"Jadilah kiai yang ulama (intelektual), dan jadilah ulama (intelektual) yang kiai." Nukilan pesan ini adalah ungkapan KH Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan Muhammadiyah dan reformis Muslim Indonesia.

Nukilan pesan ini, kalau tak salah,, saya temukan dalam salah satu buku karangan Prof Abdul Munir Mulkhan tentang KH Dahlan yang judulnya saya tak ingat. Pesan ini menjadi sebuah wasiat yang dinisbahkan kepada generasi setelah KH Dahlan. Termasuk para aktivis Muhammadiyah di era sekarang ini. 

Meski begitu, pesan tersebut sebenarnya punya dimensi yang lebih luas. Tidak hanya untuk warga Muhammadiyah, tapi juga untuk keseluruhan umat Muslim. Bahwa umat Islam harus berpikir maju dan mampu menyeimbangkan pemahaman keislaman dengan kemampuan menalar zaman. Sebab itulah mesti jadi kiai-cum-intelektual atau intelektual-cum-kiai.

Dalam kutipan aslinya, menggunakan kata "ulama" dan "kiai". Namun, dalam tulisan ini, saya ubah agar lebih mudah dipahami. Karena "ulama" dalam bahasa Indonesia memiliki makna yang begitu sempit, yakni "orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam". 

Makna "kiai" sendiri adalah "alim ulama". Jadi ada kebingungan makna dalam ungkapan di atas jika tetap menggunakan "ulama" dan "kiai".

Sedangkan yang saya tangkap dari pesan KH Dahlan di atas adalah makna "ulama" secara bahasanya, yakni "orang yang berilmu". Maka, intelektual saya rasa tepat untuk menggantikan istilah "ulama" dalam ungkapan tersebut. 

Intelektual adalah orang berilmu yang senang dan fokus memperjuangkan keilmuannya. Dan, di sini dimensinya lebih luas, tidak hanya ilmu agama. Bisa ilmu sosial, politik, dsb.

Tentang siapa yang pantas menyandang gelar kiai-cum-intelektual dan intelektual-cum-kiai, mungkin kita butuh beberapa indikator untuk mengindentifikasinya. Tak begitu sulit sebenarnya. Salah satunya dengan melihat tokoh-tokoh yang sudah berkiprah dalam medan dakwah yang luas. 

Salah satu tokoh yang pantas kita sematkan gelar kiai-cum-intelektual adalah Prof Yunahar Ilyas atau yang biasa juga disapa Buya Yunahar. Wakil Ketua PP Muhammadyah dan ketua MUI Pusat ini, beberapa waktu lalu, pada 2 Januari 2020, telah mangkat. Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi generasi muda Muslim Indonesia, terkhusus warga dan pengurus Muhammadiyah. Mari kita berdoa yang terbaik untuk Buya.

Mengenang Sosok Buya Yunahar

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam prosesi pemakaman Buya Yunahar mengatakan, "generasi muda perlu mencontoh sosok Buya Yunahar Ilyas, ilmunya yang mendalam dan luas juga menyinari perilakunya sehari-hari." 

Pria kelahiran Sumatra Barat 22 September 1956 ini, ungkap Haedar, merupakan sosok ulama yang diterima berbagai kalangan, tidak hanya kalangan Muhammadiyah. Hal itu karena kedalaman keilmuannya tentang kajian agama Islam, terkhusus ilmu tafsir.

Pertama kali saya mengenal sosok Buya Yunahar adalah pada 2013 silam. Ketika itu saya mahasiswa semester tiga yang masih awam betul dalam mengenal tokoh-tokoh ulama Muhammadiyah. Ketika itu, saya mengikuti pesantren iktikaf Ramadhan di Ponpes Budi Mulia, Yogyakarta. Saya dan puluhan peserta lain sempat mendapat kuliah Ulumul Quran dari Buya.

Memang saya tak dekat dengan Buya Yunahar. Meski begitu, saya termasuk orang yang mengagumi sosok dan ketokohannya. Buya merupakan sosok intelektual yang hebat. Dibuktikan dengan karya-karya intelektualnya. 

Pun, kiprahnya sebagai pendakwah menandaskan bahwa beliau adalah sosok kiyai yang, seperti disebutkan Haedar Nashir, bisa diterima berbagai kalangan karena pandangan keislamannya yang lurus, dalam, dan mencerahkan. Lebih-lebih, dakwahnya selalu sejuk dan menyejukkan.

Sempat, jauh setelah pertemuan pertama di Ponpes Budi Mulia, saya mengikuti pengajiannya di kampus Uhamka, pada sekitar tahun 2014. Saat itu saya di masa-masa akhir perkuliahan. Saya pun saat itu masih aktif di IMM komisariat FKIP Uhamka. Mendengar ceramah Buya Yunahar bukan hanya membuka pikiran, tapi juga membuka wawasan dan menyejukkan hati.

Keistimewaan sang uswah

Saya rasa, kita sepakat bahwa Buya Yunahar Ilyas adalah sosok pemimpin persyarikatan yang patut diteladani, baik dari segi keulamaannya maupun perannya sebagai intelektual organik. Dia adalah uswatun hasanah bagi generasi muda Muslim secara luas.

Selain Buya Yunahar giat dalam mendakwahkan Islam dan aktif di MUI, beliau juga sosok yang santun dan berperilaku baik. Selain itu, karyanya juga tak bisa dianggap main-main. 

Beberapa bukunya antara lain Kuliah Akidah Islam (1992), Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Quran Klasik dan Kontemporer (1997), Tafsir Tematis Cakrawala Al-Quran (2003), Tipologi Manusia dalam Al-Quran (2007), dan masih banyak lagi. Karya tersebut menjadi sumbangan besar untuk peradaban Islam di bumi zamrud kathulistiwa tercinta. 

Keistimewaan Buya yang lain adalah Buya merupakan pencerita yang, dalam pandangan saya, amat baik dalam menyampaikan kisah. Ketika itu, saya mengikuti ceramah beliau dalam acara peluncuran Ensiklopedia Prof DR HAMKA di kampus FEB Uhamka, Jakarta Timur, pertengahan tahun lalu. Masih terekam jelas di ingatan saya bagaimana Buya Yunahar mengulas kehidupan Buya HAMKA kecil hingga menjadi ulama yang disegani.

Dalam kesempatan itu, saya terkesima mendengar Buya menyampaikan gambaran sosok Buya HAMKA dengan begitu penuh penghayatan. Bahkan, dalam suatu cerita, Buya sampai berlinang air mata mengenang ulama besar dari Sumatra Barat yang pernah dimiliki Muhammadiyah dan bangsa ini tersebut.

Meskipun beliau telah mangkat, jejak pemikirannya masih bisa kita jelajahi, baik lewat buku-bukunya maupun rekaman video ceramah dan kuliahnya di YouTube. Yang jelas, umat begitu kehilangan. Kini, kiai-cum-intelektual itu telah mangkat, kembali kepada Yang Memiliki. Selamat jalan, Buya.