnya Indonesia, pertemuan keduanya memperteguh ucapan Prabowo yang mengatakan Jokowi adalah sahabatnya dan sebaliknya.


Hal penting lain dari pertemuan ini menyangkut komitmen keduanya dalam memajukan Indonesia sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangan yang diambil masing-masing yang disesuaikan porsinya. Misalnya; terkait posisi Prabowo melalui Partai Gerindra yang tetap kritis pada kebijakan-kebijakan pemerintah ke depan. Sebab, sejatinya sahabat yang baik adalah sahabat tak lupa mengingatkan dan menegur sahabatnya dalam upaya mengawasi setiap jejak langkah pemerintahan 5 tahun mendatang.

Perbedaan pilihan Jokowi dan Prabowo dalam posisi menjadi bagian dari pemerintah dan menjadi penyeimbang tentu bukan sesuatu yang tabu dalam sistem demokrasi. Justru perbedaan pandangan politik tersebut sangat baik untuk rakyat Indonesia. 

Sebab ini bukan hanya sekadar jabatan politik, pembagian kekuasaan, dan pengelolaan sumber daya kekuasaan. Namun ini menyangkut kebersamaan dalam rangka menjaga rumah besar bernama Indonesia ke depannya.

Artinya, kita siap menyambut Indonesia baru dengan semangat yang baru pula. Lokomotif kepemimpinan yang bersih dan jujur, disinergikan dengan pengawasan yang profesional, bermartabat, dan teliti akan menghiasai perjalanan gerbong-gerbong yang berisikan penumpang, yaitu rakyat Indonesia. 

Seperti kereta api yang memerlukan proses saat melakukan perjalanan, ia harus mampir di pelbagai stasiun, mengisi bahan bakar hingga memperbaiki mesin dalam upaya memastikan seluruh penumpang merasa nyaman dan selamat menuju tujuan akhir kita, yaitu Indonesia maju, adil, dan makmur.

Artikel Terkait