“Derajat wanita 'Terendah' adalah ketika dengan sadar menyakiti wanita lain ”–Yani Latif.

Sebagai saran; Bukankah spesies manusia itu diciptakan sebaik-baiknya. Lalu kemudian di tempatkan serendah-rendahnya.

‘‘Kecuali_

Yang punya 'hati', itu di angkat dan ditinggikan derajat kemuliaan, dan kesucian-Nya.

Saya tidak sepakat dengan Yani Latif, yang mengatakan demikian. Sebab kita harus jujur, bijak, dan lebih adil menilai sikap, karakter dan derajat kemanusiaan, dan kemulian keperempuanan, dan laki-laki. Terus terang saya katakan itu!

Biar bagi siapun wanita dan laki-laki, jika ditodong, direndahkan, diludahi, disekat, dihinai, dan dilikai oleh perempuan lain. Atau siapapun, tentu tidak akan bisa menerimanya. Sebab barang cacian, dan ceplokan itu adalah sampah yang terbuang ke tumpukan sampah. Dan itu sudah pastinya kita mengkredilkan-Nya busuk dan kotor.

Ketahuilah; “seburuk apapun sikap perempuan, dan sejahat apapun perilaku laki-laki. Bila ia masih punya “hati”. Tentu ia akan sadar bahwa itu akan dibenahi, diperbaiki, dan dibersihkan kembali. Tidak ada wanita sesuci malaikat, dan tidak ada lelaki sebaik Muhammad.”

Dan kalau–pun ada, mungkin hanya sepercel, dan secuilnya saja. Itu juga belum tentu baik, dan belum tentu juga buruk. Sebab tidak ada yang bisa mengetahui “keadilan hati, dan pikiran yang berbicara”, kecuali diri kepribadian seseorang.

Apa kita tahu, apa yang akan terjadi ke depan pada diri kita dan seseorang? Belum pasti!

Tetapi setidaknya, kita akan sadar, apa yang diprakarsai wanita,—atapun laki-laki itu, diluar keajaiban dan kenyataan kita. Bisa saja mereka hari ini berbuat salah. Tetapi hari esok mereka akan berubah dan jauh lebih baik dari hari kemarin. Kan itu misterius, dan prestisius bagi kita. Tidak ada satupun yang tahu. Kecuali hati yang maha bicara.

Apakah kita, salahkan perempuan atau laki-laki? Bila perempuan menaruh perasaan pada orang lain? Saya katakan “Tidak, Dan Tidak”!

Sebab, dalam soal perasaan, tidak ada lelaki yang bisa merampas, dan menumpas hak-hak keperempuanan. Yang ada cuman kebebasan, dan hak prerogatif kewanitaan yang bisa menangkapnya. Selain daripada itu, saya kira tidak ada!

Karena, sangat kekar bagi kita. Jika menafikan kebohongan itu diatas telanjang kenyataan. Dalam arti; “apa yang dianggap benar, pasti benar dan apa yang dianggap salah. Itu sudah pasti salah. Dan tidak bisa kita kemudian, menjatuhkan perempuan, dan mengangktat derajat laki-laki.” Sebab, jika itu diposisikan sama, maka hukum patriarki bagi perempuan dianggap jauh lebih mahsyur, dan tinggi dari laki-laki.

Hal ini, kalau di pandang lebih luas, dikhawatirkan ada kecendrungan identitas, pengakuan diri, dan perbedaan hak atas kepentingan laki-laki, dan keperempuanan. Istilah yang dominan itu terjadi pada kaum perempuan, yakni dominasi laki-laki diatas hak dan kebebasan kaum wanita.

Namun hal yang sama juga. Itu kerap terjadi pada kaum laki-laki. Yaitu istilah 'hirarki'. Tujuan, dan fungsional-Nya sama. “Adalah membebaskan dan memerdekakan kaum perempuan diatas keranjang perbudakan, dan penindasan.”

Artinya bagi siapapun yang menindas kaum perempuan itu bukan barisan kami.—Doktrin Feminisme

Menafasi itu; kita sebagai kaum laki-laki harus berpatri pada kemuliaan, kemashyuran, dan keadilan tertinggi pada derajat kewanitaan. Baik melalui perasaan, cinta, maupun belas kasih kepada bak, dan tubuh kesucian dirinya. Tidak ada yang termasyhur didunia ini. Melainkan cinta.

Bila tak kunyatakan keindahan–Mu dalam kata, ku simpan kasih–Mu dalam dada.
–Zalaludim Rumi

Orang kotor, berubah menjadi suci itu dikarenakan atas dasarnya 'Cinta'
Orang suci, berubah menjadi kotor itu atas dasarnya 'cinta' dan orang lemah, berubah menjadi kuat itu juga disebabkan atas dasarnya 'cinta'

Tak ada yang bisa menaklukkan, dan mematikan perasaan atas ke–pesohoran, dan penguatan cinta. Melainkan kasih–Mu dalam hati. —"Prasasti hati"

Itu artinya, menjadi orang baik itu 'bagus'!
Tetapi merasa diri jauh lebih baik. Mohon maaf! Perasaan, dan cinta itu akan lebih berbahaya bagi diri kita.

Menjadi orang baik itu 'harus'!
Tetapi ketika merasa diri jauh lebih baik dari orang lain. Mohon maaf! Ini yang kemudian membuat kekacauan, dan kekutukan pada diri kita.

Marry Wallstonecraff dalam bukunya The Right of Women (1972) itu wanita dianggap sama, setara dan sejajar dengan kedudukan, kelas, dari derajat laki-laki. Dan itu tidak ada yang di diskriminatif. Melainkan itu diperlakukan dengan hukum yang sama.

Kalau kita hari ini, misalnya mengredilkan diri kita jauh lebih baik, sholeh, bersih, dan suci dari yang lain. Ayo....!kiblat–kan diri kita.  Ke jalan yang suci. Baik perempuan, maupun laki-laki. Agar terbebas dari segala kutukan, dan ketaklikan jiwa.
—prasasti Hati