Please throw your garbage in the right place! Tulisan ini bukan mau bilang tentang banyaknya sampah atau tepatnya tulisan sampah alias hoax yang menebarkan kebencian, permusuhan dan klaim kebenaran yang muncul di berbagai media sosial kita akhir-akhir ini.

Bukan juga tentang sampah masyarakat yang menurut saya, orang yang tidak berguna bukan karena kelasnya atau stratanya dalam kehidupan namun orang-orang ini adalah si penyebar hoax. Dan tulisan ini adalah tentang sampah yang sesungguhnya, barang yang tak berguna, tidak penting-penting amat dan tempatnya cuma di gudang yang mungkin bisa dimanfaatkan sebagian orang lain.

Sampah dan barang-barang tetek bengek kita

Terus-terang, keluarga besarku, saudara(i) dari pihak ibu, alhamdulillah hidup dalam kondisi ekonomi menengah ke atas. Makanya, tidak heran keluargaku bukan cuma punya satu rumah tapi dua rumah. Ini dikarenakan tempat nenek alias leluhur kami ada di kampung yang berbeda dengan tempat berkarir atau berkantor yang terletak di kota.

Belum lagi tawaran cicilan rumah kredit tersedia bagi pegawai negeri yang mudah mereka dapatkan sehingga rumah pun menjadi beranak pinak. Nah, karena punya banyak rumah tadi, mereka pasti ingin memenuhi rumah itu dengan berbagai jenis barang sebagai kebutuhan hidup.

Konsumtif bin Hedonis

Terus yang menjadi masalah: pertama, Perilaku konsumtif, hedonis gaya hidup yang pemborosan, suka berbelanja atau membeli sesuatu. Barang yang dibeli, entah itu buku dan baju bagi generasi muda di keluarga kami. Pembeliannya melalui online atau mendatangi toko secara langsung.

Lain lagi dengan generasi tua yang suka dengan peralatan rumah tangga seperti panci dan piring di pusat perbelanjaan perabot rumah tangga atau di pasar tradisional. Bukan cuma itu, pernak-pernik rumah seperti hiasan dinding dari kayu yang dibeli dari tempat objek wisata seperti Bali, Toraja dan Jogja menjadi barang yang wajib punya.

Kedua, rumah gudang alias gudang rumah. Apa bedanya rumah gudang dan gudang rumah? Bagi saya fungsi rumah menjadi berbeda ketika rumah berfungsi sebagai gudang tempat barang-barang yang berfungsi sekaligus tidak berfungsi atau barang-barang yang tidak difungsikan lagi? Ketika kita memiliki gudang rumah kita hanya akan menumpuk barang-barang.

Ketiga, barang-barang yang sering ditumpuk bisa menjadi sumber penyakit. Botol-botol bekas, kaleng-kaleng bekas, koran bekas, alat-alat listrik atau elektronik yang sudah rusak dan perkakas-perkakas tua dan lain sebagainya. Mereka yang tersimpan di gudang menjadi sarang hewan. Bukan hanya cicak atau tokek, ada kecoa, tikus bahkan bisa jadi ular bersarang di sana. Semuanya menjadi sumber penyakit bagi kita yang bisa mematikan.

Keempat, lemari yang penuh dengan baju bekas dan peralatan rumah tangga yang tidak dipakai. Semua barang-barang di atas biasanya hanya memenuhi lemari di rumah kita atau di gudang padahal bisa kita sumbangkan ke panti asuhan atau tetangga kita yang membutuhkan. Bahkan lebih beramal dan berpahala ketika diberikan ke korban bencana (orang lain yang bisa mendayagunakannya).

Solusi jitu: berbagi

Begitulah mungkin perilaku orang tua jaman dulu yang (kolot). Mereka selalu berpikir besok-besok barang tadi bisa berfungsi dan berdaya guna. Namun, bagaimana bisa berfungsi kalau tidak langsung difungsikan? Bagaimana bisa berdaya guna jika tidak digunakan langsung kepada orang yang benar-benar membutuhkannya atau yang bisa memanfaatkannya?

Minimal dikasih ke pemulung yang bisa mereka jual. Lagi pula, dengan memberikannya kepada orang lain, kita tentu telah beramal. Walaupun mungkin di keluarga kita, ada anggota keluarga yang kreatif bisa menyulap sampah menjadi kerajinan. Tapi, kalau tidak langsung dikerjakan sama saja bohong.

Omong-omong, saya suka sekali dengan pepatah yang kalau tidak salah milik orang Cina (Fengshui), "Ketika barang kita diberikan ke orang lain, pasti akan ada gantinya." Bukan cuma karena itu, rumah pun menjadi "bernapas", terasa ringan, terlihat lebih bersih, dan luas, tanpa barang barang yang tidak jelas membuat pikiran semerawut.

Berbagi pengalaman

Sebelum menulis ini, saya bertanya pada diri saya sendiri, "Sudahkah saya membuang sampah pada tempatnya? Sudahkah saya menerapkan pola hidup bersih?" Untungnya, saya secara pribadi suka 'membuang' barang-barang yang sudah agak rusak seperti baju.

Secantik apa pun baju itu kalau sudah ada robek sedikit atau warnanya agak pudar, langsung saya berikan ke orang yang membutuhkan. Saya juga tidak memakai peralatan masak, makan dan minum yang rusak karena mengundang bahaya dan menyebabkan chi (hawa) buruk.

Ajak keluarga untuk hidup bersih

Jangan tunda! Kebersihan yang merupakan sebagian daripada iman namun terkadang tidak diaplikasikan. Orang tua kita biasanya terlalu kolot dengan menyimpan barang-barang "sejarah" yang belum tentu bernilai sejarah. Mereka hanya senang memelihara dan melihat barang-barang mereka yang banyak. So, tawarkan solusi cerdas dengan iming-iming amal pahala. Dan tentu saja gaya hidup konsumtif bisa dikurangi.

Orang bersih, orang intelek

Menurut saya, ciri orang cerdas adalah orang yang mempunyai gaya hidup yang bersih, sehat, dan teratur. Sehingga ketika seseorang bersih, dia pun bisa berpikir dengan jernih, berpikiran positif dan menjadi cerdas menjalani hidupnya tanpa beban lagi merisaukan pikirannya. Yakinkan orang dengan semboyan ini, sehingga pikiran kita bisa sehat karena gaya hidup sehat sehingga otak untuk dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat lagi.