Penulis Lepas
3 minggu lalu · 573 view · 3 menit baca · Politik 96157_70448.jpg
Kompas.com

Kiai Ma'ruf Bukanlah Pendamai

Debat Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 Januari 2019 masih meninggalkan bekas bagi beberapa pemilih rasional. Bukan hanya itu, beberapa menilai debat terlihat tidak menarik dan visi-misi yang disampaikan tidak menyentuh pada persoalan yang sedang dihadapi oleh Indonesia saat ini.

Diselenggarakan di Hotel Bidakara Jakarta, debat ini sudah disusun formatnya oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), baik bocoran pertanyaan, urutan menyampaikan visi-misi, juga urutan menjawab pertanyaan dari panelis debat dan menjawab pertanyaan dari kedua Paslon masing-masing. Meskipun telah diberikan kisi-kisi, poin-poin yang disampaikan tidak menjawab permasalahan yang ada.

Tetapi debat mendapat penilaian dan tanggapan, baik dari tim sukses masing-masing. Itu hanyalah branding politic dan subjektivitas keduanya. Jadi tidak perlu kaget, namanya juga usaha.

Bagi penulis sendiri, debat perdana tidak mengupas secara mendalam visi-misi kedua paslon. Strategi yang diberikan juga tidak begitu baik. 

Setidaknya ada beberapa catatan, yaitu debat tidak mampu menggali lebih dalam pendangan kedua pasangan calon, baik pada isu hukum, HAM, korupsi dan terutama terorisme. Debat hanya menunjukkan one mean show, padahal pemerintahan tidak dijalankan oleh presiden semata tetapi juga dibantu oleh wakilnya. Hal ini terlihat dengan pasifnya calon wakil presiden dalam memberikan pandangan terhadap isu-isu debat.

Pada tulisan ini, yang ingin disoroti adalah performa Kiai Ma'ruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden Jokowi. Selama debat, Kiai Ma'ruf adalah orang yang paling pasif dan sedikit berbicara dibandingkan dengan Jokowi, bahkan semua pertanyaan lebih sering dijawab oleh Jokowi.

Apa yang kemudian melatarbelakangi pasifnya Kiai Ma'ruf? Tentu hanya tim sukses yang punya jawaban, apakah itu strategi kampanye ataukah memiliki ketakutan sendiri terhadap jawaban yang diberikan oleh Kiai Ma'ruf. 

Sebab pencalonan Kiai Ma'ruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden Jokowi adalah menguatnya isu-isu gerakan radikal, terorisme, dan tindakan yang menggangu stabilitas negara. Maka muncullah nama Kiai Ma'ruf sebagai upaya untuk membendung gerakan-gerakan tersebut. 

Di lain sisi, posisinya yang strategis saat itu, sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga rais 'amm. Jejak Ma'ruf diyakini mampu membendung isu gerakan radikal, terorisme dan tindakan yang menggangu stabilitas negara.

Selain itu, posisi pressure partai koalisi yang kuat sehingga memunculkan nama Kiai Ma'ruf Amin. Sehingga munculnya nama Kiai Ma'ruf unntuk menyelesaikan masalah Indonesia terutama dalam isu gerakan radikal dan terorisme yang mengganggu stabilitas negara.

Tetapi berbanding terbalik ketika debat, selain mendapat porsi bicara yang sedikit, Kiai Ma'ruf juga tidak memiliki ide briliant untuk mengatasi isu terorisme. Kiai Ma'ruf mendapatkan porsi bicara yang lebih ketika topik terorisme. Berikut pandangan beliau:

"Deradikalisasi bagi mereka yang terpapar kembali ke jalan lurus. Caranya apa yang sebabkan mereka jadi radikal. Kalau karena paham keagamaan menyimpang, bagaimana meluruskan paham keagamaan yang menyimpang. Tetapi disebabkan faktor sosial ekonomi, pendekatannya melalui pemberian lapangan kerja dan santunan agar mereka kembali ke jalan lurus. Ini harus dikaji kenapa mereka bisa radikal."

Bahkan beliau tidak mengulas secara mendalam tentang isu besar ini, padahal yang ditakutkan oleh pasangan ini adalah soal isu terorisme dan gerakan radikal. Maka dapat dikatakan hadirnya Kiai Ma'ruf bukanlah sebagi seorang peace maker sebagaimana keinginan partai koalisi.

Deradikalisasi sebagai upaya preventif untuk mencegah gerakan teororisme dengan menghindari kekerasan, dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan jika sebabnya adalah ekonomi. Itu adalah jawaban terbatas dari seorang calon wakil presiden yang diberikan peran menyelesaikan masalah-msalah agama yang sering berakhir pada pelarangan beribadah dan konflik antara agama.

Selain keterbatasan isu yang hanya melihat dari segi agama, Kiai Ma'ruf juga memiliki pandangan yang terbatas tentang bagaimana membangun negara tanpa kondisi konflik dan bagaimana menjaga negara dari sebuah konflik.

Pada beberapa isu debat yang strategis, Kiai Ma'ruf hanya menyampaikan bahwa ia mendukung apa yang disampaikan oleh Pak Jokowi. Muncul sebagai calon yang memiliki posisi tawar untuk menyelesaikan isu terorisme dan gerakan. Dari sini dapat dilihat bahwa sebenarnya posisi tawar beliau hanya sebagai alat peredam gerakan radikal, tetapi ide tentang mengatasi masalah tersebut terbatas dan tidak begitu jelas.

Maka perlu mempertegas posisi dan nilai tawar Kiai Ma'ruf, selain untuk menyakinkan pemilih, pencalonan beliau dapat meningkatkan nilai tawar terutama pada pemilih muslim.

Debat yang masih menyisakan empat kali debat, di mana terdapat satu kali debat untuk calon wakil presiden pada tanggal 17 Maret 2019, untuk itu perlu dimanfaatkan secara baik oleh pasangan ini terutama calon wakil presiden. Ide-ide yang dirumuskan oleh tim sukses harus mengindentikkan beliau sebagai tools of conflict resolution.

Tentunya beliau juga mampu menjelaskan bagaimana menggunakan alat resolusi konflik tersebut. Sebab konflik dipengaruhi oleh banyak hal, sehingga Kiai Ma'ruf memiliki jawaban atas setiap tindakan terorisme  yang mengancam keamanan negara.