Islam tak sekadar agama yang bersumber dari wahyu belaka. Secara simbolis, wahyu pada dirinya memang datang dari langit sebagai respons terhadap bumi. Maka, antara langit dan bumi sebenarnya ada penghubung. Dengan penghubung itulah langit bisa membumi dan bumi mampu melangit.

Tentu ungkapan di atas bukan dalam artian spasial karena tulisan ini tak bicara soal astronomi, tetapi dalam pengertian maknawi. Untuk mengawali pembicaraan kita tentang proses saling-mengukuhkan antara wahyu dan realitas manusia, kita memerlukan "batu pijakan" asumtif bahwa wahyu dan akal manusia sebenarnya tidak bisa diceraikan.

Wahyu turun karena manusia berakal. Sebaliknya, manusia dengan akal-budinya menata wahyu menjadi sesuatu yang riil, yang membumi, dan bisa dihidupkan seiring dengan hembus nafas kebudayaan manusia. Maka demikian, agama yang merupakan "jalan dan sarana" menuju kebenaran akan melibatkan wahyu dan akal sekaligus, dengan karakternya masing-masing. Melalui akal, wahyu bisa membumi menjadi pengetahuan.

Namun, keterhubungan antara dunia manusia dan wahyu bukan tanpa persoalan. Selalu saja, di setiap kelokan dan persilangan sejarah, terjadi bias dan pembelokan yang tak semestinya.

Ada kalanya, memang, keduanya bersitegang sehingga saling menggeser skala prioritas satu dengan lainnya. Seperti hubungan cinta yang labil, kadang nyambung, lalu putus, nyambung lagi. Demikian seterusnya. Hal ini, sedikit banyak, mendorong kita untuk melirik-kembali persoalan tentang "pengetahuan" (baca: ilmu dan/atau ma'rifah), yang dalam filsafat dilokalisir di dalam bidang "epistemologi".

Epistemologi merupakan suatu cabang dari filsafat yang secara runtut membahas teori pengetahuan. Segala hal yang berkenaan dengan pengetahuan, seperti cara mengetahui, sarana mengetahui, sifat pengetahuan, watak manusia dalam tindak-mengetahui, dibahas demikian njelimet di dalam epistemologi.

Islam, sebagai warisan kanjeng Nabi Muhammad, termasuk agama yang menaruh perhatian lebih terhadap epistemologi. Di antara banyak ayat epistemologis, terdapat satu ayat yang inspiratif dan menjadi pusat-edar pembahasan tulisan ini. Ayat tersebut ialah:

 "قد علِمَ كلُّ أناسٍ مشرَبـــَهم"

Secara literal, ayat yang berada di dalam surah al-Baqarah ini muncul dalam perwajahan mitologi suci; ia menceritakan kaum nabi Musa, Bani Israel, yang saat kehausan kemudian diberi minuman oleh Tuhan berkat tongkat Nabi Musa. Tongkat dipukulkan pada batu, keluarlah 12 mata air sehingga 12 kelompok kaum Israel punya sumber air minum masing-masing.

Tetapi, secara metaforik, ada hal lain di seberang literal-lahiriah ayat tersebut. Saya menyebutnya epistemologi.

Dengan menafsirkan ayat itu secara hermeneutik, seperti yang akan kita lihat, didapati panorama epistemologis yang indah dan inspiratif. Memang ayat itu sekilas merupakan "legenda atau dongeng".

Tapi bukan al-Qur'an namanya jika tak bisa digeret ke perspektif yang lebih abstrak dan universal, untuk mengajak kita menyentuh topik epistemologi: "apa itu pengetahuan dan bagaimana sifat-sifatnya?". Catatan: setahu saya, ayat tersebut memiliki khasiat tertentu saat diwiridkan. Semacam mantra atau doa khusus yang mujarab, yang tidak perlu saya singgung.

Pertama yang harus dipahami adalah pengetahuan itu "minuman ruhani". Seperti halnya air, pengetahuan adalah penawar dari "rasa haus" kejahilan. Ruh kita, di saat kehausan dilanda terik kejahilan, memerlukan minuman untuk menjaga stabilitasnya demi terus bergerak dan hidup.

Selain makanan, ruh butuh minuman yang segar dan menyegarkan. Nah, yang menyegarkan ruh itulah "minuman" pengetahuan.

Oleh karena itu, sifat pengetahuan itu "segar menyegarkan". Artinya, ia menjadi sebab bagi bergairahnya ruh. Tetapi tidak semua pengetahuan bersifat demikian. Sebagaimana halnya tak semua air segar dan menyegarkan.

Kiasan lain, dalam fiqih thoharoh misalnya, tak semua air suci mensucikan. Ada jenis air-air tertentu yang hanya segar di mulut, tapi tidak baik untuk kesehatan. Ada juga air yang tak segar, bahkan pahit, tapi justeru menyehatkan.

Air, ada kalanya segar tetapi wadah kita kotor sehingga airnya ikut keruh. Pengetahuan yang kita peroleh dari sumbernya dalam keadaan segar, bisa mendadak berubah keruh ketika menempat dalam diri kita. Gara-gara apa? Tak lain gara-gara keadaan rohaniah kita sendiri, yang belepotan dosa.

Orang mungkin akan mengelak dan mengingkari fakta bahwa ada kaitan antara pengetahuan dan moralitas. Dengan dalih objektivitas dan kebebas-nilai-an pengetahuan, orang modern meyakini secara dogmatis bahwa ilmuwan tetaplah ilmuwan sekalipun ia penjahat.

Memang benar. Persoalannya, pengetahuan kerap kali justru tidak menggerakkan aspek ruhaniah kita kepada tindakan yang lebih baik ke arah perbaikan-diri. Alih-alih menghidupkan ruhani, pengetahuan justru mendorong pemiliknya ke arah negatif, arogansi intelektual misalnya.

Kita mesti sadar bahwa sekafir apa pun seseorang, asal tidak sombong, ia masih bisa "diharapkan". Sebaliknya, sebaik apa pun seseorang, jika sudah dirasuki sombong, habis sudah!

Artinya, salah satu prinsip yang perlu dipertimbangkan ialah bahwa arogansi merupakan tembok tebal pemisah antara manusia pemilik pengetahuan dan pencerahan eksistensial. Bisa jadi kebudayaan post-truth jaman now membenamkan manusia ke dalam ambiguitas saintifik, di mana strukur pengetahuan yang menjulang justru berbanding lurus dengan krisis eksistensial.

Oke. Kita kembali kepada ayat tadi. Ayat di atas jika diartikan, begini: "setiap golongan mengetahui tempat [sumber] minumnya masing-masing".

Tempat minum itu apa? Kita memahami bahwa setiap golongan manusia-penahu (knower) tentu tahu pengetahuan mana yang dikhususkan bagi mereka dan di "masyrab" (tempat minum) mana mereka mengambil jatah mereka masing-masing.

Dalam konteks tasawuf, sesuatu yang mirip filsafat tapi beda jalan, suatu "pengetahuan spesifik" tertentu diberikan kepada seseorang sesuai kesiapan ruhaniah (akhwal)-nya. Orang yang memiliki kesiapan, yang lalu menerima pengetahuan makrifat, kita sebut ahli makrifat.

Di dunia sufisme, makrifat merupakan salah satu tanda spiritual seseorang yang dikarunia kewalian. Dengan berbedanya "kesiapan" ahli makrifat antara satu dengan lainnya, maka seorang wali berbeda dengan kewalian seorang wali lain, dan itu ditentukan oleh dari mana ia mengambil "masyrab" tadi.

Bagi kita orang awam, sifat pengetahuan juga menentukan karakter seseorang. Dan kesiapan akal-budi seseorang juga menentukan jenis pengetahuan seperti apa yang menjadi jatahnya.

Sebenarnya inilah hikmah bagi kita kaum awam, betapa keragaman pengetahuan berseiringan dengan pluralitas latar belakang masing-masing individu dan keragaman "mata air" pengetahuannya. Hanya melalui dialektika sejarahlah kebudayaan manusia mengalami dinamika positif ke arah yang lebih baik.

Semoga!