Ini adalah kiat menulis versiku. Jadi, jangan terpaku dengan apa yang ada dalam tulisan ini, karena ini semata-mata hanya pendapatku sendiri. Kalau dirasa ada yang masuk akal, ya alhamdulillah; tapi kalau ada yang dirasa tidak masuk nalar, ya tidak apa-apa.

Setidaknya, beberapa poin di bawah ini adalah apa yang sering aku lakukan.

Segera dicatat

Sebagian orang beranggapan bahwa inspirasi itu lahir dari secangkir kopi dan hangatnya senja bersama doi. Bagiku sendiri, inspirasi itu kadang muncul di mana saja dan kapan saja. Saat berkendara, saat temani emak belanja di pasar, bahkan di tempat yang anti-mainstream seperti di toilet.

Terus apa hubungannya dengan segera dicatat? Begini, manusia dikaruniahi sifat pelupa. Saat ide yang terlintas di kepala tidak langsung dicatat, bisa jadi itu juga akan dilupakan (seperti kenangan masa lalu bersama mantan).

Menurutku, mencatat ide liar yang terlintas secara tiba-tiba adalah sebuah bentuk penghargaan kepada otak. Karena ide liar seperti itu sangat jarang datang untuk kedua kalinya (makanya kalau ada datang seseorang yang datang, ya jangan sia-siakan; bisa jadi dia tidak akan datang untuk kedua kalinya. Apaan sih).

Saat berkendara, mampir dulu di pinggir jalan sambil jajan somay (kalau kebetulan ada akang somay), terus catat di memo ponsel. Saat temani emak belanja di pasar, tulis di belakang nota yang diberikan penjual (kalau tidak bawa pulpel, silakan pinjam sekalian). Saat boker, tulis di tisu atau di memo ponsel (makanya sampai sekarang aku biasa bawa ponsel kalau ke toilet, takut ide-ide liar itu terlewatkan).

Jadi, segera catat.

Jangan paksakan

Seperti hubungan asmara dengan si dia yang juga tidak baik kalau dipaksakan, apalagi kalau sampai keluar bahasa “kita jalani saja dulu”. Saat menulis pun seperti itu, rasa jenuh dan kehabisan ide kadang muncul di tengah jalan atau istilah kerennya writer’s block.

Nah, saat berada di fase writer’s block, tutup laptop (kalau menulisnya pake laptop), hentikan sejenak menulis, lalu lakukan aktivitas lain (mungkin bisa dengan bersepeda karena saat ini sedang tren).

Bisa dengan bercengkerama dengan teman, berduaan dengan doi, main medsos (meskipun hanya scroll postingan di Instagram), nonton film, nyolong mangga tetangga,, atau apa pun yang bisa buat senang. Karena writer’s block itu adalah respons otak yang sedang lelah karena dipaksakan untuk terus menulis.

Perbanyak Suplemen

Bagai sayur tanpa garam. Bukan, bukan.

Ibaratnya begini. Tulisan adalah masakan, membaca adalah bahan masakan, dan menulis adalah proses memasak.

Jika bahan masakan sangat banyak, tentu makin banyak dan makin berkualitas pula tulisan yang bisa dihasilkan. Karena dengan membaca, kosakata menjadi banyak, imajinasi yang bisa ke mana-mana karena ikut menebak ending cerita saat membaca novel misalnya.

Sebaliknya, jika bahan masakan hanya sedikit, tentu akan sangat sulit untuk membuat masakan yang enak karena bahan yang sangat terbatas.

Suplemen tambahan bisa dengan perbanyak diskusi atau berbagi cerita dengan teman-teman. Ingat lho ya, ini suplemen tambahan, bukan suplemen utama.

Jadi, perbanyak membaca.

Jangan menyerah

Tidak ada orang yang berkarya untuk pertama kali dan hasilnya langsung wow. Aku yakin, karya pertama akan sangat jauh dari apa yang dibayangkan sebelumnya.

Namun, bukan itu yang penting. Yang terpenting adalah memulai lebih dulu lalu buat yang lebih baik.

Aku mau sedikit berbagi cerita (kalau mau di-skip juga tidak apa-apa).

Sejak SMA aku biasanya menulis di laptop atau menuangkannya di media sosial. Tapi teman-teman dekatku dulu (tahulah kalau masa-masa SMA) mengejek “Apaan ini, alay banget”; “Jangan sok jadi penulis deh”. Behh, rasa sakitnya itu lebih sakit daripada diputusin pacar.

Tapi aku terus menulis. Karena aku yakin, yang terpenting dari sebuah hasil adalah proses untuk mendapatkan hasil itu sendiri.

Intinya, jangan menyerah (seperti mengejar cinta si dia) dan jangan takut memulai. Tulis saja apa yang ada di kepala.

Dan ingat, menulislah karena memang ingin menulis. Dibaca, dikritik, dicaci, dipuji, itu adalah konsekuensi.

Membagikan tulisan

Jangan ragu dan malu untuk membagikan tulisan ke orang-orang terdekat (minimal ke si doilah).

Kebanyakan orang ragu dan malu untuk mengirimkan tulisannya karena takut dicela, takut dihujat, takut dianggap ikut-ikutan. Tidak usah ladeni. Bukankah keraguan adalah penyebab utama kegagalan (bijak sedikit tidak masalah, kan)?

Dengan membagikan tulisan, orang-orang memberikan tanggapan.

Ingat, jangan melayang saat dipuji, dan jangan terpuruk saat dicaci. Jika dipuji, terus asah diri dan jangan berhenti menulis. Jika dicaci, jangan berhenti dan jadikan itu sebagai pemantik untuk tulisan-tulisan yang lebih baik.

-ooo-

Setelah membaca tulisan ini, jangan harap bisa menulis jika hanya berhenti sebatas membaca namun tidak ingin memulai menulis.

Mungkin hanya itu yang bisa aku berikan kepada pembaca yang budiman dan tulisan ini aku tutup dengan kutipan Pramoedya Ananta Toer dalam roman Anak Semua Bangsa: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”