“Hidup ini tidak adil, jadi biasakanlah dirimu”. Begitulah salah satu kutipan kalimat yang menggelegar dalam animasi Spongebob. Bagi saya, kalimat tersebut terkesan biasa saja ketika saya masih kecil, namun setelah beranjak dewasa, kalimat tersebut sangat mengobrak-abrik sistem yang ada di dunia yang brengsek ini.

Saya mengatakan brengsek karena hidup ini memang brengsek. Banyak sekali ketidakadilan, ada yang bekerja dengan santuy tapi kaya raya, ada juga yang membanting tulang sekeras-kerasnya namun tetap miskin.

Kehidupan yang serba sat-set war-wer mengharuskan kita berbuat hal yang sifatnya “lebih” agar tidak digilas oleh zaman. Multitasking menjadi kemampuan yang diidam-idamkan oleh petarung masa kini.

Apalagi sejak sosial media menjajaki pikiran seluruh umat manusia, orang-orang jadi terobsesi untuk mencari atensi dari banyak pihak, karena itu sering kita temui postingan yang sifatnya pamer. Mulai dari pamer kekayaan, rumah tangga bahagia, hobi traveling, karir cemerlang, dan sebagainya. Hal ini membuat orang yang hidup era sekarang tidak bisa tidak, harus sukses agar mendapatkan atensi tersebut.

Dalam teori kebutuhan, Abraham Maslow mengatakan kalau manusia akan selalu mencari kepuasan diri yang sifatnya hirarki seperti anak tangga. Kebutuhan tersebut mulai dari kebutuhan pokok, cinta, keamanan, pengakuan, sampai aktualisasi diri. Jika satu kebutuhan terpenuhi, maka mereka akan mencari cara untuk memuaskan kebutuhan selanjutnya. Ancen menungso iki nggragas.

Oleh sebab itu bisa disepakati kalau salah satu penyebab keriwuhan dalam dunia yang sat-set war-wer ini adalah akibat dari kebutuhan manusia yang sudah meningkat dari kebutuhan pokok, menuju kebutuhan untuk diakui oleh sekitar. Hal ini membuat banyak orang menjadi insecure dan overthinking, ya gimana, lah tiap hari ngeliat postingan teman sebaya sedang hidup dengan bahagia, sedangkan ia sendiri masih berjuang mejadi anak kos sendirian.

Fenomena tersebut akhirnya memancing birahi kita menjadi orang sukses, bukan untuk diri sendiri, melainkan wujud adaptasi karena semua orang seperti itu. Yah, ibarat ketika jogging, semua orang memakai sepatu, ya masak kita pakai sandal sendiri, kan yo maluuu.

Namun, apakah memang benar kalau kita harus menjadi orang yang sukses? Jika hidup adalah pilihan, maka boleh dong kita memilih untuk tidak sukses? Manusia merdeka, Bos!

Nah masalahnya, ketika kita pengin untuk tidak sukses, refrensi bacaan sangat minim, bahkan role model juga tidak ada. Artikel tentang cara agar tidak suskes sangat susah ditemukan, atau bahkan tidak ada. Berbeda dengan artikel tentang cara agar sukses, mungkin jumlahnya setara penduduk Lamongan, buanyak, Bos!

Melihat kesenjangan yang ada, saya di sini mencoba menambal lubang tersebut. Baiklah, sebagai kaum klimprak-klimpuk, akan saya bagikan kiat-kiat agar hidup Anda tidak sukses.

  • Salahkan privilege

  • “Kamu mah enak terlahir jadi anak orang kaya”. Ungkapan seperti ini adalah prinsip utama yang wajib dipegang erat-erat. Anda harus selalu percaya kalau yang membuat orang menjadi sukses adalah keturunan, jadi jika Anda tidak terlahir sebagai orang kaya, percayalah Anda tidak akan sukses.
  • Abaikan saja cerita-cerita seperti Chairul Tanjung yang lahir dari keluarga tidak punya kemudian sukses, atau cerita kalau Deddy Corbuzier juga pernah hidup dalam kemiskinan. Anggap saja cerita seperti itu sebagai fiksi yang dilebih-lebihkan. Yakinlah kalau Anda tidak sukses adalah karena kemiskinan yang struktral dan kultural.

  • Jangan menyalahkan diri sendiri

Cobalah menyalahkan orang lain, keadaan, waktu, keberuntungan, atau pemerintah. Misalnya, ketika Anda tidak lulus tepat waktu, salahkan saja dosen Anda yang susah dihubungi, atau salahkan saja teman Anda yang tidak mau memberi semangat setiap hari agar Anda mau mengerjakan tugas akhir. Atau bisa juga menyalahkan pemerintah yang tidak becus mensejahterakan penduduknya.

Ya, salahkan saja semuanya, yang penting jangan sampai menyalahkan diri sendiri, itu sangat fatal. Ketika Anda menyalahkan diri sendiri kemudian melakukan evaluasi, maka bisa saja Anda akan tersesat ke jalur kesuksesan, karena itu jangan pernah menyalahkan diri sendiri.

  • Menghibur diri dengan kata-kata penenang

Jauhi kalimat yang penuh dengan kejujuran, seperti: “Merasa tidak ada masalah tidak membuat masalahmu menjadi tidak ada”. Saya lebih menyarankan Anda percaya pada kalimat seperti, “Semua akan indah pada waktunya” sambil meluk bantal berming-minggu. Tetaplah seperti itu, hibur diri kalian dengan kalimat-kalimat penenang.

Kalau ada orang yang menyuruhmu untuk muhasabah, atau memberimu semangat agar berjuang kembali, abaikan saja. Namun jika ia masih terus melakukannya, hantam saja dengan kalimat “Urep iki meh dolek opo to” (Hidup ini mau mencari apa sih).

Kiranya itu saja kiat-kiat yang bisa saya sampaikan, kalau ada yang pengin nambahin, silahkan saja tulis di kolom komentar. Dan terakhir, tetaplah putus asa dan jangan sampai semangat. Yok semua orang bisa kok untuk tidak sukses kalau memang mau melakukannya.