Entah kenapa akhir-akhir ini khotbah dan ceramah yang biasanya diperdengarkan di masjid membuat banyak masyarakat merasa resah. Alih-alih masuk masjid untuk beribadah, tapi hati dan pikiran malah makin gundah. Para jamaah yang datang dengan niat tulus untuk salat Jumat harus kecewa, karena sang khotib berceramah penuh caci dan fitnah.

Islam yang dulunya diajarkan dengan ramah, kini penuh amarah. Ustaz dan kyai bersahaja digantikan oleh mereka yang berjanggut dan jidat hitam di kepala. Maulidan, yasinan, tahlilan, bidah, katanya.  Bedug, wayang, gamelan, haram, meskipun tak ada dalilnya.

Begitulah, rumah Tuhan yang indah nan megah telah dikuasai oleh orang yang merasa paling nyunnah, sehingga membuat orang yang ingin memasuki rumah-Nya merasa tidak nyaman dan kurang betah.

Ya benar, ternyata ceramah dan khutbah yang berisi ideologi Wahabi kini telah menyebar ke masjid perkantoran, hingga kompleks perumahan.

Jika dulu paham Wahabi-Salafi yang bersemayam dalam tubuh PKS itu gencar diajarkan dalam kelompok tarbiyah saja, kini mulai merambah ke masjid bahkan musala, baik di kota maupun di desa.  

Memang diakui, mereka lihai mempengaruhi pihak DKM masjid setempat, lalu kemudian secara perlahan mengambil alih masjid tersebut. Target mereka adalah menyebarkan ideologi  melalui khotbah, kultum, dan cermah saat pengajian harian, mingguan atau bulanan, bahkan saat kegiatan hari besar keagamaan.

Bagaimana cara kerja mereka?

Awalnya mereka melakukan pendekatan kepada pihak masjid, mulai dari menjadi muazin dan imam secara sukarela bahkan bersih-bersih masjid. Mereka bahkan sengaja mencari kontrakan yang dekat dengan masjid agar tiap saat bisa menjadi imam dan memberi kultum setelah salat.

Kultum itu berisi ideologi mereka, tentang khilafah islamiyah, menyesatkan kelompok Syiah, menyerang bahkan memfitnah ulama-ulama yang berseberangan paham dengan menuduhnya sebagai kelompok liberal.

Mereka juga sering membidahkan kultur budaya keislaman yang biasa dilakukan oleh NU, misalnya pembacaan barzanji, maulidan, tahlilan, dan ziarah kubur.

Kelompok radikal ini pula yang membuat fatwa sendiri dengan mengharamkan segala perangkat yang dulu digunakan oleh wali songo untuk mensyiarkan Islam, misalnya wayang, gamelan, bedug, dan sebagainya.

Dalam pengajian masyarakat, mereka juga seringkali menyinggung kebijakan pemerintah yang dianggap zalim dan berusaha meracuni para jamaah untuk melawan pemerintah.

Tema-tema saat pengajian pun biasanya yang sering dibahas adalah perjuangan rakyat Palestina dan Suriah, kekejaman Israel dan orang-orang Yahudi, gerakan untuk memboikot produk Amerika.

Mereka juga sangat memuji negara Saudi yang notabene adalah negara tumbuhnya paham Wahabi atau Presiden Turki, Erdogan, yang katanya anti Yahudi dan sangat memperjuangkan Islam.

Saat khotbah pun yang dibahas bukanlah masalah akhlak atau kebhinnekaan yang seharusnya perlu dibahas menjelang salat Jumat. Tema kejujuran misalnya, harusnya yang lebih penting untuk diingatkan karena mayoritas jamaah Jumat adalah mereka yang bekerja.

Atau jika masjid tersebut berada di perumahan, harusnya sang khotib membahas tema keberagaman, yang saat ini mulai terkikis, sehingga tidak ada clash di kehidupan bermasyarakat.

Belakangan ini, suasana menjelang pilkada yang sangat panas rupanya juga dimanfaatkan oleh kelompok radikal ini. Mereka memanfaatkan moment tersebut dengan menjejalkan ideologinya pada masyarakat dengan menyatakan untuk tidak memilih pemimpin non-Muslim.

Tak jarang sang ustaz blak-blakan berkampanye untuk melilih salah satu kandidat mereka. Ya, ustaz-ustaz ini memang sengaja menggunakan masjid sebagai sarana politik. Maka tak heran, Gus Mus pernah berkata: "Gusti Allah kok diajak kampanye?"

Tema-tema seperti ini jika dibiarkan, sedikit demi sedikit akan meracuni pemikiran para jamaah, apalagi mereka yang merasa pengetahuan agamanya kurang dan berusaha untuk belajar dari masjid, maka tak ayal pengetahuan yang didapat hanya dari satu sumber.

Akibatnya, pemahaman agama jamaah masjid sebatas apa yang diajarkan oleh si penceramah, dan buruknya pengaruh paham radikal semakin menguat.

Jika kita telusuri rekam pendidikan sang ustaz, mereka bukanlah orang yang benar-benar paham agama. Hanya berbekal hafalan beberapa ayat Quran dan hadis saja, mereka dengan percaya diri menyesatkan pemahaman di luar ideologi mereka.

Tak  jarang mereka memelintir ayat Quran dan hadis hanya dilihat dari terjemahnnya saja, tanpa membaca asbabun nuzul dan asbabul wurudnya.  

Kemampuan berceramah para ustaz abal-abal ini tidak dibekali oleh ilmu tafsir, ilmu nahwu dan saraf, dan ilmu balaghah, yang merupakan komponen yang harus dipelajari ketika seseorang ingin memahami Quran dengan benar.

Tak jarang, hanya berbekal informasi dari situs-situ Wahabi saja, mereka bahkan menyebar berita hoax saat pengajian. Maka bisa ditebak, jika ada suatu permasalahan seperti halnya kasus yang menimpa Ahok tentang penistaan agama, mereka tak langsung mencari kebenarannya melalui beragam tafsir Quran.

Para da’i kemaren sore ini lantas hanya membaca terjemahan tanpa membandingkannya dengan terjemahan dari bahasa lain, cepat menyalahkan, dan akhirnya yang paling gencar mengajak masyarakat untuk demo Islam. Tentu yang dimaksud adalah demo untuk Islam versi mereka, yaitu Wahabi atau PKS yang sarat dengan bau politik.

Demikian bahayanya gerakan Wahabi ini. Bahkan sesepuh NU, Kyai hasyim Muzadi pernah mengatakan: “Banyak masjid dan musala NU yang direbut mereka. Istilahnya, mereka tidak bisa membangun masjid sendiri, bisanya cuma merebut masjid milik orang lain. Ingin enaknya sendiri.” (Sumber: nu.or.id, 4 juni 2007).  

Hal ini tentu harus menjadi perhatian warga NU. Jika gerakan radikalisme tak mau tersebar luas, maka diperlukan peran aktif warga Nahdliyyin. Rebut kembali masjid dari tangan Wahabi/PKS.

Isi kembali masjid dengan kegiatan keagamaan dan sosial, seperti acara maulidan, sholawatan, pembacaan barzanji, dan lainnya. Para kiai yang biasanya hanya aktif di kompleks pesantrennya sendiri, maka saat ini harus lebih memperhatikan masjid di daerah sekitarnya, kalau perlu ikut menjadi bagian pengurusan DKM.

Oleh karena itu saya berharap sertifikat dai yang rencanya akan dikeluarkan oleh Kementerin Agama akan sangat efektif mengebiri ustaz atau dai berpaham radikal. Karena jika dibiarkan, ceramah provokatif itu akan merusak ketahanan bangsa dan bisa memunculkan embrio terorisme.

Memang, ada pihak yang sangat keras menolak upaya kemenag ini, sebab jika kebijakan ini terlaksana upaya wahabisasi di Indoenesia akan terkendala.

Dan saya sangat berharap pihak Kemenag tak terpengaruh oleh penolakan-penolakan tersebut, demi tercapainya keutuhan bangsa dan tegaknya Islam rahmatan lil-alamin.