Ruang maya sudah sejak lama menjadi tempat interaksi baru sejak kehadiran berbagai media sosial yang semakin beragam. Sosial media menjadi tempat yang nyaman bagi banyak orang untuk mengutarakan pendapat, menyampaikan pikiran, mengungkap perasaan atau sekedar menuangkan sambatan harian. 

Bukan hal asing lagi, bila seseorang memiliki karakter yang berbeda antara dunia Maya dengan dunia nyata. Misalnya, di kehidupan nyata ada orang yang diam-diam saja, namun ternyata aktif di sosial medianya, baik aktif posting tentang diri dan dunianya maupun aktif melihat kehidupan-kehidupan orang lain.

Sayangnya, sebagian orang masih belum mengerti betul bagaimana membangun interaksi sehat di sosial media. Contohnya, saat saya melihat suatu cuitan di Twitter mengenai topik tertentu, lalu saya melipir ke bagian reply. Tidak sedikit dijumpai komentar-komentar yang tidak nyambung dengan postingan tersebut. Hal serupa terjadi saat saya membuka Instagram, Facebook dan lainnya.

Bukan hal asing lagi bila ketika seseorang sedang mengalami perasaan buruk ataupun pengalaman yang tidak menyenangkan, maka mereka cenderung membagikan perasaan tersebut dalam interaksinya dengan orang lain. Baik secara sadar ataupun tidak sadar. Hal ini meski sudah dipahami banyak orang, nyatanya sebagai manusia biasa, kita tetap akan merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang-orang seperti itu.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menjadi pengguna media sosial yang sadar akan kesehatan mental diri sendiri, sehingga interaksi  sosial kita pun akan sehat juga. Berikut, tangga yang bisa kita naiki satu persatu agar menjadi individu yang mampu membangun interaksi sosial dengan baik:

Self Awareness

Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah ‘aware’ dengan diri sendiri. Kalau perasaan kita mulai buruk coba ajak ngobrol diri kita, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa yang sedang dirasakan? Kemudian terima saja perasaan kita baik positif ataupun negatif. Penerimaan terhadap perasaan merupakan langkah awal memiliki mental sehat.

Seringkali kita menerima kehadiran perasaan positif, namun melakukan penyangkalan terhadap perasaan negatif yang sedang dirasakan. Jika kita terus menerus menyangkal dan menolak kehadiran perasaan negatif. Bukan tidak mungkin kita akan jauh dengan diri kita sendiri bahkan kehilangan diri kita. 

Jika sudah jauh dari diri, maka kita tidaka akan mampu mengelola diri dengan baik. Bahkan, hal tersebut membuat kita berpeluang menciptakan ruang sosial yang tidak nyaman bagi orang lain.

Jadi, mulailah belajar jujur pada diri sendiri jika sedang merasa sedih, maka akui saja saya merasa sedih. Perasaan yang kita rasa biasanya bersifat sementara dan akan hilang dalam beberapa waktu, maka yang dibutuhkan adalah sebuah penerimaan atas kehadiran perasaan tersebut. Bila sudah mampu mengakui perasaan, kita akan sadar kebutuhan diri sendiri dan mengambil tindakan dengan menyadari konsekuensi atas tindakan tersebut.

Self Management

Setelah kita berhasil memiliki kesadaran akan perasaan dan kebutuhan diri. Selanjutnya, kita akan belajar memiliki kendali untuk melakukan pengelolaan diri secara sadar. Pada tahap ini, kita akan mampu mengelola pikiran yang mengganggu serta perasaan tidak nyaman. Memberi jeda pada pikiran dan ruang pada perasaan merupakan usaha mengistirahatkan diri sejenak untuk re-charge­ energi dalam diri kita.

Pendekatan pertama terahadap pengelolaan diri yaitu, segala perasaan dapat diterima, yang dibatasi adalah tindakan yang kita lakukan saat perasaan tersebut hadir. 

Misalnya, saya sedang merasa putus asa karena tugas kuliah yang tiada hentinya. Sampai-sampai ingin menyerah saja dengan keadaan. Perasaan tersebut tentu perlu diakui dan diterima keberadaannya, namun apakah tindakan selanjutnya adalah menyerah?

Nah, di sini perlunya kemampuan untuk mengelola diri. Mungkin, kita dapat memilih menyerah pada keadaan karena perasaan yang sedang putus asa. Namun, dengan pengelolaan yang baik mampu mengarahkan kita kepada tindakan yang lebih bertanggung jawab serta konsekuensi yang lebih baik. 

Tindakan yang lebih mungkin diambil adalah memikirkan kembali tujuan awal kuliah atau ya sudah, istirahat saja dulu hingga perasaan kita jauh membaik dan sudah kembali stabil dengan energi baru.

Perasaan itu seperti cuaca, ia akan berhenti pada waktunya jadi buat apa disangkal?

Social Awareness

Kesadaran sosial dapat terbangun setelah kita telah memiliki kesadaran diri yang baik. Ketika kita sudah selesai dengan pengelolaan diri, maka hal itu membuat kita sadar akan lingkungan sosial. Sehingga, interaksi sosial yang kita lakukan akan membawa dampak yang baik bagi diri dan lingkungan.

Dalam melakukan interaksi sosial, sangat diperlukan rasa empati. Empati adalah kemampuan untuk mengenali dan mengidentifikasi perasaan dan emosi orang lain. Dengan memiliki empati, kita akan lebih ‘aware’ dengan kondisi sosial lingkungan kita. 

Kita akan dapat mengerti kesedihan orang lain, mengerti bahwa setiap orang memiliki masalah masing-masing. Peran kita dalam pemeahan masalah orang lain adalah pendukung ketika dibutuhkan, karena orang lain pun memiliki hak untuk menyelesaikan masalahnya. 

Dengan begitu, lingkungan yang terbangun adalah lingkungan yang penuh empati, apresiasi dan sedikit kritik serta saling menghargai sebagai sesama manusia.

Betapa nyamannya bukan bila lingkungan kita diisi oleh orang-orang yang ‘aware’ dengan lingkungannya?

Relation management

Pengelolaan sebuah relasi dalam interaksi sosial akan terbangun  bila kesadaran sosial terbangun dengan baik. Biasanya, orang yang telah ‘aware’ dengan lingkungan sosialnya akan mampu membangun dan mengelola sebuah relasi yang nyaman di lingkungannya. 

Mereka akan berpikir bahwa orang lain pun harus merasakan kebaikan hidup, orang lain pun layak mendapat kata maaf dan kesempatan untuk belajar dari kesalahan. Dengan begitu, relasi sosial yang dibangun akan bersifat tulus dan tidak transaksional atau tanpa pamrih.

Kunci dari sehatnya interaksi sosial baik di ruang nyata atau maya adalah dengan melatih emosi  agar tetap dalam kendali diri. Sesekali, mungki lepas kendali, namun kita bisa mengulang langkah di atas untuk mendapatkan keseimbangan pengendalian diri.

Berlatihlah untuk mencerdaskan emosi diri masing-masing dan bangun kesadaran bahwa ada hal yang dapat kita kendalikan dan ada juga yang di luar kendali diri. Contoh Hal yang dapat dikendalikan adalah pikiran, ekspektasi dan tindakan atau respon terhadap stimulasi yang berasal dari lingkungan di luar diri kita.

Orang-orang dapat bertindak seperti yang mereka inginkan, namun respon yang kita berikan adalah cerminan kesehatan mental kita. Dalam bertindak, seyogyanya memegang prinsip dasar “Jika yang akan saya lakukan adalah hal yang membuat saya sendiri tidak nyaman, maka saya tidak boleh melakukan hal tersebut pada orang lain”

Manusia tetaplah manusia yang membutuhkan makhluk lain untuk tetap bertahan hidup. Selagi rasa saling menghargai sesama manusia hadir dalam prinsip pergaulan, maka di mana pun kita berada, kita akan membawa kebahagiaan atau setidaknya kenyamanan bukan beban apalagi gangguan bagi orang lain.

Kita pastinya sudah sama-sama tahu bahwa pengguna media sosial yang tidak ramah berasal dari orang-orang yang memiliki masalah di dunia nyata namun tidak memiliki ruang untuk mengekspresikannya. Oleh karena itu, mereka lebih mampu mengekspresikan perasaan negatifnya melalui media sosial entah dengan berkomentar jahat karena media sosial memberikan kekuatan anonimitas pada mereka.

So, mulailah menjadi warganet yang ramah dan tidak mudah terbakar amarah terhadap suatu informasi. Warganet yang ramah, langkah awal menuju interaksi sehat di media sosial.