/1/

Puisi mana lagi yang akan engkau dustakan?
Jika rima atas kidung asma selalu melantun mesra;
Berbisik pada telinga lewat udara atas pesan Sang Maha.

Puisi mana lagi yang akan engkau dustakan?
Jika kata yang tertulis adalah ilafi jiwa sunyi yang menari-nari atas izin Gusti.

Puisi mana lagi yang akan engkau dustakan?
Jika syair yang terukir lahir dari Rahim di dalam kalbu yang diiradati benih-benih ketulusan.

Puisi mana lagi yang akan engkau dustakan?
Ketika kata lahir dari mata yang digerakkan rasa,

Bukan mata yang menggerakkan rasa,
kalu melahirkan kata; cinta.

Magelang, 5 Maret 2019


/2/

Kekasih,
Sedini tadi aku dipeluk gerimis,
Pada rintiknya, aku dengar bisikmu penuh ritmis,
doamu mengalun lewat tetes tangis.

Kekasih,
dalam tidurku,
samar-samar kudengar suaramu mengetuk pelan-pelan pintu kalbu.
Mataku tersipu, pandangi senyummu malu-malu di bawah selimut rindu,
-lagi-lagi engkau peluk aku dalam sunyi datu.-

Kekasih,
Waktu masih engan berpisah dengan gerimis,
sedang pipimu masih berkilau tetes tangis,
dalam moksamu; matamu pun menggerimis.

Kekasih,
Engkau memuisi dalam puisiku di bawah linangan ritmis puitis simpuhku pada Sang Maha Puitis.

Magelang, 17 Maret 2019


/3/

Kekasih,
dalam hening pesunyian,
aku merindu banjir air mata ketika asmamu dilantunkan para pecinta,
merindu getar yang bergemuruh dalam dada.

Kekasih,
Apakah pantas aku mendapati cinta(M)u?

Kekasih

Magelang, 11 September 2019


/4/ Suwung

Jika aku mencintai(M)u lantas aku menuntut
cintaku pada(M)u berbalas,
Jauhkanlah aku dari cinta itu.
Sebab, pada itu aku sebenarnya tidak hidup dalam gelombang cinta yang cinta,
Namun aku sedang memperdagangkan secuil rasaku yang
            terbungkus nafsu keuntunganku.

Jika aku mencintai(M)u
sebab aku ingin bermesraan pada seperempat malam
lewat kidung-kidung cintaku pada(M)u,

      Jika aku mencintaimu sebab aku hidup
dalam gelombang rindu melantunkan asma(M)u
dalam sujudku tanpa sedikitpun aku pandangi(M)u
dalam gugusan waktu (itu),
Panjangkan jalan sunyiku menuju  menara cintaku pada(M)u.

Jika aku mencintai(M)u
      sebab aku ingin mendapati cinta(M)u padaku,
         Hempaskanlah aku dalam jurang-jurang kematian rasaku.

Jika aku dalam gelombang cinta,
       lantas aku membunuh dengan cintaku,
Bunuhlah aku dengan belati cinta itu.
Sebab, Aku akan merasa bahagia
dalam kematian (ke)aku(anku) dalam diriku,
ketimbang aku diperkosa (ke)aku(anku) sediri
yang berwajah cinta itu. 

Magelang, 13 Juli 2019


/5/

Pada Kata,

Sajak merangkak di tepian pundak bertapak sabak di bibir falak.
Bekas pijakan kaki dipetilasan suci pun berselimut sunyi di tepi telaga kasih Sang Hyang Widhi.
            Kaki-kaki menari,
Mulut-mulut bernyanyi,
                        Jari-jari bersemi.
            Atas nama Sang Maha Suci.

Ya Khaliqu, Ya Mubdi’u, Ya Salamu, Ya Mu’minu, Ya Ghafuru, ya Mu’diu,
Ya Mubdi’u, Ya Mani’u, Ya Jami’u.

Pada  Malam.
Dalam peluk sunyi,
Kurasakan hidup yang sejati.
Dalam keramaian, aku rasakan kematian.
Pakem-pakem kutanam pada ladang kalbu hitam.
Aku adalah wayang yang bergerak
atas naskah Sang Dalang

Magelang, 11 Maret 2017

/6/ Malam di Sudut Emperan

Ya rahman, Ya rahim..
            Ya sami’, Ya mu’izz…..
                        Ya mudzill, Ya ghofur…….
Sayup-sayup suara atas seluruhMu menggema,
menelisik setiap telinga.

Ya ghofur…..
Sesak merangkak kupijakkan kaki pada mesiu-mesiu sang jahanam,
Semboyan pun ku pendam pada vas bunga di telaga fana,
Aku kepayahan!

Hei malam,
Tak bosankah kau muram,
Tak bosankah kau suram,
Tidurlah, tidurlah, tidurlah
“Malam harus segera berganti pagi. Kalau bisa terusalah pagi, tak usah ada malam lagi.”
Batinku pada semilir angin yang berselimut semesta.

Ya mudzill, Ya mu’izz..
Mu’izzkanlah debu-debu jalanan yang sangat sangat dan sangat mudzil ini.
Ya rahman,
Hanya padamu aku menawar kemurahan yang lebih murah dari jiwaku yang teramat murah ini.
Ya sami’, Ya rahim…..
Aku mengadu
Aku merindu atas seluruhku pada seluruhMu.

Magelang, 22 Februari 2017


/7/

Hening                        …..
                        Sunyi                           ..
            Sepi                 …….
Kata-kataku mengalun merdu; sendu,
            Berlinang kenang di dermaga air mata.
Suaraku adalah
kenang
yang menjelma sunyi.
Kekasih.

Magelang, 14 September 2019


/8/

Kekasih.
Hujan sabtu sore;
Di bawah payung rindu aku berteduh dari hujan rasamu,
kala engkau merapal temu aku berlayar di telaga matamu.

Kekasih.
Hujan sabtu sore;
jemarimu memayungi jemariku,
senyummu menuntung langkahku menuju surai dan bibirku berteduh di bawah bibirmu,
orang-orang lalu lalang, rintik hujan saling bertatapan dan tatapmu berlayar dalam samudera mataku.

Kekasih.
Hujan sabtu sore;
Sabana kota kedap suara,
Suaraku dan suaramu yang menggema dalam sukma,
Jiwa kita berjalan dalam gua asmaraloka.

Kekasih,
di bibir malam;
bibir kita bermalam-malam
melukis angan pada kanvas Sang Alam

Jogjakarta, 5 Desember 2019