Akhir dunia, mungkin identik dengan kiamat. Itu terjadi bukan karena Izrail meniup sangkakala, melainkan karena nasib bumi itu sendiri. 

Sekalipun manusia yang diwakili NASA telah menemukan Kepler-1649c yang disebut-sebut bisa dihuni manusia, permasalahannya, teknologi manusia sekarang belum mampu melakukan invasi ke planet itu. Sedangkan, setiap hari pemanasan global, kebakaran hutan, kekeringan, pencemaran lingkungan, sampah plastik, dan bencana alam lainnya bergerak lebih cepat dari prediksi.

Kasus paling baru, di Los Angeles, 2000 hektare hutan terbakar (kompas.com). Di Indonesia sendiri, kasus karhutlah selalu terjadi tiap tahun. 

Permasalahannya, bukan seberapa luas hutan dan lahan yang terbakar, melainkan adalah bahwa yang terbakar adalah sumber oksigen dari bumi itu sendiri. Bayangkan saja, apa yang akan terjadi di masa depan bila hampir tiap tahun terjadi karhutla dan di satu sisi pembangunan beton juga berlangsung?

Kita memegang kendali besar atas keberlangsungan bumi itu sendiri. Kita seharusnya mulai mengorientasikan pikiran, tingkah, pola, dan masa depan hidup kita ke arah perbaikan ekologi. Rasanya, kapitalisasi akan lepas tanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Itu sebabnya bumi hanya berharap banyak pada kesadaran manusia atas penghancuran perlahan ini.

Merusak Bumi dari Meja Makan

M Faizi agaknya tepat saat mengatakan bahwa manusia merusak bumi dari meja makan. Betapa tidak, dalam semangkuk makanan yang kita makan, ada limbah yang begitu banyak di belakangnya. 

Kita tahu, kaleng minuman, popok bayi, styrofoam, kantong plastik, botol plastik, baterai, dan lain sebagainya merupakan limbah yang sangat susah terurai. Sampah-sampah itu dibuat sekaligus dihasilkan dari aktivitas naluriah kita, yakni makan. Betapa sepelenya itu.

“Keabadian” bahan produksi yang kita hasilkan agaknya itulah yang menjadi ancaman serius atas bumi. Itu baru dari meja makan. Belum dari sektor lainnya. Yang jelas, aktivitas yang dihasilkan manusia atas nama perkembangan zaman membuat bumi harus menyesuaikan diri. Satu-satunya yang bisa bumi lakukan untuk menyesuaikan dirinya ialah dengan “pemusnahan massal”.

David Wallace dalam bukunya Bumi yang Tak Dapat Dihuni menyatakan, sepanjang keberadaannya, bumi telah mengalami lima peristiwa kepunahan massal sebelum yang sedang kita alami sekarang, masing-masing memusnahkan sebagian besar kehidupan sehingga berfungsi mengosongkan ajang evolusi.

Semua kepunahan massal tersebut kecuali yang menghabisi dinosaurus melibatkan perubahan iklim akibat gas rumah kaca (karbon dioksida). Dan sekarang, kita menambah karbon ke atmosfer dengan laju lebih tinggi (10 kali lebih cepat).

Kita tahu ada masalah pada iklim bumi, tapi kita masih saja melakukan perusakan terhadapnya. Prestasi terbaiknya dalam masalah itu hanya wacana (cintai alam). Sedangkan, pemusnahan massal jilid 6 sedang menghantui kita setiap harinya.

“Cuaca Buruk”

Musuh terbesar umat manusia abad informasi ini ialah wacana. Setiap kata mengandung doktrinasi atas perilaku kita (baca algoritma perilaku). Tatanan simbolik yang melingkari setiap makna, memunyai efek yang lebih provokatif ketimbang apapun.

Terkait dengan masalah lingkungan dan iklim, bingkai wacana yang harus dikambinghitamkan terlebih dahulu. Bencana alam kini hanya dimaknai/ditulis menjadi “cuaca buruk”. 

Kita terlalu lembek memahami kondisi alam terkini. Efeknya, saat kita melihat ke luar, segalanya tampak masih baik-baik saja. Bingkai pikiran kita yang menggiringnya pada pemahaman “masih cuaca buruk”. Saya bisa menyebut, bingkai wacana lingkungan dan iklim gagal memberi kuasa dan efek.

Karena Cuaca Panas, Setengah Juta Kerang di Pantai Ini jadi Matang (Detikfood); Populasi Penguin Merosot Tajam, Tanda Bumi Makin Panas? (Detiktravel); Lantai Ruang UKS SD di Sidoarjo Panas, Suhu Capai 42 Derajat Celcius, Bisa untuk Goreng Telur (Kompas.com), dan lain sebagainya.

Semua berita di atas terasa hanya sekadar informasi gejala alam “biasa” dan cenderung parodi. Sehingga yang ditangkap publik  tidak lebih dari “cuaca buruk” di suatu daerah, yang di mana hanya perlu mantel untuk mengatasinya, dan mantel tersebut hanya perlu disediakan yang bersangkutan (terkena musibah), yang tidak terdampak tidak perlu.

Contoh di atas hanya beberapa dari hal yang banyak. Kasus semacam ini terjadi di mana-mana dengan wacana yang hampir sama.Yang jelas, kota-kota kebanjiran, kekeringan parah, gelombang panas, planet yang saban hari dihajar hujan badai yang dulu disebut “bencana alam” akan segera dianggap hanya “cuaca buruk”. Bahkan Tempo hanya menyebut banjir di Jakarta sebagai “cuaca ekstrem” dalam unggahan akun intagramnya.

Bingkai wacana tersebut belum seberapa. Permasalahan serius dari ekologi ialah mayoritas kita masih menjadikannya masalah personal, bukan global (wacananya saja global, kejadiannya masih regional).

Banjir di Jakarta, mencairnya kutub, kekeringan di daerah, badai di Amerika, kebakaran hutan Australia dan lain sebagainya agaknya cuma memenuhi beranda info media sosial dan berita, selebihnya yang tak bersangkutan masih bisa hidup seperti biasanya. Padahal kerusakan ekologi merupakan akumulasi atas segala aspek tingkah kita (semua) pada alam.

Akumulasi atas rentetan bencana alam itu akan terus berlanjut dan membesar seiring keacuhan itu sendiri terpelihara. Einstein mengatakan, “Dunia menjadi tempat paling berbahaya untuk dihuni bukan karena banyak penjahat, melainkan karena orang-orangnya sudah tidak peduli”. Dan generasi digital sangat tahu bagaimana bersikap bodo amat.

Demam Zizek

Orang-orang gagal bersikap atas maksud dari fakta sains. Banyak sekali data, fakta, ulasan akademis, dan akibat nyata atas perubahan iklim ini. Tapi, semuanya cukup banal. 

Datang/sirna, timbul/tenggelam, berganti/hilang, begitulah nasib kehadiran di masa kini. Masalah yang mereka buat agaknya tidak mampu mereka pertahankan, apalagi selesaikan, termasuk masalah lingkungan dan iklim ini.

Mungkin benar apa yang dikatakan Zizek. Dulu, mereka melakukannya karena mereka tidak mengetahui. Sekarang, mereka melakukannya padahal mereka mengetahui. Keadaan semacam itu menjadi karakter baru dewasa ini. Bukan karena mereka tidak tahu, mereka tahu, tapi tetap melakukannya (bahan bakar fosil, produksi karbon, efek rumah kaca, pelanggaran etika lingkungan,  dsb).

Dulu manusia melakukan ritual khusus yang tidak bisa ditangkap nalar untuk memahami gejolak alam. Manusia modern justru lebih parah dari kepercayaan semacam itu.

Orang Mesir Kuno percaya, meluapnya Sungai Nil akibat kemurkaan dewa. Itu sebabnya mereka melakukan pemujaan pemohonan belas kasih. Orang jaman now lebih tak masuk akal lagi. 

Bantuan sains tampaknya hanya menjadi penjelas yang lumpuh. Itu sebabnya banjir, kebakaran hutan, cairnya kutub, dan lain sebagainya hanya dimaknai sebagai kegiatan alam yang sudah sewajarnya terjadi. Ternyata pertumbuhan kecerdasan tidak pernah menjamin kebijakan bersikap manusia.

Mungkin kita bisa berpikir bahwa manusia makhluk yang paling ahli dalam beradaptasi. Namun, ancaman kerusakan lingkungan dan alam merupakan keniscayaan yang nyata. Tinggal kita memilih, mulai memperbaiki atau mempercepat masa depan (kepunahan massal) itu.