Dalam musim politik lima tahunan seperti saat ini, relasi sosial antar individu yang selama ini terjalin baik di masyarakat rentan terputus. Sikap dukungan kepada masing-masing calon presiden pilihannya membuat masyarakat seakan-seakan terbelah. 

Tidak hanya masyarakat awam pada umumnya, para intelektual kemudian berbondong-bondong menyusul menjatuhkan keberpihakannya pada salah satu dari calon presiden yang tersedia.

Namun bukan keberpihakan itu yang dimaksud penulis dan dibahas dalam tulisan ini. Karena menurut penulis, keberpihakan politik para begawan ilmu saat ini hanyalah sebagai pilihan dan dukungan politik, bukan sebagai tanggung jawab keilmuannya untuk kemaslahatan alam seisinya. 

Sehingga keberpihakan yang dimaksud ialah sikap seorang intelektual, seorang ilmuwan, atau juga ulama yang dihadapkan pada sebuah persoalan yang menuntut sebuah sikap tanggung jawab atas keilmuannya.

Beberapa peristiwa, isu, dan problem sosial yang berkembang di masyarakat sering kali memperlibatkan para begawan itu hadir sebagai kelompok yang punya otoritas karena ilmunya. Begawan ilmu yang dimaksud ialah para kalangan terdidik di sebuah masyarakat.

Lalu untuk apa, bagaimana,dan kepada siapa keberpihakan para begawan ini dioperasikan?

Seorang ulama yang hidup di abad ke-19 menarasikannya dengan baik bagaimana seharusnya para begawan ilmu ini bersikap. Ya, ia bernama Kiai Sholeh Darat, seorang gurunya para guru yang hidup di saat bumi nusantara masih dikuasai pemerintah kolonial Belanda. Ia mempunyai narasi yang menarik soal ilmu dan pemiliknya sehingga dapat dijadikan rujukan dalam memandang persoalan ini.

Sholeh Darat, sebagai ulama yang dikenal dengan karya-karya tasawufnya, menyebut ilmu dengan istilah ilmu nāfi’. Ilmu ini merupakan ilmu untuk mengetahui segala hal tentang Tuhan; asma’-Nya, Sifat-Nya, berinteraksi dengan-Nya, beribadah kepada-Nya, dan lain sebagainya. Iamenuliskan:

Ilmu nāfi’ iku ilmu ngaweruhi kelawan Allah lan ngaweruhi sifate Allah lan Asmane Allah lan ngaweruhi pertikele nyembah ing Allah lan tata keromo ing Allah (Matan Al-Hikam, 140)

Artinya: “Ilmu nāfi’ yaitu ilmu untuk mengetahui Allah, sifat-sifat-Nya, Asma Allah, menyembah kepada Allah,dan tata kerama kepada Allah.”

Karena ilmu bagi Sholeh Darat memiliki fungsi untuk lebih mendekatkan manusia agar mengenal dan mengetahui tentang-Nya, tentu makin seorang berilmu, ia tidak akan menjauhi nilai-nilai yang diajarkan Tuhan-nya, seperti keadilan, kemanusiaan, dan nilai-nilai universal lainnya. Sehingga, konskuensi logis dari seseorang yang berilmu dicirikan dengan perwujudannya dalam membela nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan nilai-nilai universal lainnya.

Bahkan, Sholeh Darat dengan tegas menyatakan orang yang dikatakan berilmu tapi berjalan dan bersikap menjauhi jalan (syariat) Allah, termasuk memunggungi nilai-nilai universal Islam, maka sebenarnya ia tidak berilmu. Karena sesuatu yang mendorong untuk dekat kepada selain (ajaran) Allah, ia tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori ilmu. Beliau menuliskan:

Pungkasane sakwuse oleh ilmu moko ngajak ilmune maring Allah kerono saben-saben ilmu ingkang ngajak lighorillāhi iku dudu ilmu kerono saben-saben ilmu mesthi lillāhi ta’āla” (Minhajul Atqiya’, 264-265).

Artinya: “Akhirnya setelah memperoleh ilmu, maka ilmu akan mengajak kepada Allah karena setiap ilmu yang mengajak kepada selain Allah itu bukan ilmu, karena setiap ilmu pasti menuju kepada Allah.”

Bahkan pada konteks di mana Sholeh Darat hidup, ia melarang para santri (calon begawan ilmu) untuk memiliki cita-cita atau bahkan berniat mengabdikan ilmunya kepada penguasa dan bekerja kepada kezaliman. Terlebih, kita akan dengan mudah mengetahui bahwa penguasa pada saat itu ialah pemerintah Belanda, mereka yang menjajah dan melakukan kezaliman atas hak-hak rakyat kecil. 

Oleh karena itu, Sholeh Darat melarang keras bagi para santri untuk mempergunakan ilmunya untuk orang-orang yang dalim.

Lamuno wediho ing pengerane utowo lamuno ngandel dawuhe pengerane moko yekti ora wani nerjang larangane moko nalikane wani nerjang larangane moko dadi ora wedi lan ora ngandel ing dawuhe moko mengkono iku ngarepaken kufur namane koyo lamun ngaji sejane lamun wus ‘alim moko den gawe magang ratu utowo gawe magang dzulmah utowo ing musyrikin ing hale dawuh fī al-Quraʼ̄ni wa lā tarkunū ila al-ladzīna dholamū fatamassakum al-nāru.”

Artinya: “Jikalau engkau takut kepada Tuhanmu atau mematuhi perkataan tuhanmu, maka sungguh engkau tidak akan berani menabrak larangan-Nya. Maka apabila berani melanggar larangan-Nya sehingga tidak takut dan tidak patuh perkataan-Nya, maka yang demikian itu menghendaki pada kekufuran. 

Sebagaimana tujuan belajar (ngaji) suatu ketika nanti jika sudah alim digunakan untuk bekerja kepada penguasa, kedzaliman, atau orang-orang musyrik. Seperti firman-Nya di dalam Al-Qur’an, ‘janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang dzalim maka api neraka akan menyentuh kalian.” (Minhaj al-Atqiya’, 272).

Jika pada zamannya Sholeh Darat menghadapi pemerintah kolonial yang melakukan kezaliman kepada masyarakat, ia memberikan posisinya secara tegas bahwa seharusnya para begawan ilmu bukanlah mereka yang hendak menggadaikan ilmunya kepada kezaliman. Posisi keberpihakan yang jelas ini yang hendak disampaikan kepada Sholeh.

Dalam konteks sekarang, para begawan ilmu, baik intelektual, akademisi, kiai, budayawan, dan kalangan terdidik lainnya, sebenarnya berulang kali dihadapkan pada situasi yang menuntut untuk menentukan sebuah sikap. Konflik sosial yang terjadi di masyarakat yang menghadap-hadapkan rakyat dengan penguasa, rakyat dengan pengusaha, atau bahkan rakyat dengan militer, sering kali menyeret para begawan ilmu ini untuk hadir dimintai kesaksian dan keberpihakan keilmuannya.

Jika kita meninjau apa yang telah dinasehatkan Sholeh Darat kepada para begawan ilmu, semestinya telah terang bahwa orang-orang yang berilmu ialah mereka yang terus menerus berjalan semakin mendekati Tuhan-nya. Maka tidaklah mungkin bagi seorang yang berilmu menjauhi nilai-nilai ketuhanan yang berupa keadilan bahkan membela dan memihak kelompok yang berlaku zalim.

Maka bagi para begawan ilmu, membela dan memperjuangkan keadilan, mendukung dan berpihak kepada mereka yang terzalimi seperti para petani, buruh, kelompok minoritas, dan lain seterusnya adalah konskuensi logis atas kepemilikan sebuah ilmu. 

Mereka yang melakukan sebaliknya pada dasarnya bukanlah orang yang berilmu, karena ilmu, kata Sholeh Darat, selalu mengajak kepada (ajaran) Allah, bukan selain-Nya.