Di dunia ini ada dua tokoh agama yang punya pengaruh besar yakni Paus Fransiskus sebagai pemimpin Gereja Katolik sekaligus Kepala Negara Kota Vatikan dan Dalai Lama sebagai tokoh spiritual agama Buddha dan sekaligus pemimpin Tibet. Buat saya, Kiai Said yang memimpin organisasi Islam terbesar di dunia, yakni NU bisa disejajarkan dengan Paus Fransiskus dan Dalai Lama.

Beberapa waktu lalu, The Royal Islamic Strategic Studies Centre Jordan menerbitkan daftar 500 tokoh muslim dunia yang berpengaruh dan bisa diunduh di http://themuslim500.com/downloads/TheMuslim500-2017-lowres.pdf.

Dalam daftar tersebut, Kiai Said menempati urutan nomor 20 yang artinya pengaruh Kiai Said dalam dunia Islam cukup besar dan telah diakui oleh masyarakat muslim Internasional. Sehingga tidak ada salahnya untuk menyejajarkan beliau dengan Paus Fransiskus dan Dalai Lama.

Kiai Said, Paus Fransiskus dan Dalai Lama adalah 3 tokoh agama yang berpengaruh di dunia mewakili 3 agama besar dunia yakni Kristen Katolik, Buddha dan Islam. Dan ketiga tokoh besar agama tersebut mempunyai pesan yang sama bahwa agama mestilah menjadi sumber perdamaian dunia. Sehingga andaikan tiga tokoh ini bisa bersinergi maka suara perdamaian dunia akan menjadi lebih kuat, bergaung dan sangat berpengaruh.

Saya memimpikan suatu saat Kyai Said bersama-sama dengan Paus Fransiskus dan Dalai Lama mendialogkan, mengonsolidasikan serta menyerukan perdamaian dunia dan menolak radikalisme agama.

Melalui ketiga tokoh besar agama inilah, pendekatan halus (soft approach) menangkal radikalisme agama yang ujung-ujungnya perang atas nama agama mungkin bisa lebih efektif dijalankan. Persatuan kemanusiaan atau ukhuwah insaniyyah bisa lebih diperkuat untuk kerja sama lintas agama yang lebih produktif untuk memerangi kemiskinan, kebodohan dan memajukan kesehatan, pendidikan, budaya seluruh umat manusia.

Masyarakat Eropa awam banyak yang islamofobia karena potret Islam yang ada adalah ISIS dan kelompok-kelompok Islam garis keras dan eksklusif. Mendialogkan gagasan Islam ramah dan moderat dengan Paus Fransiskus dan Dalai Lama mungkin bisa menjadi jalan yang efektif untuk mengubah citra Islam yang menyeramkan.

Menurut saya, Indonesia memang sudah saatnya menjadi kiblat Islam karena jumlah muslim yang terbesar di dunia, kapasitas ulama-ulamanya juga tidak kalah dengan negara-negara lain. Menjaga perdamaian dan kerukunan umat beragama dengan latar belakang lebih dari 300 suku dan 6 agama utama adalah tidak mudah dan ulama-ulama Nusantara sudah terbukti dan tidak perlu diragukan lagi dalam hal ini.

Bangsa-bangsa lain, termasuk masyarakat muslim dari negara lain perlu belajar ke NU mengenai hal ini.

Selain itu, saya pikir NU secara kelembagaan bisa mulai mendorong para santri untuk belajar baik itu ilmu-ilmu Islam, sastra, sosial, sains dan teknologi di negara-negara barat, tidak hanya di negara-negara timur atau muslim. Hal ini dimaksudkan supaya para santri bisa mendapat perluasan perspektif, mengenal dan memahami perbedaan kultur, cara berpikir dan filosofi masyarakat di dunia barat yang tidak jarang berkebalikan dengan dunia timur atau dunia Islam.

Serta merasakan bagaimana menjadi minoritas di sebuah negara yang non-muslim. Tentu semua ini menjadi tantangan bagi santri-santri Islam Nusantara bagaimana memformulasikan Islam yang rahmatan lil alamin di lingkungan yang berbeda.