Kami lupa kapan terakhir kali kami berangkat salat ke masjid. Masjid di kampung kami sudah tak seteduh dahulu, entah siapa yang sudah menggendong setan masuk ke dalam masjid hingga suasananya menjadi sangat panas dan menakutkan. Atau justru kamilah yang pelan-pelan menjelma menjadi setan.

Terserah. Kalau memang begitu, tolong jangan salahkan kami.

Dahulu, kami memang gemar datang ke masjid, apalagi kalau bukan untuk membuang keluhan dan keruwetan hidup di hadapan Tuhan.

Itu dahulu dan kami rindu masjid teduh. Kami pikir sekarang Tuhan sudah tidak di sana sejak mereka yang khotbah di atas mimbar tampak sedang menjadi Tuhan di hadapan kami. Kami hanyalah orang-orang awam yang tak pernah tuntas memikirkan nasib perut kami masing-masing.

Kami hanya bisa diam.

Sudah lama kami memanggil mereka Kiai yang konon bisa menjadi panutan bagi kami. Walaupun sesungguhnya kami sangat bingung, bahkan takut. Kami bingung karena kami harus membenci saudara kami yang berbeda dengan kami.

Kami takut, orangtua kami tak pernah mengajari kami memaki dan membenci, orangtua kami hanya mengajari kami saling mendengarkan dan mencintai.

"Hai orang-orang beriman, satu-satunya jalan mendekatkan diri kepada Tuhan adalah dengan memperbanyak makan kangkung. Maka barang siapa yang tak suka kangkung adalah kafir dan kelak laknat akan menimpa mereka!" begitu kata Kiai ini di atas mimbar.

"Hai orang-orang beriman, ingatlah jalan meraih cinta Tuhan adalah dengan mencintai terong. Makanlah terong, cintai terong! Siapa pun yang membenci terong pasti akan celaka!" kata Kiai itu di hadapan kami.

Kami diam.

Suatu hari, Kiai ini sedang mengajar kami di sebuah majelis, lebih tepatnya sedang menakut-takuti kami dengan dalil-dalil yang sebenarnya justru membuat kami ingin lari. Kiai itu lewat di depan majelis sambil menekan-tekan keras suara klakson mobilnya berulang kali.

Lagi-lagi, kami diam. Dan tiba-tiba majlis kami berubah seperti kebun binatang.

Malam hari, suara petasan yang berulang kali meledak benar-benar membuat kami kaget. Oh Tuhan, suara petasan berasal dari teras rumah Kiai itu. Banyak anak-anak berkumpul di sana, mereka tertawa puas. Ternyata satu mangkuk bakso telah membuat mereka patuh.

Kiai itu kalap. Kemarahannya sudah mencapai puncak, tangan kanannya terus menuding anak-anak dengan tegas sambil menceracau banyak dalil. Kami tahu anak-anak patuh kepada siapa. Kami diam.

Hari ini, kami benar-benar sadar bahwa kami tidak boleh diam.

Dua saudara kami, Lek Siyem dan Lek Tongkol meninggal dunia setelah berhari-hari saling bertengkar. Lek Siyem sangat mencintai kangkung dan Lek Tongkol sangat mencintai terong. Mereka saling memaki, saling mencakar dan tiba-tiba pisau datang memenggal leher kedua wanita itu.

Kami terkejut, ternyata saudara kami, Lek Bawel yang membawa pisau waktu itu karena kecintaannya kepada daun kelor. Sekali lagi, tolong jangan salahkan kami. Jangan salahkan kami kalau besok kami datang ramai-ramai untuk membakar mimbar dan masjid di kampung kami.