Hari Minggu waktu setempat, 27 Oktober 2019, Presiden Amerika Serikat yang ke-45, Donald Trump, menggelar jumpa pers. Di hadapan juru kamera dan para pewarta, ia memberikan keterangan penting.

Belum sampai setengah menit, laki-laki 72 tahun itu cepat-cepat berujar dengan nada ucapan penuh bangga, "Abu Bakar al- Baghdadi is dead."

Beberapa kali Baghdadi memang sempat diberitakan tewas. Tapi itu hanya kabar burung. Kepastian akan meninggalnya Baghdadi itu baru datang 4 hari lalu. Pria tua berambut emas dengan wajah yang menjengkelkan itu sekali lagi mencoba untuk meyakinkan publik.

Tak main-main, kabar meninggalnya Baghdadi dimuat dalam Daily Mirror surat kabar asal Britania Raya, juga CNN yang menginformasikan jasad Baghdadi telah melewati test DNA dan biometrik.

Donald Trump adalah pembual kelas wahid. Kali ini semoga dia tak sedang bermain peran ala film Hollywood.

Dalam pidato panjangnya, ia bicara soal puja-puji atas keberhasilan pemerintahnya, yang ia anggap telah menang melawan terorisme. Bagaimana tidak, pencarian terhadap Abu Bakar al-Baghdadi yang digadang sebagai pendiri sekaligus pimpinan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) sudah lama dilakukan.

Dalam pidatonya secara terbuka, Trump mengungkapkan bahwa menangkap Baghdadi, baik dalam keadaan hidup atupun tak lagi bernyawa, adalah prioritas utama atas jaminan keamanan nasional di negara adikuasa itu. ISIS menurut Tump adalah organisasi teror yang paling bengis dan kejam seantero dunia.

***

Kita tahu, Amerika Serikat semenjak lama menyatakan perang terhadap yang mereka definisikan sebagai teroris. Dan yang menjengkelkan, kata teroris itu seakan hanya ditujukan untuk satu agama, Islam. Serta dengan mudah diidentifikasikan pada atribut fisik dan tampilan luar seseorang; bersurban, jenggot tebal, jidat hitam, celana cingkrang, dan lain sebagainya.

Abu Bakar Al-Baghdadi adalah penggambaran yang pas. Jauh sebelum itu, tokoh utama yang mungkin fiktif disematkan pada Osamah bin Laden.

Pertautan antara Islam sebagai agama, atau muslim sebagai personal dengan terorisme, hemat saya, adalah akal bulus Amerika Serikat. Mereka  amat bersungguh dalam mendistribusikan narasi-narasi itu.

Hasilnya luar biasa. Antar sesama manusia saling pandang curiga. Seorang muslim tidak lagi percaya diri mengeksperikan keyakinannya. Secara ringkas, saya ingin katakan pola komunikasi dan keberagamaan masyarakat bergeser bahkan berubah.

***

Banyak pengamat politik yang menyatakan ISIS adalah bentukan Amerika, demi kepentingan penguasaan sumber daya alam di Iraq. Selain itu, tampaknya agenda pemberantasan dan perang terhadap terorisme adalah upaya sistematik untuk menyudutkan umat Islam.

Terlepas dari pernyataan-pernyataan di atas, pertanyaan dasarnya, mengapa orang-orang macam Baghdadi memberontak dan menginginkan sebuah negara dengan konsep Khilafah Islamiyah tegak, apa sebabnya?

***

Diskursus mengenai Islam dan demokrasi belum kunjung menemui titik terang, setidaknya bagi mereka yang berpikir dua hal itu adalah entitas berbeda. Islam itu sistem, demokrasi adalah sistem yang lain.

Di balik upaya menawarkan demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang layak dipakai di era modern, harapan terciptanya masyarakat yang sejahtera tak kunjung tiba. Yang ada hanyalah fenomena makin besarnya kesenjangan sosial, ketidakpastian dalam hidup, serta tatanan sosial-masyarakat yang makin rusak. 

Kenyataan tersebut didapati pada negara-negara yang men-disclaimer  demokrasi sebagai sistem yang mereka anut. Dalam konteks inilah ISIS mengajukan tawaran untuk mengganti sistem yang mereka anggap akan mengubah semua yang buruk, hanya dalam waktu sekejab. Khilafah Islamiyah!!!

***

Jalan yang ditempuh ISIS tentu saja adalah memberontak. Pemberontakan atas dasar semangat agama itu timbul akibat kebijakan politik luar negeri Amerika, khususnya di kawasan Timur Tengah seperti yang tercermin dalam perang di Irak, perang Afghanistan, dan konflik antara Palestina-Israel yang dinilai mendeskriditkan umat Islam.

Secara psikologis, alam pikiran demikian dinilai wajar. Orang-orang yang hidup dalam batas susah mereka kemudian mengalami semacam kejenuhan dalam berdemokrasi. Sifat dasar manusia, bila sudah bosan dengan barang lama, maka ganti adalah solusi. Demokrasi dalam kerangka berpikir ISIS adalah barang lama itu.

Agaknya, bagi ISIS, sistem demokrasi tidak cukup mampu mengakomodir kepentingan 7 miliar manusia, khususnya umat Islam. Meski demikian, kita tak bisa melihat persoalan ini secara parsial. Di satu sisi, ISIS dengan segudang citra buruknya tak boleh disalahkan habis-habisan. Lain sisi, kekerasaan terhadap siapa pun dan atas nama apa pun tak bisa juga dibenarkan.

***

Lewat jalur laut, Abu Bakar al-Baghdadi telah berjumpa dengan tuhan. Mungkin saja, sekarang ia sedang bersama puluhan bidadari yang menggelayut manja di lengan sambil menertawai Trump dan berengseknya dunia dengan segala kefanaan di dalamnya.

Kita yang masih hidup, bersiaplah. Menanti drama apa lagi yang akan dipertontonkan. Akankah terorisme tetap menjadi dagangan laris, atau lapaknya justru ditutup oleh sang pemilik karena dirasa menu ini sudah basi. Kita lihat saja.