Pengurus Masjid Istiqlal menghadirkan Qurasih Shihab selaku pengisi khutbah dalam rangakaian shalat Idul Fitri 1438 Hijriyah. Sebagai masjid termegah se-Asia Tenggara, sorotan nasional, bahkan dunia akan tertuju pada setiap kalimat yang disampaikan sang khatib.

Momentum perayaan Idul Fitri kali ini diharapkan dapat menjadi titik balik untuk meredakan gejolak pertikaian umat, menyegarkan pemahaman agama, dan yang terpenting menemukan kembali simpul-simpul penguat integritas bangsa.

Sebagaimana Masjid Istiqlal pernah menjadi saksi, saat terjadinya gerakan massa yang berlabel agama namun bersentuhan dengan intrik politik yang kasar dan liar. Saat dorongan massa dibalut agama, menjadi situasi yang sama sekali menunjukkan umat jauh dari kondisi yang dewasa dalam memahami perbedaan. Tentu, aksi massa tersebut tak lepas dari jumudnya pemahaman beragama sebagian umat.

Pesan Hikmah Ramadhan

Quraish Shihab mengawali ceramahnya dengan ucapan takbir dan diikuti dengan pesan hikmah Ramadhan yang seharusnya tersemat ke dalam relung hati setiap umat yang telah menjalani prosesi Ramadhan selama sebulan penuh:

“Dengan takbir dan tahmid, kita melepas Ramadhan yang insya Allah telah menempa hati, mengasuh jiwa, serta mengasah nalar.”

Mereka yang berhasil menjalani Ramadhan dengan baik akan menemukan hati mereka ditempa menjadi lebih tawadhu, membuang egoism. Jiwa-jiwa alumni madrasah Ramadhan selalu menampakkan kesejukan dan tak akan mudah terhasut kebencian. Nalar yang terasah selama Ramadhan tak mudah diserang propaganda, hasad, fitnah, dan bisika-bisikan iblis untuk memecah belah umat.

Beliau melanjutkan dengan kalimat:

“Semua kecil dan ringan selama kita bersama dengan Allah. Kita bersama sebagai umat Islam dan sebagai bangsa, kendati mazhab, agama atau pandangan politik kita berbeda … kita semua telah sepakat ber-Bhineka Tunggal Ika, dan menyadari bahwa Islam, bahkan agama-agama lainnya, tidak melarang kita berkelompok dan berbeda, yang dilarang-Nya adalah berkelompok dan berselisih.”

Pesan itu menekankan bahwa kelompok yang ada (suku, ras, agama, mazhab, golongan), memiliki posisi dan peran yang sama untuk menjaga semangat kebhinekaan. Perbedaan adalah sunnatullah, mengingkari perbedaan adalah bentuk penentangan yang nyata terhadap keMahaKuasaan Allah Swt.

Takbir untuk Mengikat Persatuan

Quraish Shihab juga menyinggung potensi perpecahan jika kita terus larut dalam konflik sektarian. Negeri Saba’ adalah contoh yang telah ditunjukkan oleh Allah tentang bagaimana sebuah negeri yang sejahtera, namun akhirnya harus terpecah dan tercabik-cabik, karena durhaka dengan menganiaya diri sendiri, menganiaya negeri mereka sendiri akibat larut dalam pertikaian.

Perpecahan yang nyata juga telah menimpa Uni Soviet dan Yugoslavia, negeri yang kuat namun harus menemui takdirnya hancur oleh pertikaian kelompok. Apa yang terjadi di negara-negara di Timur Tengah jika tak segera dikendalikan, maka kerusakan yang terjadi akan makin parah. Palestina dan Yaman, adalah dua negara mengalami kehancuran oleh dua negara aggressor (Israel dan Arab Saudi) yang seharusnya bisa dicegah jika negara-negara Timur Tengah bisa meredam ego untuk kemudian menemukan simpul pemersatu.

Menurut Quraish Shihab, Allah berpesan bahwa bila hari raya fitrah tiba, maka hendaklah kita bertakbir. Kalimat takbir merupakan satu prinsip lengkap menembus semua dimensi yang mengatur seluruh khazanah fundamental keimanan. Takbir adalah deklarasi peneguhan kualitas iman.

Takbir adalah representasi ‘suara’ keimanan, dianalogikannya serupa matahari sebagai pusat orbit. Dia adalah pusat orbit yang beredar, di sekelilingnya  sejumlah orbit unisentris serupa dengan matahari, yang di sekelilingnya beredar planet dan benda tata surya lainnya. Di sekeliling tauhid itu, juga beredar kesatuan-kesatuan yang tidak boleh berpisah atau memisahkan diri dari tauhid. Saat planet atau benda tata surya terpisah dari orbitnya, maka bencana kehancuran tak mungkin dihindari.

Karenanya, ketika kalimat tauhid terucapkan, perilaku pengucapnya pun harus menunjukkan sikap yang mengorbit, menyejukkan dan mencerahkan. Kalimat takbir tidak seharusnya, bahkan bertentangan dengan aksi menyerang pihak lain, tak mungkin takbir diteriakkan sambil memeluk bom, mustahil takbir digunakan untuk meneror.

Kesadaran Kesamaan dan Kesetaraan

Al-Quran melukiskan bahwa mempercayai ujaran iblis, mengakibatkan tanggalnya pakaian Adam dan Hawa (Q.S. Al-araf ayat 27). Quraish Shihab merujuk ayat tersebut untuk menyebutkan pentingnya peran pesatuan, adalah pakaian yang harus dirawat demi menjaga keutuhan bangsa. Pakaian adalah hiasan, pakaian juga menandai identitas dan melindungi manusia. Pakaian yang baik dikenakan serasi oleh pemakainya.

Dalam konsep bernegara yang plural, seharusnya friksi mayoritas dan minoritas tak terjadi lagi, karena keberagaman adalah identitas keserasian. Dengan memahami identitas bangsa dan simbol pakaian pemersatu, maka sebagai bangsa, kita seharusnya mampu merajut kembali sel-sel penguat eksistensi. Ketika eksistensi bangsa menguat, maka segala gangguan yang mengarah kepada perpecahan akan segera terdeteksi dan dapat dihindari.

Kesadaran sebagai bangsa adalah kesadaran tentang kesamaan dan kesataraan. Dalam wujud nyata, semua elemen bangsa terikat oleh pakaian persatuan dan identitas kebhinekaan. Seorang atau kelompok tak mungkin menyerang atau belaku tidak adil kepada kelompok lain, karena menyadari bahwa mereka adalah bagian yang tak terpisahkan sebagai bangsa. 

Akhirnya, selamat merayakan Idul Fitri untuk seluruh umat Islam di dunia, dan semoga tercipta kedamaian bagi seluruh penduduk bumi.