Wiraswasta
1 bulan lalu · 877 view · 3 min baca menit baca · Politik 65086_53289.jpg
Media Indonesia

Kiamat Maju Sehari

Seorang ibu datang ke rumah, bertanya apakah benar kami yang berjualan makanan baceman di resto online. Kami mengiyakan. Memang tumben seharian ini tidak ada transaksi.

Kehadiran ibu itu menyadarkan kami bahwa media sosial down, termasuk IG, WhatsApp, Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lainnya. Rupanya ada tindakan dari pemerintah untuk mem-block media sosial agar derasnya hoaks tidak membanjiri media sosial.

Usai pemesanan, si ibu itu pulang. Kami pergi ke workshop tempat gerobak angkringan dibuat. Harusnya hari ini pengiriman. Tetapi karena hampir semua komunikasi vital diblokir, kami kesulitan untuk menghubungi si pemilik workshop.

Sepanjang jalan, kami melihat situasi jalan masih ramai. Bukan karena limpasan demo di depan Bawaslu yang sejak kemarin sudah memanas, tetapi mereka orang-orang sibuk mencari bernafkah. Yang jarang terlihat justru ojek online. Biasanya mereka paling banyak menguasai jalan.

Tas obrok berisi banyak barang. Orang berboncengan dengan kecepatan santai, seperti tak terjadi apa-apa. Situasi yang terbilang normal tanpa ada wajah cemas.

Saya jadi teringat guyonan sahabat. “Orang Indonesia itu hebat. Besok kiamat, hari ini kerja masuk setengah hari.”

***

Arab Spring merupakan bukti betapa kuatnya dampak media sosial menggerakkan psikologi pemilik akun medsos lainnya. Dan memang, kita kini hidup di dunia yang punya informasi cepat. 


Dalam hitungan detik, berita dari belahan lain tersiar hingga di tempat kita berada. Ketergantungan akan informasi sangat erat. Maka kita kinilah yang oleh John Naisbitt disebut sebagai masyarakat informasi, masyarakat yang menjadikan informasi sebagai gaya hidup.

Arab Spring bermula dari Tunisia. Seorang penjual buah berusia 26 tahun bernama Mohammed Bouazezi nekat bunuh diri dengan membakar diri sebagai sikap protes terhadap ketidakadilan petugas penertiban kota yang menyita mobil pickup tempat berjualannya. Ia tak mampu menebusnya. Bouazezi mengalami luka bakar 90% dan Januari 2011 menghembuskan nafas terakhir.

Seperti rumput kering yang terbakar, negeri-negeri Arab mengalami dampaknya. Masifnya informasi di media sosial memicu simpati dan emosi hingga ke belahan bumi lainnya. Bouzezi terkubur 12 bulan, tetapi dalam jangka waktu tersebut menumbangkan pimpinan di Mesir, Libya, dan Yaman.

Indonesia jauh dari negara-negara Arab. Tetapi pada resolusi konflik, apa yang terjadi pada satu peristiwa konflik, ada lebih dari satu elemen yang menyebabkannya. Ada empat faktor yang terdapat dalam satu konflik: trigger (pemicu), pivotal (akar masalah), mobilizing (peran pemimpin), dan aggravating (faktor yang memperkeruh keadaan).

Bouzezi terjadi di Tunisia, tetapi faktor ekonomi yang menyebabkannya bakar diri dirasakan oleh negara-negara Arab yang bergejolak. Simpati yang merambat menjadi emosi.

Di Indonesia, 21- 22 Mei 2019, ada konflik yang dipicu dari ketidakpuasan terhadap kinerja KPU dari salah-satu pihak. Narasi kecurangan digaungkan, hingga merambah pada kesamaan opini di sebagian masyarakat. Mereka berdemo di Bawaslu dan pecah kerusuhan.

***

Pada perang dunia kedua, pihak yang saling berseteru masing-masing berusaha memecah kode atau sandi yang dipergunakan oleh masing-masing pihak. Keterbatasan teknologi dan penggunaan perangkat komunikasi yang eksklusif dimiliki militer membuat para pihak berusaha menembus percakapan terkait strategi atau informasi-informasi penting agar dapat di-counter lebih awal.

Mesin enigma ditemukan oleh seorang insinyur Jerman bernama Arthur Scherbius. Awalnya untuk tujuan komersial, tetapi penggunaannya bertepatan dengan kondisi panas Jerman yang siap membuka front perang dunia kedua. Enigma sendiri diambil dari bahasa latin, aenigma, artinya teka-teki.

Jika pernah melihat film The Imitation Game, akan terlihat bagaimana upaya memecahkan informasi yang telah dienskripsi berdampak besar pada penanganan militer selanjutnya.

Masyarakat informasi dewasa ini, selain melahap informasi, juga memproduksi informasi. Melalui akun media sosial, tiap orang bisa memberitahukan tentang suasana hati, pengamatannya, analisisnya, hingga opininya. 

Bahkan lebih dari itu, informasi yang dipercayainya dapat dibagikan ke sesama mutual friend-nya atau grup-grup yang diikutinya. Sumber informasinya bisa didapat di mana saja, sesuai dengan yang diyakininya benar dan terpercaya.

Peristiwa diblokirnya media sosial oleh Kominfo pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Khususnya buat wirausaha seperti kami yang banyak mengandalkan online sebagai sarana promosi dan penjualan. 

Namun melihat perihal diblokirnya media sosial untuk menghalangi penyebaran informasi yang tak benar, kami berkaca pada kejadian Bouzezi di Tunisia. Semula ungkapan simpati, kemudian berubah menjadi emosi membuncah membakar perlawanan. 

Sebuah sumber informasi provokatif di WhatsApp (pelakunya konon telah tertangkap) yang menyebarkan ajakan untuk mengganggu kunjungan Presiden RI ke-7 di Johar, Pasar Senen. Di media sosial Facebook dan Twitter, apalagi, bertebaran informasi yang valid dan tak valid tentang peristiwa 21 - 22 Mei 2019 yang disampaikan pemilik akunnya.

Melihat kejadian demo rusuh di televisi (meski live streaming) di YouTube, kita seperti dibalikkan pada esensi media mainstream yang harus objektif ketimbang opini-opini di media sosial.


Selama beberapa hari ke depan, rupanya kita harus rela saluran komunikasi kita via media sosial harus terhambat. Puasa ramadan kali ini harus bisa menahan selain lapar dan haus, juga emosi yang diakibatkan status-status yang membuat emosi membuncah.

***

Guyonan tentang orang Indonesia menghadapi hari kiamat itu menggelitik saya untuk bertanya pada pemilik ceritanya.

“Bagaimana kalau kiamatnya dimajukan sehari, pas kita lagi kerja setengah hari?”

“Ya cuma sempat sarapan saja. Makan siangnya wassalam,” elaknya.

Artikel Terkait