Khilafah saat ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Kehadirannya dinilai identik dengan unsur radikalisme dan terorisme.

ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) sebagai salah satu contohnya, adalah sekelompok umat Islam yang tengah berjuang mendirikan paham Khilafah dengan pendekatan kebencian, permusuhan dan kekerasan. Mereka tidak segan-segan akan menyerang, membunuh dan menghancurkan siapapun yang berbeda paham dengannya.

ISIS untuk selanjutnya bertekad memperluas paham Khilafahnya ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Menteri Kordinator Politik, Hukum dan Kemanan Luhut Binsar Panjaitan menuturkan, “Dari informasi intelijen, ada upaya untuk memasukkan paham Khilafah ke Indonesia.” (TEMPO.CO, 5 April 2016).

Kata Khilafah berasal dari Bahasa Arab, yang secara istilah mengandung arti, sistem kepemimpinan dalam Islam yang bertujuan untuk menegakkan syariat Islam.

Makna Khilafah ini senantiasa disandingkan dengan unsur politik, yang memiliki orientasi utama membentuk pemerintahan, meraih kekuasaan dan mendirikan Negara. Itulah mengapa dalam perkembangannya istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi, 1980:226).  

Di dalam sejarahnya, Khilafah mengalami transformasi konsep dan tujuan. Yang pada awalnya berorientasi pada nilai-nilai spiritual, lalu berubah menuju orientasi politik dengan pola pikir yang senantiasa berkutat pada teritori, wilayah dan kekuasaan.

Berdasarkan kesaksian sejarah, masa keemasan Khilafah Islam yang sejati hanya berjalan selama 30 tahun saja, yakni pada masa Khilafah Rasyidah atau yang dikenal sebagai Khilafah Nubuwwah (Sistem kepemimpinan yang melanjutkan misi kenabian Rasulullah saw).

Setelah masa keemasan tersebut, sistem Khilafah berubah drastis menjadi sistem Kerajaan yang lekat dengan realita perebutan dan mempertahankan kekuasaan. Beberapa dinasti silih berganti memegang tampuk kekuasaan sebagai Raja, yang kala itu disebut Khalifah. Namun setelah ribuan tahun, sistem ini berakhir tepatnya pada tanggal 3 Maret 1924, ketika Khilafah (Kerajaan) Ustmaniyah di Turki dibubarkan oleh Mustafa Kemal at-Taruk.

Kesadaran sebagian umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan saat ini, ditandai dengan upaya penegakan Khilafah. Mereka ingin kembali hidup dengan kemuliaan di bidang ekonomi, politik, budaya, sains, teknologi dan yang terpenting adalah terbebas dari ‘penjajahan’ serta dominasi negara-negara Barat.

Bahkan lebih dari itu, umat Islam dalam kubu ini, melalui Khilafah mereka bercita-cita untuk menguasai dunia, meskipun harus dengan cara-cara yang radikal. Cara inilah yang kemudian diperjuangkan oleh ISIS yang sejatinya bertolak belakang dengan karakter hakiki agama Islam yang cinta damai.

Sistem Khilafah dalam Islam sebetulnya tidaklah benar-benar runtuh, karena pada tahun 1908 Ahmadiyah telah berhasil mendirikannya.

Khilafah ini berdiri setelah sebelumnya diawali dengan kebangkitan seorang Reformer, yakni Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., yang atas dasar wahyu yang diterimanya, ia mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan oleh Rasulullah SAWBeliau hadir dengan misi untuk melanjutkan risalah Nabi Muhammad SAW. diakhir zaman ini yakni memenangkan agama Islam diatas semua agama.

Untuk menyempurnakan misinya, pada tanggal 23 Maret 1889, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., mendirikan Jamaah yang bernama Jama’ah Ahmadiyah. Nama Ahmadiyah diambil dari salah satu nama sifat Rasulullah SAW., yakni Ahmad, (HR. Bukhari 2354 dan Muslim 4896).

Nama Ahmad ini mengisyaratkan warna perjuangan Ahmadiyah yang bersifat humanis, lemah lembut, santun, simpatik, dan penuh kasih sayang dalam menyampaikan keluhuran akhlak Islam dan Rasulullah SAW. Sama sekali nihil dari tindakan yang mengandung unsur radikalisme dan terorisme.

Proses berdirinya Khilafah Ahmadiyah memiliki kesamaan dengan berdirinya Khilafah Rasyidah. Kesamaan tersebut di antaranya, sama-sama tegak di atas jalan kenabian atau Khilafatan ‘Ala Minhaajin Nubuwwah.

Khilafah ini sama-sama diawali dengan kebangkitan seorang utusan Allah. Kemudian, Sang Khalifah sama-sama dipilih melalui lembaga musyawarah. Dan yang paling penting, tujuan Khilafah ini sama-sama bercorak rohani bukan politis.

Khilafah ini tidak membutuhkan teritori, wilayah, kekuasaan dan Negara. Karena wilayahnya berada di hati manusia yang berada di seluruh dunia tanpa mengenal batas negara dan meliputi seluruh alam. 

Perjuangan Khilafah Ahmadiyah berfokus pada misi perbaikan akidah, ibadah dan akhlak manusia secara utuh. Memperjuangkan setiap hamba untuk dekat kepada Penciptanya, lalu berkhidmat terhadap sesama. Khilafah ini membangun persatuan umat Islam dalam satu Jamaah dan satu pemimpin untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Tentunya Khilafah ini akan kembali menghidupkan sistim ekonomi Islam yang pro keadilan melalui sistem pengorbanan harta, membangkitkan penguasaan ilmu pengetahuan, sains dan peradaban yang mulia sesuai akhlak Rasulullah saw.

Dalam rangka mencapai kedekatan dengan Sang Pencipta dan konsisten dalam membangun perdamian. Khilafah Ahmadiyah terus memperjuangkan agar kalam Ilahi dipahami oleh masyarakat dunia melalui penerjemahan Al-Quran ke dalam berbagai bahasa. Kemudian membangun ribuan bahkan ratusan ribu rumah Tuhan dan rumah perdamaian melalui pendirian masjid di seluruh dunia.

Khilafah ini bangkit dalam jihad mensejahterakan dan menyehatkan umat manusia melalui pendirian ribuan sekolah dan rumah sakit di berbagai pelosok negara. Mengirimkan guru-guru dan dokter-dokter sukarelawan keseluruh penjuru dunia, semata-mata untuk mengkhidmati nilai kemanusiaan dengan cinta dan kasih sayang.

Khilafah Ahmadiyah saat ini telah eksis di lebih 200 negara dunia. Hidup dengan damai dan terus berkontribusi membangun negara di mana pun berada. Hal ini terjadi karena Khilafah Ahmadiyah telah meninggalkan secara total konsep penyatuan antara agama (din) dan negara (daulah) semenjak awal berdirinya. Sehingga sampai kapan pun tidak akan pernah memiliki cita-cita dan upaya pendirian Negara Islam.

Di mana pun orang Ahmadiyah tinggal, dia akan taat pada hukum nasional negara tersebut bahkan dengan penuh tanggung-jawab ikut berjuang membangunnya. Beberapa nama menjadi bukti loyalitas para Ahmadi (sebutan untuk pengikut Ahmadiyah) terhadap negaranya masing-masing.

Sebut saja di Pakistan, kita kenal nama Sir Muhammad Zafrullah Khan yang menjadi Menteri Luar Negeri pertama Pakistan dan Professor Abdus-Salam, seorang Ilmuwan muslim pertama peraih Nobel di bidang Fisika.

Demikian pula di Indonesia muncul nama Olich Solichin juara Badminton Piala Thomas tahun 1958, Arif Rahman Hakim yang dikenal sebagai Pahlawan Ampera, dan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya WR. Supratman.

Perbedaan yang benar-benar nyata antara Khilafah ISIS dan Khilafah Ahmadiyah, akan menjadi bukti tentang ajaran mana yang sejalan dengan fitrah manusia dan yang sesuai dengan ajaran Islam. Serta mana pula yang tidak.