Memasuki pertengahan tahun 2021. Ndak kerasa pandemi sudah mau ulang tahun yang kedua. Dan sepertinya orang-orang juga sudah mulai stress serta burn out berada di rumah terus.

Saya saja seorang pekerja konstruksi yang selalu always work frok office digeber-geber sepanjang tahun saja gampang darah tinggi. Apalagi yang work from home. Konon banyak jam tidur yang berubah, kerjaan yang tak ada habisnya, sampai garis tipis antara jam kerja dan istirahat sudah tak ada lagi karena tercampur baurnya urusan kerjaan dan kehidupan pribadi.  

Di twitter saja, nyaris tiada hari tanpa twitwar. Adaaaa... saja yang jadi sumber perperangan. Mungkin ini salah satu akibat dari stressnya menghadapi pandemi yang kita tidak tahu kapan berakhirnya.

Salah satu cara obat stress, ya dengan keluar rumah. Ada yang memulai hobi dengan sepedaan, ikut virtual run, hingga ada yang mulai mengunjungi mall dan tempat-tempat nongkrong.

Nah repotnya lagi, kalau mau ngunjungin mall atau nongkrongnya pake acara ngajak-ngajak. Sedangkan sayanya, masih belum berani menginjakkan kaki di tempat-tempat umum tersebut. Pertemuan-pertemuan saya masih sebatas ketemu rekan kerja, ibu kos, serta keluarga di kampung. Itupun untuk durasi ketemu keluarga di kampung sudah tak sesering kayak sebelum pandemi. Kalau sebelum pandemic bisa pulang tiga minggu sekali, selama pandemic sebulan sekali belum tentu. Bahkan pernah nyaris setengah tahun tidak pulang. Padahal untuk pulang saya hanya membutuhkan waktu tiga jam saja.


Jadi gimana dong cara nolak ajakan tanpa bikin baper dan drama berkepanjangan. Yang kalau salah jawab dikit, dramanya sudah kayak saling tikung mantan calon gebetan.

1. Masih pandemi euy!

Ini untuk temen dekat yang levelnya kita kalau ngomong sudah nyeplos seadanya tanpa berpikir panjangpun dianya ga akan marah. Eh tapi point ini memang harus bener dipastikan bahwa yang nerima jawaban memang ga akan baper ya? Soalnya saya pernah. Eh kemudian saya dibales dengan emot senyum di wassap. Jujur saja, emot senyum itu beneran mengintimidasi saya. =)

2. Eh PCR itu ga nyaman banged loh, after effectnya dicolok itu rasanya kayak berhari-hari ga ilang.

Ini biasanya untuk level pertemanan yang sebenarnya dulu akrab. Tapi dikarenakan seiringnya waktu. Kontakpun berkurang. Pencapaianpun tak sama, hingga lama-lama kerasa awkward. Cuman kalau misal kita menolak bertemu seakan jadi kayak mutusin tali silaturrahmi.


Dan terkadang di moment part ini yang agak gateli adalah kita sudah jawab “Eh PCR ga enak loh, pas itu saya rasanya berhari-hari masik kebayang hidung diorek-orek. Mayan bikin agak trauma. After effectnya dicolok itu rasanya kayak berhari-hari ga ilang”; eh di sananya bales : "Kan bisa pake antigen!"

Ya... menurut anda? hah?

3. Di kantor ada kasus meninggal dan ada teman seruangan juga positif nih.

“Ngemol yuk!”; “ Eh, kemaren di kantorku ada kasus nih. Mayan cepet juga prosesnya. Ga sampe seminggu dari dinyatakan positif. Masuk IGD. Masuk ICU. Terus meninggal”; “Eh iya nih kantorku juga, dari yang awalnya WFOnya pake shift, dua mingguan ini full diberlakukan WFH”

Ini bisa jadi jawaban yang lumayan ampuh kalau di WAG. Karena apa? karena sudah naluri manusia akan selalu merasa jadi yang lebih menderita. Dan ajakan akan meet up akan terlupakan begitu saja. Tertutupi kalimat-kalimat “Iya nih.. tempatku juga”; dan bla bla


4. Saya ngikut bawah saya saja.

Kalau misal saya yang ngajak, jujur aja ini salah satu jawaban nyebelin minta dikepruk. Karena apa? Karena pasti jawaban teman yang lain akan juga sama. Samanya di sini terkadang bukan ga mau ketemuan karena masih Corona. Tapi lebih ke malas jawab ketika ada pertanyaan lanjutan kapan? di mana?

Mirip-miriplah dengan ajakan bukber dan halal bihalal. Biasanya kalau gini yang semangat hanya satu dua orang, sisanya ngikut. Kalau bisa ya datang, kalau ndak bisa, ya ndak datang. Yang Ketika pas beneran sudah diagendakan, yang datang hanya itu-itu saja. Tidak lebih dari tiga orang.

Dan akhirnya gimana? tentu saja... ajakan meet up hanya akan berakhir jadi wacana.

5. Saya belum divaksin nih.

Ya memang sik ya, sudah vaksinpun bukan jadi alasan untuk bebas keluar-keluar juga. Tapi ini akan jadi lumayan ampuh sebagai jawaban bagi kita rakyat jelata yang entah kapan akan dapat giliran divaksin.

Eh di sananya jawab : “Ya jemput bola dong, tanya puskesmas sekitar apakah sudah menerima vaksin untuk usia 18+” Dan makin nyebelin lagi yang komentar gini adalah dengan previlige. Pi en es missal? *eh

Hidup di masa corona sudah berat masih ketambahan keribetan begini. Yah namanya juga hidup dan harus tetap kita jalani, Karena ini adalah anugerah kalua kata lagunya D’Masiv. (chop)