Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik,karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan. Dalam islam sendiri menuntut ilmu sangat diwajibkan dan merupakan bagian dari kewajiban manusia sebagai mahluk Allah SWT. 

Menuntut ilmu diatur dalam kitab Ta’lim Muta’alim

Kitab  ini merupakan suatu kitab kuning yang berasal dari daerah timur tengah disebut juga dengan al-Kutub Al-Qadimah (kitab klasik) hingga memiliki tandingan dengan al-Kutub alAshriyah (kitab modern). Kitab ini merupakan karangan dari seorang filosof muslim dalam hal pendidikan yang ide-idenya sangat kental dengan etika, yaitu Burhan al-Din al-Islam al-Zarnuji biasa dikenal dengan Syekh az-Azarnuji. 

Penulis  mengulas teori menuntut ilmu dalam kitab Ta’lim Muta’alim yang bertujuan untuk mengedepankan etika dalam proses menuntut ilmu. Etika ini juga harus dimiliki oleh setiap pengajar dan pelajar. Didalam kitab ini juga lebih diutamakan ilmu agama, karena sangat bermanfaat dalam setiap keadaan. Merupakan hal yang sangat wajar bagi kalangan pelajar terutama kalangan pondok pesantren banyak yang berminat untuk mempelajarinya, bagi para santri, akhlak lebih tinggi derajatnya dibandingkan ilmu. 

Didalam kitab Ta’lim Muta’alim ini terdiri dari beberapa pasal, disini penulis akan menjelaskan 2 bagian pasal yang sangat diperlukan dalam menuntut ilmu, yaitu:

1. Hakikat ilmu, fiqh dan keutamaannya Menurut  H.R Ibnu Majah 

Artinya : Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim

Kewajiban disini bukanlah menuntut segala ilmu, hanya saja yang diwajibkan yaitu Ilmu Ushuluddin dan ilmu fiqh, yang berhubungan dengan  ihwal manusia, selain itu setiap muslim wajib mempelajari ilmu bermasyarakat dan teori bekerja. Setiap muslim wajib mengetahui ihwal hatinya untuk tawakkal dan takut kepada Allah SWT serta percaya akan hukum ketetapan-Nya. 

Demikian juga wajib mengetahui budi pekerti tepuji dan tecela. Sampai sekarangpun masih banyak dikalangan masyarakat yang kikir, sombong, dan boros, itu semua karena mereka tidak memelihara diri dan tidak mengetahui ilmu. Maka dari itu, kita sebagai manusia diwajibkan mengetahui dan mempelajari sifat dan akhlak seperti yang sudah di jelaskan dalam Al-qur'an , Allah berfirman dalam  Q.S al Mujadalah 58 : 11

Artinya : Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 

Wahai orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian: berikan keluasan/kelapangan di dalam tempat duduk (majelis) untuk para pendahulu kalian. Maka Allah akan meluaskan rahmatNya berupa keluasan tempat, jiwa, rizki, surga dan sebagainya kepada kalian. Apabila dikatakan kepada kalian: Berdirilah untuk memberi kelapangan kepada para pendahulu kalian dengan cekatan. Maka Allah akan meluaskan tempat kalian di dunia dan di surga. 

Allah mengangkat derajat para ulama beberapa derajat dalam kemuliaan dan posisi yang tinggi di dunia dan akhirat sebab berpadunya ilmu dan amal mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala amal kalian. Ini adalah ancaman bagi mereka yang tidak menjalankan perintah-Nya..   

Syekh Muhammad bin Hasan bin Abdillah pernah bersyair: ‘’Belajarlah! Karena ilmu itu seperti hiasan bagi ahlinya, memiliki kelebihan dan tanda dari perbuatan keji. Dan jadilah orang yang memperoleh faidah  dengan ilmu. Pelajarilah ilmu fiqh, dengan fiqh kamu akan berbuat kebaikan, takwa dan jalan yang lurus. Karena ia merupakan jalan petunjuk yang dapat menyelamatkan dari marabahaya’’.

Adapun ilmu-ilmu yang dilarang karena haram bahkan sangat tidak diperbolehkan  untuk dipelajari yaitu, ilmu nujum (meramal sesuatu berdasarkan ilmu pebintangan atau astrologi) itu ibarat penyakit bahkan membahayakan. 

Lain halnya dengan mempelajari astrologi sekedar hanya untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu shalat, itu diperbolehkan. 

2. Niat untuk belajar H.R Bukhari dan Muslim

 إنمََا الأعمَال بال نِيَاتِ

 

Artinya : Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.

Sebaiknya penuntut ilmu mempunyai niat semata-mata mencari ridho Allah SWT agar mendapat pahala, terhindar dari kebodohan, terhindarnya kekafiran, berjihad dan mempertahankan agama islam. Jangan sampai ada niat memperoleh harta kekayaan dan menjadi orang yang sakti. Barang siapa menuntut ilmu karena mencari pahala, niscaya bahagia dunia akhirat, begitupun sebaliknya betapa ruginya ia jika hanya memperoleh dari sesame manusia.

Syekh al Imam al Ajal Burhanuddin, pengarang kitab al Hidayah membuat syair dari seorang ulama: Kerusakan besar jika orang-orang alim berbuat nekad dalam agama, dan kerusakan yang lebih besar lagi jika orang-orang bodoh berlaku alim dan khusyu’, keduanya merupakan fitnah besar di seluruh alam. Sebaiknya penuntut ilmu dilakukan pada akal dan badan yang sehat.

Ahli ilmu harus bersifat tawadlu untuk mengehindar dari sifat sombong, jangan sekalikali memiliki perasaan tamak karena itu dapat menghinakan ilmu, Allah berfirman :

Artinya : Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Q.S Al-Baqarah (2) : 269)

Tafsiran menurut Jalalain :

(Allah memberikan hikmah), artinya ilmu yang berguna yang dapat mendorong manusia untuk bekerja dan berkarya (kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan barang siapa yang telah diberi hikmah itu, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak) karena hikmah itu akan menuntunnya kepada kebahagiaan yang abadi. (Dan tiadalah yang dapat mengambil pelajaran). Asalnya ta diidghamkan pada dzal hingga menjadi yadzdzakkaruu, (kecuali orang-orang berakal).