Arsiparis
2 tahun lalu · 158 view · 3 menit baca · Cerpen 4272471463_7a9b3cd4e5_z.jpg
Foto: flickr.com

Ki Darsono

Bukit itu bagi warga desa kami adalah tempat terangker di desa kami. Di sekelilingnya dipenuhi pohon kajaran dan pohon mimba. Dan di tengah-tengah kerimbunan itulah terdapat satu buah kuburan yang sangat panjang. Kuburan itu tidak bernama hanya mempunyai sebuah penanda atau nisan.

Desaku adalah kampung nelayan di pesisir utara Lamongan. Sebuah wilayah yang kebanyakan warga kampungya lebih banyak mendengar kisah kisah zaman penyebaran Islam oleh wali songo.

Aku dan teman-temanku sering kali dilarang oleh orang tua kami supaya jangan dekat-dekat dengan bukit itu yang oleh orang tua kami disebut punden. Tempat kuburan itu memang seperti gundukan piramid maka disebut punden. “Jangan kau masuk ke punden kalau tidak ingin kau jadi santapan banaspati!” hardik orang tuaku ketika mengetahui aku dan teman teman punya rencana mengejar layang-layang di sekitar punden.

Karena letak punden itu di barat daya desa kami, maka seringkali ia menjadi tempat berlabuhnya layang-layang putus ketika angin sedang mengarah ke barat daya. Biasanya, sehabis zuhur, angin di desaku akan berubah arah menuju barat daya setelah sebelumnya pada waktu pagi hari menuju ke laut. Pada saat itulah keramaian berebut layang layang putus terjadi sering kali sampai lupa waktu.

Pernah suatu kali aku tanyakan kepada kakekku perihal kuburan yang ada di punden tersebut.

“Mbah kenapa kuburan itu kok disebut punden,” tanyaku.

“Kuburan itu ada sejak mbah masih  kecil. Dan sejak dulu pun tidak ada yang tahu. Hanya ada sebagian yang meyakini kuburan tersebut adalah kuburan Ki Darsono. Tokoh yang dianggap sakti laksana wali di desa kami walaupun keberadaan kuburannya tidak ada yang mengetahui. Namun ada juga yang menganggap itu adalah kuburan Cina karena dulu sebelah utara desa kami adalah tempat berlabuh pasukan tartar ketika hendak menyerang singasari,“ jelasnya.

Sebelum kiai Hambal mendirikan pondok pesantren di desa kami, bukit sentono, sering dijadikan tempat pemberian sesaji bagi warga sekitar desa kami. Ayahku sering mengatakan bahwa ketika masih muda dulu ia sering berebut sesaji yang berupa nasi tumpeng bersama teman-temannya ketika sedang istirahat mengejar layang-layang dan kebetulan ada tetangga desa kami yang kirim sesaji ke punden.

Namun kegiatan mengirim sesaji itu telah hilang semenjak kiai Hambal mengatakan itu sirik dan dilarang oleh agama Islam.

Mengenai Ki Darsono ini sebenarnya ada cerita yang cukup membuatku bangga sebagai warga desaku, bahwa sebenarnya Ki Darsono yang dianggap sebagai sesepuh pendiri desaku adalah murid Syeh Siti Jenar yang mengasingkan diri dari kekuasaan Demak yang penuh intrik kekuasaan. Ki Darsono adalah orang  yang telah menyebarkan agama islam di desaku.

Menurut sebagian cerita orang orang tua di desaku sebenarnya Ki Darsono adalah seorang penggembala sapi yang alim. Caranya menggembala sapi pun unik, yaitu di mana ia singgah ia akan membuatkan sumur untuk minum sapinya. Cerita tentang  dan sumur itu selalu menarik ketika aku didongengi kakek maupun nenekku. Sumur itu masih bisa dijumpai sampai sekarang dan jumlahnya sebanyak tujuh buah.

Namun, yang lebih meyakinkanku bahwa sumur itu adalah buatan orang alim adalah setiap kali sumur itu ditembok atau direhab maka temboknya pasti runtuh. Seolah-olah sumur itu tidak boleh dikuasai secara pribadi oleh warga desa kami. Airnya pun tidak pernah kering walaupun di musim kemarau.

Kalau muridnya seperti ini bagaimana dengan kemampuan gurunya? tanyaku seringkali ketika habis mandi di salah satu sumur peninggalan Ki Darsono. Kadang-kadang aku ragu apa benar Ki Darsono murid Syeh Siti Djenar yang katanya kafir oleh para Wali Songo tersebut. Mengapa warga desaku malah membabat habis setiap kepercayaan magis yang cenderung syirik kalau memang mereka merupakan keturunan murid Syeh Siti Jenar yaitu Ki Darsono.

Aku sendiri sering takjub dengan kondisi keagamaan warga desaku terutama mengenai jumlah masjid yang berada di desaku yang jumlahnya ada sembilan. Dalam hati aku sering membayangkan betapa besar jasa Ki Darsono dalam menyemaikan benih-benih keislaman di desaku. Dan aku rasa sebesar lautan di sebelah utara desaku.