Killing Eve dibuka dengan adegan pada Eis Café Schlekaria yang berlokasi di Vienna. 

Villanelle, gadis cantik usia dua puluh limaan, rambut brunet panjang bergelombang, sedang menatap sambil tersenyum pada seorang gadis kecil usia sekitar enam tahun yang duduk di meja seberangnya. Anak gadis itu ditemani ibunya yang tampak fokus dengan gawainya.

Gadis kecil itu mengikuti cara Villanelle menyendok dan memakan es krimnya. Mereka saling tatap dan tersenyum. Kemudian gadis kecil itu melihat ke arah karyawan cafe yang berada di balik etalase, dan mereka saling tersenyum. Villanelle menatap mereka berdua dengan raut wajah tidak suka.

Tak lama kemudian dia berdiri sambil memungut semua barang pribadinya, berjalan ke arah pintu keluar sambil memberikan tip kepada karyawan café, melewati meja anak kecil itu sambil menumpahkan wadah es krim ke baju si anak, kemudian berlalu dengan cepat ke luar café. 

Terdengar teriakan dari dalam. Villanella tetap melangkah dengan senyum puas.

Killing Eve adalah serial televisi spy thriller comedy British yang diadopsi dari novel berjudul Villanelle karya Luke Jennings, yang diproduksi oleh Sid Gentle Films untuk BBC Amerika.

Serial ini dibintangi oleh Sandra Oh sebagai Eve Polastri yang bekerja sebagai petugas keamanan di MI5. Sejak awal dia memastikan pada timnya bahwa pembunuhan kejam yang banyak terjadi akhir-akhir ini dilakukan oleh seorang perempuan. Korban biasanya bos kartel narkoba, politikus, pejabat, pengusaha, dan lain-lain.

Eve Polastri ingin sekali jadi agen yang bekerja di lapangan. Dia melakukan banyak riset tentang pembunuh tersebut. Impiannya tercapai karena dia ditugaskan untuk mengejar pembunuh itu ke Berlin. Sejak itu dia menjalankan misi di lapangan.

Villanelle selalu menyukai perempuan berambut ikal hitam panjang. Dia pernah menjalin hubungan dengan dosennya yang berakhir dengan kematian suami sang dosen. Tak peduli usia perempuan itu jauh lebih tua darinya; bila dia suka, dia akan dekati dan mencumbunya.

Villanelle mendapat protes dari handler-nya karena pacar politisi yang dia bunuh tiga hari sebelumnya di Vienna masih hidup dan sedang dirawat di rumah sakit di London. Dia harus menuntaskan pekerjaannya; membunuh perempuan itu. Karena saksi hidup itu akan diinterview MI5 dan dia di bawah pengawasan Eve.

Saat melihat di toilet rumah sakit, Villanelle melihat Eve sedang membenahi rambutnya. Villanelle memperhatikan Eve yang hendak mengikat rambutnya. “Biarkan terurai,” katanya. Mereka saling tatap sebentar, kemudian Villanelle menghilang di pintu.

Villanelle suka pada Eve.

Begitu eve keluar dari toilet, dia menemukan perempuan yang menjadi saksi itu telah mati dengan cara digorok, demikian juga tiga orang lainnya yang ada di ruangan.

Pembunuh kejam ini bernama Villanelle yang diperankan dengan amat sangat memukau dan brilian oleh Jodie Comer. Karakter Villanelle sangat kompleks: liar tapi innocent, kejam tapi perhatian, tak mengenal kata basa-basi, manipulatif, suka cari perhatian, cerdas, cepat, kuat, dan sangat fokus dalam pekerjaannya.

Villanelle mampu menguasai banyak bahasa; Rusia, Prancis, German, Inggris, Italia, dan lain-lain. Mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, memanjat dinding, berkelahi dengan skill yang tinggi, tentu mampu melakukan pembunuhan dengan memakai apa saja dengan gerakan yang sangat cepat.

Dia tidak suka basa-basi. Suatu kali saat butuh pertolongan, dia terdampar di rumah lelaki tua yang psycho juga. Suatu kali Villanelle sedang di dapur membuka laci, pria itu muncul tiba-tiba dan bertanya, “Apa yang kamu cari?” 

Dia jawab, “Pisau dapur.” 

Pria itu bertanya lagi, “Untuk apa?” 

“Untuk menikammu,” jawabnya ringan sambil tertawa kecil.

Suatu kali Eve menyewa jasa Villanelle untuk menyelidiki target. Kemudian dia kesal dan berkata bossy pada Villanelle karena tidak mengikuti aturan menyamar yang dia tetapkan. 

Kemudian Villanelle menatap tajam ke Eve katanya, “Jangan bicara seperti itu padaku, Eve! Aku suka padamu tapi tak sesuka itu. Jangan lupa itu!” katanya dengan wajah keras. Eve langsung ciut.

Salah satu adegan saat Villanelle mendatangi Eve di rumahnya. Harap diketahui, Eve pernah menikam perut Villanelle, dan sebelumnya Villanelle membunuh teman kerja Eve. Tapi kemudian untuk urusan pekerjaan yang sulit, melalui handler Villanelle, Eve menyewa jasa gadis itu untuk membunuhnya. Hanya itu caranya Eve bisa bertemu dengan Villanelle.

Villanelle datang ke rumah Eve dengan membawa sebotol sampanye. Setelah adegan intens, Villanelle meminta Eve minta maaf padanya, tapi Eve menolak. Eve yakin Villanelle tidak akan membunuhnya karena dia sangat yakin gadis itu punya perasaan padanya.

Tapi villanelle adalah psychopath berdarah dingin. Dia bilang bahwa dia datang untuk membunuh Eve. Eve duduk dengan ketakutan. Villanelle menyodorkan botol kecil yang berisi tiga butir pil. 

Villanelle menyuruh Eve meminum pil itu dengan menggunakan sampanye. Eve menenggak pil itu satu per satu dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Demikian juga villanelle, matanya berair, tampak sangat sedih. 

Setelah semua pil masuk ke perut Eve, dengan tergetar Villanelle berkata, “Apa yang kamu lakukan, Eve? Kenapa kamu minum pil itu. Itu arsenic.” Wajah Eve menjadi tegang ketakutan.

Villanelle berteriak, “Kamu jangan cuma duduk di situ, lakukan sesuatu! Cepat!” Eve berlari ke tempat cucian piring mencoba memuntahkan apa yang baru dia minum. Villanelle berteriak-teriak membuat suasana makin tegang, “Cepat, Eve. Kamu harus keluarkan segera. Cepat, Eve!”

Eve makin berusaha keras memuntahkan isi perutnya. 

Tak lama kemudian, Villanelle tertawa sekeras-kerasnya. Katanya, ”Kamu gampang sekali dikerjain.” Eve diam tertunduk di tempat cucian piring. Kemudian Vilanelle mendatangi Eve, memeluk pinggang Eve sambil menekankan pisau ke dada Eve. Wajah Eve kembali tegang.

Kehebatan cerita Killing Eve tidak lepas dari kepiawaian Phoebe Waller-Bridge yang merupakan salah satu penulis script terbaik. Selera humornya yang dark membuat serial ini jadi luar biasa. Bayangkan, dalam kondisi tegang karena adegan pembunuhan, kita dibikin tertawa terpingkal-pingkal. Oh, my goshhh!!

Serial ini bercerita tentang sisi gelap dan sisi romantis pembunuh bayaran nyentrik. Menjadi seru karena penjahat dan polisi saling menyukai secara seksual. Kita bisa merasakan perasaan cinta yang kuat di antara keduanya, tapi tidak pernah ada adegan romantis, bahkan ciuman pun tidak di antara mereka. Sensasional.

Satu lagi yang membuat film ini sangat sensasional adalah lokasi syutingnya: London, Berlin, Tuscany, Paris, Vienna, Roma, dan lain-lain. Kita dibawa menyusuri tempat-tempat indah di Eropa. 

Serial ini sudah tayang dua session, masing-masing 8 episode per session. Menonton serial ini membuatku ketagihan.

Jodie Comer memainkan perannya sangat hebat. Dia memiliki seribu raut wajah. Rona mukanya bisa berubah drastis dalam sekejap. Aku rasa bukan hanya aku saja yang jatuh cinta pada pembunuh bayaran cantik ini. Itulah yang membuat Jodie Comer memenangkan Best Leading Actress dari BAFTA bulan Mei kemaren.

Tentu serial ini adalah kerja tim yang hebat. Semua pemain berperan sangat maksimal. Fiona Shaw dan Kim Bodnia berakting sangat memukau. Demikian juga cast lain seperti Sean Delani, Owen McDonnell, Edward Bluemel, dan lain-lain.  

Phoebe De Gaye, costume designer, memberikan sentuhan yang kadang membuat kita terbengong-bengong. Tipikal film British. Jodie memakai piyama lucu saat ke luar dari rumah sakit, atau memakai gaun princess warna pink berjalan di alun-alun kota. Di samping itu, bertebaran busana top designer yang mewarnai adegan-adegannya.

Aku rasa keberhasilan film ini - ratingnya 8,3 di IMDb - banyak disebabkan oleh kemampuan akting Jodie yang memang luar biasa. Aku suka memperhatikan perubahan raut wajahnya. Dia menjiwai karakter itu dengan sangat brilian. Penonton tidak membencinya, tapi malah berempati. Padahal yang dia lakukan sangat mengerikan.

Ya Tuhan, aku jatuh cinta pada tokoh pembunuh. Bagaimana aku menjelaskan ini? Rasanya tidak sabar menunggu session tiga. Bagi yang belum menonton, jangan sampai ketinggalan. Mari bersama-sama merasakan klepek-klepek pada Villanelle.