Pandemi, lagi-lagi pandemi yang selalu kena kambing hitam dari banyaknya kesulitan hidup yang dialami manusia akhir-akhir ini. 

Bagaimana tidak, banyak tatanan sosial dalam sekejap berubah drastis semenjak pandemi Covid-19 hadir di dunia. Mulai dari sektor ekonomi kita dapat lihat dengan gamblang bahwa banyak pengusaha gulung tikar, PHK besar-besaran bagi pekerja, dan yang paling miris adalah nasib pedagang kecil yang mengandalkan hasil harian.

Sektor pendidikan pun tentu saja tidak mau kalah. Fase pertama, semua peserta didik (termasuk mahasiswa) diliburkan dengan waktu yang belum bisa ditententukan demi memutus rantai penyebaran virus korona. 

Beberapa saat memang sangat menyenangkan bagi peserta didik (termasuk saya sendiri) dengan liburnya kegiatan belajar mengajar. Hal ini membuat pemerintah harus putar otak agar pendidikan, khususnya di Indonesia tetap berjalan. 

Akhirnya, masuk dalam fase kedua dalam perubahan tatanan pendidikan, diproklamirkanlah sistem pendidikan online bagi segenap lembaga pendidikan. Keputusan ini mengharuskan kegiatan belajar mengajar berlangsung di rumah saja.

“Setiap pilihan memiliki resiko”. Ternyata term tersebut juga berlaku pada sistem pendidikan baru ini. Keluhan demi keluhan mulai menampakkan dirinya satu per-satu. 

Diawali dari kelompok ibu-ibu yang protes karena harus selalu menemani anak-anaknya sekolah. Berpindah ke ranah universitas, mahasiswa juga melakukan aksi protes kepada pihak universitas, seperti penurunan uang kuliah, pemberian kuota internet dan susahnya mendapat sinyal bagi yang rumahnya berada di desa.

Namun dari beberapa problem yang dihadapi dalam sistem pendidikan online, yang paling banyak dibicarakan adalah banyaknya tugas yang diberikan baik guru maupun dosen kepada peserta didiknya untuk mengganti kegiatan tatap muka. Maka dari itulah artikel ini kemudian dibuat oleh penulis yang tidak lain adalah mahasiswa dan juga sedang struggling menghadapi tumpukan tugas.

Sesuai judul, kita akan kupas bagaimana kiat untuk menghadapi tumpukan tugas berkaca dari Imam al-Baqillani. 

Seorang yang memiliki nama lengkap al-Qadhi Abu Bakar Muhammad ibn al-Thayyib ibn Muhammad ibn Ja’bar ibn al-Qasim al-Baqillani ini adalah pakar teologi, hukum, serta logika. Umat Islam mengenal beliau sebagai salah satu dari tiga tokoh utama mazhab Asy’ariyyah dimana dua lainnya adalah Imam Juwaini dan Imam Ghozali.

Imam al-Baqillani dikenal sebagai sosok yang sangat zuhud dan jenius. Beliau berguru kepada banyak ulama’ untuk menimba ilmu, mulai dari fiqih, hadits hingga teologi. Bukti kejeniusan dari al-Baqillani adalah saat menulis kitab beliau tidak pernah menukil dari karya orang lain. 

Semasa hidup, banyak karya yang tercipta dari hasil tulisan beliau. Tercatat ada kira-kira 99 judul kitab karangan al-Baqillani. Bukan sulap apalagi sihir, begitulah hasil dari sikap produktif al-Baqillani. Bahkan dikatakan oleh al-Khawarizmi bahwa al-Baqillani tidak akan tidur sebelum menulis sebanyak 35 halaman (dalam literatur lain 20 halaman).

Satu kiat telah tersingkap, yaitu sifat kerja keras. Apabila kita bermalas-malasan maka tidak ada progress dalam hidup. Begitu juga dalam menyelesaikan tugas, hendaknya untuk menerapkan sifat kerja keras pada diri.

“Malas nugas soalnya nggak ada yang nyemangatin, nggak ada motivasi untuk bangkit dari rebahan!”. Begitulah seringkali generasi millennial galau karena menginginkan adanya motivasi agar semangat dalam menyelesaikan tugas. 

Tidak menjadi masalah, imam al-Baqillani memberikan motivasi bagi oknum-oknum pendambanya melalui salah satu pemikiran teologi beliau yang bernama “teori al-kasb”.

Teori ini membahas mengenai daya yang ada pada manusia berkaitan dengan Qudrat Allah. Al-Baqillani berpendapat bahwa manusia tidak mampu berbuat sebelum terjadi perbuatan (iktisab). Manusia hanya mampu berbuat ketika perbuatan telah dilakukan (fi hal al-iktisab). Hal ini dikarenakan sebelumnya manusia tidak diberikan Qudrat oleh Allah. Maknanya, manusia belum diberi daya oleh Allah.

Dari pemikiran itulah, dapat kita tarik kesimpulan bahwa apabila kita tidak memiliki kemauan untuk bergerak melakukan sesuatu maka Allah tidak akan memberikan daya kepada kita sebagai bekal untuk menyelesaikannya. 

Hal ini bisa dijadikan motivasi agar kita memiliki semangat untuk bergerak menyelesaikan tugas yang menumpuk. Yakni dengan cara memiliki kemauan yang disertai perbuatan untuk menyelesaikannya.

Tidak berhenti di situ saja, Firman Allah yang dijadikan al-Baqillani sebagai dasar adalah surah al-Baqarah ayat 286 yang memiliki arti: “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” dan juga surah al-Thalaq ayat ke-7 yang memiliki arti: “Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan oleh Allah kepadanya”

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kedua ayat tersebut berisikan motivasi bagi kita untuk selalu ingat bahwa di balik segala sesuatu ada Allah cintaNya kepada makhluk, khususnya manusia adalah lebih besar daripada cinta manusia kepadaNya.

Belajar dari gaya hidup hingga pemikiran teologi Imam al-Baqillani, seharusnya dapat dipraktekkan untuk menyikapi banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Dengan begitu, memungkinkan untuk mengurangi stress bagi peserta didik dan tugas tidak lagi menjadi beban melainkan sebagai media untuk mendapatkan ilmu lebih banyak. 

Hal ini sangat dibutuhkan untuk mengasah otak kembali setelah liburan yang begitu lama agar otak tidak vakum dan menyebabkan tumpulnya kemampuan untuk berpikir.