Staf Pengajar
1 bulan lalu · 71 view · 3 min baca menit baca · Hiburan 25571_60878.jpg
FB : Commonwealth of Independent Shitpoosting

Kill This Baper

Cinta itu tak perlu dibunuh. Yang mesti dibunuh itu adalah perasaan mudah baper alias dikit-dikit bawa perasaan takkala melihat apa yang viral saat ini bisa langsung terkecoh bahkan labil efek dari suatu kehebohan massal yang menggebu. 

Smartphone bagi netizen saat ini ibarat sudah menjadi kebutuhan iman berula tasbih yang kemanapun seseorang melangkah selalu ia pegang dan ia bawa kemanapun ia melangkag, kepala menunduk ke layar seakan pikiran tunduk pada layar, begitulah netizen kekiniaan terlihat pemikiran tak dipakai sebab ia menurut pada apa yang ia lihat di layar gadgetnya bukan pada realitas yang tengah ia hadapi.

Seseorang bisa dengan mudah menyukai apa yang kini viral, tapi adanya kemudahan itu membuat rasa itu juga mudah berlalu. Ini bisa kita rasakan bila kita memakan makanan cepat saji dengan makanan alami tentu berbeda secara pencernaan dan kita akan merasa lebih sehat bila memakan makanan yang langsung dari alam.  

Generasi millenial kita tak mau ketinggalan informasi tetapi selalu ketinggalan dalam menganalisis suatu informasi sebab pikiran tumpul tak pernah diasah dengan bacaan buku bermutu. Kesadaran kita sebagai manusia kini telah dipenjarakan oleh kebebasan informasi, seseorang memang berhak untuk menyuarakan pendapatnya tapi hendaklah pendapat itu tidak asal keluar dari emosinya semata, sebab kita sebagai manusia memiliki batas waktu yang sedikit di dunia.

Bila kita hidup 24 jam dalam sehari, maka tidaklah elok bila waktu itu hanya digunakan untuk kebutuhan akan informasi berupa viral. Makan pagi, makan siang, dan makan malam tidaklah sampai memegang hape. Betapa dramatisnya bila kita melihat seseorang saking menggebunya pas waktu makan sampai harus sambil memegang hape. 

Ini yang membuktikan bahwa seseorang tak bisa makan tanpa internet, kalau dulu kita tak bisa makan tanpa nasi. Pikiran kita memang membutuhkan perspektif yang dalam, maka daripada itu hendaklah yang dibunuh itu perasaan mudah baper sebagaimana judul yang saya angkat dalam tulisan ini kill this baper.


Bila Black Pink dengan single terbaru lagunya terdapat lirik let's kill this love, maka yang sebenarnya harus dipikirkan masyarakat saat ini adalah let's kill this baper with akal sehat, biar gak cepat naik emosi menyalahkan keadaan. Ini memang zamannya Black Pink yang ketenarannya membuming jagat maya, anak-anak sampai orang tua begitu suka untuk mendengarkan lagunya, bahkan membuat parodi baru yang nada sesuai namun lirik berbeda dengan tarian khas masing-masing.

Budaya K-Pop begitu menjamur hingga membuat kita mudah tersipu melihat yang bening sedikit langsung melotot salah fokus langsung meninggi. Kita membutuhkan karya yang dalam bukan  karya yang cepat tenar lalu cepat jatuhnya itulah mengapa kita harus tetap menjaga jarak terhadap sesuatu yang tengah viral agar tidak mudah ikutan terjerumus menyukai suatu karya yang instan. 

Bila pikiran tak diisi dengan bacaan yang memiliki kedalaman perspektif maka bisa dikatakan seseorang bisa dengan mudah terhasut untuk ikut-ikutan pada zaman. Maka ada baiknya waktu itu lebih banyak pada bacaan bukan pada gadget.

Kalau kita tenang sedikit lalu menimbang ulang satu fenomena mengapa budaya K-Pop sangat marak belakangan ini itu disebabkan berkurangnya minat masyarakat kepada budaya pemikiran. Terlalu banyak ilusi serta sempitnya hasrat akan pengetahuan membuat publik kita mengikuti apa saja yang tengah viral. 

Tentu akan ada pemikiran mengapa tidak budaya India yang menjadi panutan publik Indonesia saat ini? Bukankah soal musik dan tari-tarian India paling berpengalaman dalam berkarya jika dilihat dari sisi sejarah dan culture yang ada?


Sering sekali kita mudah terbawa arus pada satu sensasi yang membuat kita lupa diri untuk mengkaji ulang suatu fenomena itu apakah layak suatu karya yang hanya bermodalkan sensasi layak untuk dibanggakan? Apakah para artis harus cerai dulu lalu masuk pemberitaan gosip sehingga jadi perbincangan yang di share berulang kali.

Hiburan yang kita saksikan saat ini di media sosial kebanyakan seperti tak ada manfaatnya, menghabiskan banyak waktu dan membuat seseorang malas mengkritisi ulang sesuatu yang viral. Ada yang kontroversi sedikit bisa langsung jadi viral sehingga tak ada lagi semangat motivasi untuk berkarya menghasilkan perspektif yang begitu dalam.

Masyarakat kita saat ini seakan larut tergiur oleh kehebohan massal berupa informasi yang simpang siur kejelasannya sehingga publik tak mau untuk berpikir diluar sensasi akibat dari apa yang viral maka itulah yang menjadi panutan.

Berpikir adalah suatu kebaikan yaitu upaya melahirkan suatu kritik dimana seseorang mempertanyakan suatu kejadian dan menemukan celah untuk diisi inspirasi.

Pertanyaan yang terbenak di hati kita mungkin mengapa para artis Indonesia lebih suka mempertontonkan aksi kebodohannya yang disengajakan dan kenapa juga begitu banyak artis lebay yang merasa bangga untuk membuat lawak-lawak yang sebenarnya gak jelas lucunya apa seperti gak lucu tapi ramai di pemberitaan karena di buat heboh oleh penonton bayaran di studio Televisi.

Mental produktif masyarakat kita terlihat seakan enggan untuk berpikir jauh sebab yang diutamakan adalah kehebohan dan keramaian. Mengapa kita memilih menghabiskan waktu berjam-jam memegang hape ketimbang buku? Dari pertanyaan itu kita bisa menemukan bahwa masyarakat kita membutuhkan perspektif yang tajam.

Artikel Terkait