Kemarin sore seorang teman datang mengunjungiku. Di sela-sela kunjungan itu, di antara banyak percakapan, ada salah satu topik percakapan yang menarik untuk saya renungkan kemudian saya tulis menjadi sebuah artikel yang sedang Anda baca ini.

“Kawan, menurutmu apa itu trias politika?” tanyaku singkat padanya.

“Saya juga tidak terlalu paham dengan yang kamu tanyakan itu, yang saya pahami hanyalah bahwa trias politika itu terdiri dari tiga komponen utama, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif,” pungkasnya santai.

Karena kawan yang satu ini saya anggap sebagai kawan yang cukup pandai dalam hal semacam ini, maka saya ingin menggali lebih dalam lagi dengan mengajukan pertanyaan sebagaimana kebiasaan anak-anak muda sekarang: banyak tanya, malas mencari tahu.

“Lalu, konsep trias politika itu untuk negara atau pemerintah?”

“Awal mulanya untuk pemerintah, tapi sekarang telah bergeser menjadi porsi negara. Dulunya, negara dan pemerintah itu berbeda. Ibaratnya Ayah, dalam sebuah keluarga, adalah kepala keluarga dan Ibu adalah kepala rumah tangga. Ayah adalah negara dan Ibu adalah pemerintah. Analoginya begitu. Akibatnya, sekarang kepala negara merangkap kepala pemerintahan, kepala keluarga sama dengan kepala rumah tangga.”

“Jadi, harusnya ada lembaga negara dan ada lembaga pemerintah. Ada kas negara, ada kas pemerintah. Ada BUMN, ada BUMP. Polri, KPK, TNI, MK, dll. itu adalah lembaga negara, bukan lembaga pemerintah,” sambungku ragu-ragu.

“Harusnya seperti itu.”

“Memang sejak kapan semua itu berubah? Kenapa berubah? Apa tujuan diubahnya sistem itu? Dan siapa yang meubah itu semua?”

 “Saya juga tidak tahu, tanya saja sama para ahli hukum tata negara,” kawan saya merespons dengan senyum sedikit kecut.

Tiba-tiba ia melompat ke topik lain.

“Apa kabar anggota dewan yang terhormat di daerah kita ini?”

“Kayaknya baik-baik semua, soalnya tidak ada ribut-ribut juga. Pokoknya, adem-adem saja.”

“Bikin apa saja mereka selama ini?”

“Mengurusi hajad hidup orang banyak. Demi kepentingan rakyat,” jawabku sambil berdeklamasi.

Kami berdua serentak tertawa terbahak-bahak.

Kalimat “demi kepentingan rakyat” adalah jenis kalimat klasik yang sering diucapkan oleh setiap politikus di Nusantara ini. Itulah yang membuat kami tertawa termehek-mehek.

Tak disangka, kawan saya ini menarik tas miliknya yang berada di sampingnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebenarnya, saat ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya itu, saya sudah berharap lebih bahwa itu adalah segepok uang seratus ribuan. Maklum saja, saya masih terbawa suasana “serangan fajar”. Dan tenyata, saya salah total. Ia memberiku sebuah buku yang halamannya sudah ia tandai.

“Daripada membicarakan topik yang berat-berat, lebih baik baca dulu ini. Tulisannya menarik,” katanya sambil memberikan buku itu padaku.

“Apa ini kawan?”

“Ambil dan baca saja dulu, nanti kamu tahu juga maksudku.”

Saya meraih buku yang tulisannya kecil-kecil itu, lalu mulai membaca halaman yang ia maksud.

“Judulnya, A Remarkable Beetle (Kumbang luarbiasa): Undur-Undur atau Kumbang Tinja,” batinku.

“Aneh! Kumbang tinja kok menarik,” batinku lagi.

 Saya pun melanjutkan membaca tulisan lawas itu.

In the early 1960s George Bornemissza, then a scientist at the Australian Government’s premier research organisation, the Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), suggested that dung beetles should be introduced to Australia to control dung-breeding flies. Between 1968 and 1982, the CSIRO imported insects from about 50 different species of dung beetle, from Asia, Europe and Africa, aiming to match them to different climatic zones in Australia. Of the 26 species that are known to have become successfully integrated into the local environment, only one, an African species released in northern Australia, has reached its natural boundary.

“Introducing dung beetles into a pasture is a simple process: approximately 1,500 beetles are released, a handful at a time, into fresh cow pats in the cow pasture. The beetles immediately disappear beneath the pats digging and tunnelling and, if they successfully adapt to their new environment, soon become a permanent, self-sustaining part of the local ecology. In time they multiply and within three or four years the benefits to the pasture are obvious.

“Dung beetles were initially introduced in the late 1960s with a view to controlling buffalo flies by removing the dung within a day or two and so preventing flies from breeding. However, other benefits have become evident. Once the beetle larvae have finished pupation, the residue is a first-rate source of fertiliser. The tunnels abandoned by the beetles provide excellent aeration and water channels for root systems. In addition, when the new generation of beetles has left the nest the abandoned burrows are an attractive habitat for soil-enriching earthworms. The digested dung in these burrows is an excellent food supply for the earthworms, which decompose it further to provide essential soil nutrients. If it were not for the dung beetle, chemical fertiliser and dung would be washed by rain into streams and rivers before it could be absorbed into the hard earth, polluting water courses and causing blooms of blue-green algae. Without the beetles to dispose of the dung, cow pats would litter pastures making grass inedible to cattle and depriving the soil of sunlight. Australia’s 30 million cattle each produce 10-12 cow pats a day. This amounts to 1.7 billion tonnes a year, enough to smother about 110,000 sq km of pasture, half the area of Victoria.

“Dung beetles have become an integral part of the successful management of dairy farms in Australia over the past few decades. A number of species are available from the CSIRO or through a small number of private breeders, most of whom were entomologists with the CSIRO’s dung beetle unit who have taken their specialised knowledge of the insect and opened small businesses in direct competition with their former employer.”

“Apa maksudnya?” responku setelah selesai membaca tulisan berbahasa Inggris, yang samar-samar saya pahami artinya.

“Paragraf ketiga pada dua kalimat terakhir menyebutkan bahwa tanpa campur tangan kumbang tinja dalam mengurai kotoran binatang, kotoran ternak akan mengotori padang rumput, membuat rumput tidak dapat dimakan oleh hewan ternak dan menghalangi tanah dari sinar matahari secara langsung. Setiap 30 juta hewan ternak di Australia menghasilkan sekitar 1,7 milyar ton kotoran binatang, cukup untuk menutupi kira-kira 110.000 km persegi padang rumput atau sekitar setengah dari luas area Victoria.”

“Belum paham kawan.”

“Maksudku, hewan sejenis kumbang tinja saja sangat besar manfaatnya bagi kehidupan di muka bumi ini, meski kerjanya hanya menggulung-gulung kotoran hewan dari sejak kecil hingga mati. Kita, manusia, sudah memberi manfaat apa selama ini untuk kehidupan?”

“Iya juga ya. Pertanyaanmu itu tidak hanya berlaku untuk kita, tetapi juga berlaku untuk para anggota dewan yang tercinta dan semua para pejabat pemerintah yang terhormat itu. Mereka sebenarnya sudah memberi manfaat apa selama ini?”

“Jangan-jangan lebih jelas guna kumbang tinja,” sambar kawanku tiba-tiba.

Kami berdua tertawa terkekeh-kekeh. []