Saya baru-baru ini mulai menjauhkan diri dari kehidupan duniawi saya sebagai seorang pelajar yang selalu mengejar tujuan yang tidak pasti layaknya seorang penjelajah tersesat. Sebab apa yang dinamakan kehidupan duniawi belum tentu membawa seseorang kepada Tuhan dan keberadaan-Nya. 

Di faktor lain, saya juga mengalami fenomena krisis spiritualisme yang sangat akut dan serius. Sehingga, kehadiran Allah samar bahkan tidak terlihat sama sekali.

Walaupun saya beragama Islam, hati saya masih kering dan tidak puas terhadap pendalaman superfisial dari para ulama awam; mereka hanya membahas fiqih, tafsir, dan syariat ketimbang tasawuf, filsafat, dan penggunaan Al-Qur'an serta hadits sebagai landasan pemikiran juga penanaman manusia yang insan kamil.

Akhirnya, saya mendapatkan hidayah untuk belajar tasawuf guna menambah kekebalan jiwa-mental saya yang masih lemah akibat perkembangan zaman yang cenderung hedonis dan materialis. Saya membaca dan memahami ajaran tasawuf, mulai dari artikel kecil hingga buku bertopik tasawuf falsafi.

Di antara banyak tokoh sufi, ada satu tokoh sufi yang menarik perhatian saya. Beliau lekat dengan kontroversi karena teorinya tentang hakikat Tuhan yang radikal. Ya, siapa lagi jika bukan Ibn ‘Arabi dengan teorinya Wahdatul Wujud.

Riwayat Singkat Ibn ‘Arabi

Ibn ‘Arabi, dengan nama lengkap Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad ibn Al-‘Arabi Al-Thai Al-Tamimi merupakan seorang filsuf kelahiran Murcia, Spanyol pada 28 Juli 1165 M/17 Ramadhan 560 H dan meninggal di Damaskus, Suriah pada 22 Rabi al-Tsani 638/November 1240 M (usia 78 tahun). Beliau termasuk keturunan Arab yang saleh. Ayahnya dan ketiga pamannya dari jalur ibu merupakan seorang tokoh sufi yang termahsyur. Beliau menjadi sufi setelah bertemu dengan kedua guru sufi wanita di daerah Spanyol, yaitu Fatimah asal Cordoba dan Yasmin asal Murcia.

Ibn ‘Arabi sendiri digelari sebagai Muhy al-Din (Penghidup Agama) dan Syaikh al-Akbar (doktor Marximus/guru besar) karena pemikirannya yang luar biasa dalam bidang tasawuf (‘sufisme’ bagi julukan Barat). Selain itu, ia juga diberi gelar oleh Arberry sebagai “The greatest mystical genius of the Arab”.

Selama hidupnya, Ibn ‘Arabi menghasilkan tak kurang dari 700 karya tulis. Namun, yang tersisa hanya 400 karya termasuk karya monumentalnya berjudul Futuhat al-Makiyah dan Fushush al-Hikam. Karya terbesarnya, Futuhat al-Makiyah berisi 37 jilid, 560 bab, dan 18.500 halaman. Sementara yang lain, Fushush al-Hikam berisi 27 bab yang membahas mengenai akidah kebatinan asasi menurut Islam.

Mari kita menelaah teori Wahdatul Wujud yang kontroversional ini.

Pengertian Wahdatul Wujud

Dilansir dari Wikipedia, Wahdatul Wujud merupakan salah satu pemikiran agnostik yang tidak mengakui adanya keterpisahan antara Tuhan dan makhluk-Nya. Sebab semua hal yang ada di alam ini hanya merupakan ‘manifestasi’ dari sifat Tuhan sekaligus menunjukkan eksistensi Tuhan lewat keberadaan wujud apapun dari-Nya. Pemikiran ini sangat kontroversional dalam bidang metafisika, khususnya metafisika tasawuf.

Nama istilah ini diambil dari dua kata, yaitu wahdah (وحدة) berarti tunggal atau kesatuan, dan al-wujud (الوجود) berarti ada, eksistensi, atau keberadaan. Jika diterjemahkan secara harfiah, Wahdatul Wujud berarti “kesatuan eksistensi” atau—dengan istilah aslinya—tauhid wujûdi.

Konsep Wahdatul Wujud didasari oleh upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang kemudian “menyatu serta melebur” bersama maujud Tuhan. Namun pemikiran ini masih menimbulkan polemik pro dan kontra dari para ulama. Penyebabnya mungkin keterbatasan pemahaman masyarakat terhadap teori yang cenderung heterodoks dan abstrak ini.

Dalam pengertian tasawuf, Wahdatul Wujud berarti bahwa segala sesuatu—apapun itu—yang ada di seluruh alam ini sejatinya adalah ‘manifestasi’ dari sifat-sifat Allah. Allah menunjukkan eksistensi-Nya lewat wujud ciptaan-Nya, mulai dari alam material serta alam ghaib, tak terkecuali juga keburukan, hal negatif, dan lain-lain. 

Pemikiran ini sama dengan konsep manunggaling kawula-gusti dalam tradisi Jawa yang digagas oleh seorang sufi asal Persia/Iran yang menetap di daerah Jepara, Jawa Tengah, Syeikh Siti Jenar atau Raden Abdul Jalil. Perbedaannya, Wahdatul Wujud ini bermakna peleburan Tuhan dalam ciptaan-Nya. Sedangkan manunggaling kawula-gusti cenderung bermakna pencampuran antara Tuhan dengan ciptaan-Nya (ajaran panteisme).

Sejarah

Sebenarnya, pemikiran Wahdatul Wujud ini sudah ada sebelum Ibn ‘Arabi. Tokohnya antara lain Al-Hallaj, Imam Al-Ghazali, dan Ma’ruf Al-Karkhi.

Imam Al-Ghazali dalam sebuah karyanya menyebutkan tentang doktrin Wahdatul Wujud ini sebelum Ibn ‘Arabi, “…sesuatu yang maujud dengan sebenar-benarnya adalah Allah Swt, sebagaimana cahaya yang sebenar-benarnya adalah Allah Swt…tidak ada wujud kecuali Allah dan wajah-Nya, dengan itu pula, maka segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya secara azali dan abadi” — Imam Al-Ghazali

Seorang sufi yang hidup pada empat abad sebelum Ibn ‘Arabi, Ma’ruf Al-Karkhi adalah orang pertama yang mengucapkan syahadat “tiada sesuatupun dalam wujud kecuali Allah”.

Tokoh yang mempopulerkan teori ini adalah Ibn Taimiyah. Beliau menggunakan istilah Wahdatul Wujud untuk mengkritik doktrin dari Ibn ‘Arabi tentang “kesatuan eksistensi” ini. Walau begitu, istilah tersebut malah paling sering digunakan oleh kalangan kaum sufi itu sendiri dalam mengajar teori tersebut.

Perumpamaan

Untuk mengerti pemikiran gnostik dari Ibn ‘Arabi ini, saya punya perumpamaan yang membantu untuk menjelaskan konsep abstrak ini:

Saya ada angka 1. Bila angka itu menjadi 5, maka angka tersebut ya menjadi 5. Menjadi 10 ya menjadi 10. Dan seterusnya. Namun, segala bilangan yang dihasilkan tak lain hanyalah pelipatgandaan atau multiplisitas dari angka 1 itu sendiri. Pada hakikatnya, dasar semua bilangan tetap disusun dari angka 1, bukan angka lain. Mana mungkin bilangan tercipta tanpa adanya angka 1?

Contoh yang lain, huruf dengan tinta. Huruf tersebut terbentuk karena adanya goresan tinta. Lengkungannya, bentuknya, dan kalimatnya beragam. Namun, semua itu memiliki hakikat bahwa huruf tersebut sejatinya tinta yang digoreskan ke kertas.

Sudah paham ‘kan?

Kesimpulan

Saya mulai mengerti bahwa Wahdatul Wujud yang dicetuskan oleh seorang guru sufi, Ibn ‘Arabi, merupakan sebuah metode mendekatkan diri kepada Tuhan secara batiniyah-lebih lanjut selain shalat dan filsafat (serta amal). Allah Swt. tidak hanya muncul sebagai yang Tunggal, juga yang banyak. Namun, bukan berarti bahwa “Alam sama dengan Allah dan Allah sama dengan Alam”, seperti halnya ajaran panteisme. Melainkan sebuah ‘manifestasi’ dari percikan cahaya/rahmat-Nya sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.

Sungguh indahnya rahmat-Mu terpancarkan kepada karya-Mu bagi orang yang Engkau hendaki. Subhanallah!